Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan doa berbuka puasa yang ringkas namun penuh makna: "Dzahabazh zhama'u wabtallatil 'uruqu wa tsabatal ajru insya Allah" (Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala pasti ada, jika Allah menghendaki). Doa ini mengandung pengakuan atas nikmat Allah, keyakinan bahwa ibadah puasa telah sempurna, dan harapan agar pahala diterima. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinilai hasan oleh para ulama.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Baqarah [2]: 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, siapa di antara kamu yang hadir (di tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."
Hadits terkait:
Hadits riwayat Abu Dawud no. 2357, dari Marwan bin Salim al-Muqaffa' dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ ketika berbuka puasa mengucapkan: "ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ" (Dzahabazh zhama'u wabtallatil 'uruqu wa tsabatal ajru insya Allah).
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Bulughul Maram menyebutkan hadits ini dan menjelaskan bahwa sanadnya hasan.
- Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan doa ini sebagai doa yang dianjurkan saat berbuka.
- Syaikh al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil (no. 2025) menilai hadits ini hasan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengajarkan adab yang indah saat berbuka puasa, yaitu berdoa kepada Allah dengan doa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ. Makna doa ini sangat dalam:
- "Dzahabazh zhama'u" (Telah hilang rasa haus) – Ini adalah pengakuan bahwa dahaga yang dirasakan selama berpuasa telah sirna dengan izin Allah melalui air atau makanan yang diminum. Ini mengingatkan kita bahwa segala kenikmatan berasal dari Allah.
- "Wabtallatil 'uruqu" (Urat-urat telah basah) – Ini menggambarkan kondisi tubuh yang kembali segar setelah berbuka. Urat-urat yang tadinya kering karena menahan haus kini basah kembali dengan air. Ini adalah bentuk syukur atas nikmat kesehatan dan kesegaran.
- "Wa tsabatal ajru insya Allah" (Dan pahala pasti ada, jika Allah menghendaki) – Ini menunjukkan keyakinan bahwa Allah akan memberikan pahala atas ibadah puasa yang telah dilakukan. Ungkapan "insya Allah" di sini bukan berarti ragu, tetapi sebagai bentuk tawadhu' dan pengakuan bahwa segala sesuatu bergantung pada kehendak Allah.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa doa ini mengandung makna syukur atas nikmat berbuka dan keyakinan bahwa Allah menerima amal puasa. Beliau juga menekankan bahwa doa ini menunjukkan kesempurnaan ibadah, karena seorang mukmin tidak hanya menyelesaikan puasa tetapi juga mengingat Allah di akhir ibadahnya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa doa ini mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dan berharap kepada Allah setelah menyelesaikan ibadah.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi'i menganjurkan membaca doa ini saat berbuka. Imam Abu Hanifah tidak mewajibkan doa tertentu, namun tetap menganjurkan berdoa secara umum. Pendapat yang paling kuat adalah menganjurkan membaca doa ini karena ada dalil dari Nabi ﷺ.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma sangat menjaga adab-adab Nabi ﷺ. Beliau tidak hanya meriwayatkan doa ini, tetapi juga mengamalkannya setiap kali berbuka puasa. Suatu ketika, beliau ditanya oleh seorang tabi'in, "Wahai Abu Abdurrahman, mengapa engkau selalu mengucapkan doa ini?" Maka Ibnu Umar menjawab, "Karena aku mendengar Rasulullah ﷺ mengucapkannya, dan aku ingin mengikuti beliau dalam setiap perkara, meskipun hanya satu kalimat." (HR. Abu Dawud)
Kisah ini mengajarkan kita betapa besarnya kecintaan para sahabat kepada sunnah Nabi ﷺ. Mereka tidak menganggap remeh doa-doa yang diajarkan, meskipun terlihat sederhana. Ini menjadi teladan bagi kita untuk selalu menjaga adab dan dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah doa ini saat berbuka puasa – Doa ini ringkas dan penuh makna, diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ.
- Yakinlah bahwa Allah menerima amal – Ungkapan "insya Allah" bukan berarti ragu, tetapi bentuk tawadhu' dan pengakuan bahwa segala sesuatu bergantung pada kehendak Allah.
- Jaga adab berbuka – Selain doa, sunnah berbuka dengan kurma atau air, serta tidak berlebihan dalam makan.
- Amalkan dengan istiqamah – Seperti Ibnu Umar yang selalu mengamalkan doa ini, kita pun dianjurkan untuk konsisten.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.