Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan kemudahan dan kepraktisan yang diajarkan Nabi ﷺ dalam urusan bersuci, khususnya saat buang air kecil di malam hari. Beliau menyediakan wadah khusus di dekat tempat tidurnya agar tidak perlu keluar rumah atau kesulitan mencari tempat buang air dalam keadaan gelap. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memperhatikan kebutuhan manusia dan tidak memberatkan, serta mengajarkan adab menjaga kebersihan dengan menggunakan wadah tertutup untuk menampung kotoran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ حُكَيْمَةَ بِنْتِ أُمَيْمَةَ بِنْتِ رُقَيْقَةَ، عَنْ أُمِّهَا، أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ لِلنَّبِيِّ ﷺ قَدَحٌ مِنْ عَيْدَانٍ تَحْتَ سَرِيرِهِ يَبُولُ فِيهِ بِاللَّيْلِ
Terjemahan: "Umaymah binti Ruqayqah berkata: 'Nabi ﷺ memiliki sebuah wadah (qadah) dari kayu 'aidan di bawah tempat tidurnya, beliau gunakan untuk berkemih di malam hari.'"
Catatan: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Thaharah, Bab "Tentang seorang laki-laki yang berkemih di malam hari di dalam wadah kemudian meletakkannya di sampingnya" (no. 24). Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menilai hadits ini shahih dalam Shahih Abi Dawud.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
QS. Al-Ma'idah [5]: 6
فَإِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
"Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai ke kedua mata kaki."
Ayat ini menunjukkan perhatian Islam terhadap kebersihan dan kesucian, yang merupakan bagian dari adab buang air yang diajarkan Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah dari hadits ini:
1. Tentang wadah yang digunakan Nabi ﷺ
Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa "qadah" adalah wadah yang terbuat dari kayu, dan "aidan" adalah jenis kayu yang keras dan berkualitas baik. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menggunakan wadah yang bersih dan layak untuk menampung kotoran, bukan sembarang tempat. Ini mengajarkan kita untuk selalu menggunakan sarana yang baik dan bersih dalam urusan kebersihan.
2. Tentang hukum berkemih di dalam wadah
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang buang air kecil di dalam wadah, terutama jika ada kebutuhan seperti sakit, berada di tempat yang tidak memungkinkan keluar, atau untuk menghindari najis mengenai tubuh dan pakaian. Ini adalah bentuk rukhsah (keringanan) dalam syariat.
3. Tentang adab buang air di malam hari
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan perhatian Nabi ﷺ terhadap kemudahan dalam beribadah. Beliau menyiapkan wadah di dekatnya agar tidak kesulitan saat malam hari. Ini juga mengajarkan agar seseorang tidak menahan buang air kecil karena dapat membahayakan kesehatan, sebagaimana diisyaratkan oleh para ulama.
4. Tentang kebersihan
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menekankan bahwa Islam sangat memperhatikan kebersihan, termasuk dalam hal buang air. Menggunakan wadah tertutup dan segera membersihkannya adalah bagian dari menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
5. Tentang pemahaman terhadap hadits ini
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia yang paling sempurna dalam adab, termasuk dalam hal buang air. Tindakan beliau menggunakan wadah di malam hari adalah bentuk kemudahan yang diajarkan kepada umatnya, bukan perbuatan yang tercela.
Catatan penting: Hadits ini tidak menunjukkan bahwa buang air kecil sambil berdiri adalah sunnah, karena dalam hadits lain (riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah) dijelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah buang air kecil kecuali dalam keadaan jongkok. Yang menjadi pelajaran di sini adalah tentang penggunaan wadah dan kemudahan, bukan tentang posisi buang air.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya oleh seorang wanita, "Apakah benar Nabi ﷺ buang air kecil sambil berdiri?" Aisyah menjawab, "Jangan engkau percaya hal itu. Demi Allah, beliau tidak pernah buang air kecil kecuali dalam keadaan jongkok." (HR. An-Nasa'i, dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani)
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat dan istri Nabi ﷺ sangat memperhatikan detail kehidupan beliau, termasuk dalam hal yang dianggap sepele seperti buang air. Mereka menjaga dan menyampaikan sunnah-sunnah Nabi ﷺ dengan teliti. Ini mengajarkan kita untuk tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya, dan selalu merujuk pada ulama yang terpercaya.
Kesimpulan Praktis
- Boleh menggunakan wadah untuk buang air jika ada kebutuhan, seperti di malam hari atau saat sakit.
- Menjaga kebersihan adalah bagian dari iman dan harus diperhatikan dalam segala keadaan.
- Islam memberikan kemudahan dalam urusan bersuci, tidak memberatkan umatnya.
- Perhatikan detail sunnah dan jangan mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya.
- Gunakan sarana yang baik dan bersih dalam urusan kebersihan, sebagaimana Nabi ﷺ menggunakan wadah yang layak.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.