Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 2435 tentang Kebiasaan Nabi banyak berpuasa sunnah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan kebiasaan puasa Nabi ﷺ pada bulan Sya'ban. Beliau berpuasa hampir sepanjang bulan Sya'ban, hanya meninggalkan sedikit hari saja. Bahkan dalam riwayat ini ditegaskan bahwa beliau berpuasa hampir seluruh bulan Sya'ban. Ini menunjukkan keutamaan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban sebagai persiapan menyambut Ramadhan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Puasa, Bab Bagaimana Nabi ﷺ Berpuasa, dari jalur Abu Hurairah رضي الله عنه.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan berpuasa dan persiapan menyambut Ramadhan:

QS. Al-Baqarah [2]: 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa."

QS. Al-Baqarah [2]: 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)."

Hadits terkait yang shahih dan menjadi dasar utama bab ini:

Dari Aisyah رضي الله عنها, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ، وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

"Rasulullah ﷺ berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dalam suatu bulan selain Sya'ban." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, dan Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif.

Penjelasan Rinci

Hadits Abu Dawud nomor 2435 ini merupakan penguat dan penjelas bagi hadits-hadits lain tentang puasa Nabi ﷺ di bulan Sya'ban. Perawi hadits ini adalah Abu Hurairah رضي الله عنه, dan di dalamnya terdapat tambahan redaksi: "Dia berpuasa kecuali sedikit, bahkan dia berpuasa seluruhnya."

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memperbanyak puasa di bulan Sya'ban melebihi bulan-bulan lainnya setelah Ramadhan. Beliau menyebutkan bahwa hikmahnya adalah karena Sya'ban adalah bulan yang sering dilupakan manusia, terletak antara Rajab dan Ramadhan, sehingga Nabi ﷺ ingin mengisi kelalaian tersebut dengan ibadah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan beberapa pendapat ulama tentang hikmah puasa Sya'ban:

  1. Sya'ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah, dan Nabi ﷺ ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa.
  2. Sebagai persiapan dan latihan sebelum masuk Ramadhan, agar jiwa sudah terbiasa berpuasa.
  3. Sya'ban adalah bulan yang mulia karena di dalamnya terdapat malam Nisfu Sya'ban (pertengahan Sya'ban).

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menambahkan bahwa puasa Sya'ban memiliki keutamaan tersendiri, dan beliau mengutip perkataan Al-Hasan al-Bashri bahwa puasa Sya'ban adalah bentuk pengagungan terhadap bulan Ramadhan, sebagaimana seseorang berpuasa sunnah sebelum puasa wajib.

Adapun redaksi "bahkan dia berpuasa seluruhnya" dalam riwayat ini, para ulama menjelaskan bahwa ini bukan berarti Nabi ﷺ berpuasa sebulan penuh tanpa berbuka sama sekali. Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa maksudnya adalah beliau berpuasa hampir seluruh hari di bulan Sya'ban, dan hanya meninggalkan beberapa hari saja. Ini dikuatkan oleh hadits Aisyah رضي الله عنها yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa puasa Nabi ﷺ di bulan Sya'ban lebih banyak daripada bulan-bulan lainnya, dan beliau menyebutkan bahwa Nabi ﷺ berpuasa Sya'ban secara keseluruhan atau hampir keseluruhan, kemudian beliau berhenti berpuasa beberapa hari sebelum Ramadhan untuk memisahkan antara puasa sunnah dan puasa wajib.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa memperbanyak puasa di bulan Sya'ban adalah sunnah yang dianjurkan, dan seorang muslim hendaknya mengikuti jejak Nabi ﷺ dalam hal ini, terutama bagi yang mampu dan tidak memberatkan dirinya.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya ketika menjelaskan ayat-ayat tentang puasa, beliau menekankan bahwa puasa sunnah adalah sarana untuk melatih diri dan meningkatkan ketakwaan, dan bulan Sya'ban adalah waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.

Story Telling

Diceritakan bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman (salah satu perawi hadits ini) pernah bertanya kepada Aisyah رضي الله عنها tentang puasa Nabi ﷺ. Aisyah menjawab dengan jawaban yang sangat detail, menunjukkan betapa beliau memperhatikan ibadah Nabi ﷺ dengan seksama. Aisyah berkata:

"Nabi ﷺ berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak akan berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak akan berpuasa. Dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dalam suatu bulan selain Sya'ban."

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat, khususnya Ummul Mukminin Aisyah, sangat memperhatikan dan meriwayatkan sunnah Nabi ﷺ dengan teliti. Mereka tidak hanya menyampaikan ibadah Nabi ﷺ, tetapi juga menjelaskan detail-detailnya agar umat Islam dapat mengikuti dengan benar. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil yang jelas tentang keutamaan puasa Sya'ban.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban — ini adalah sunnah yang dianjurkan dan dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ.
  2. Puasa Sya'ban sebagai persiapan Ramadhan — melatih diri agar tidak kaget ketika memasuki puasa wajib sebulan penuh.
  3. Tidak perlu berpuasa sebulan penuh — Nabi ﷺ berpuasa hampir seluruh Sya'ban, tetapi tidak menyempurnakannya, karena penyempurnaan puasa sebulan penuh hanya untuk Ramadhan.
  4. Ikhlaskan niat dan jaga kualitas ibadah — sebagaimana Nabi ﷺ mengisi bulan yang dilupakan manusia dengan ibadah, kita pun hendaknya mengisi waktu-waktu yang sering dilalaikan dengan amal saleh.
  5. Ikuti pemahaman para ulama — dalam beribadah, kita mengikuti pemahaman para ulama Ahlus Sunnah yang menjelaskan sunnah Nabi ﷺ dengan benar dan tidak berlebihan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?