Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 2356 tentang Sunnah berbuka puasa dengan kurma atau air

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan sunnah Nabi ﷺ dalam berbuka puasa, yaitu mendahulukan berbuka sebelum shalat Maghrib dengan kurma segar (ruthab), lalu kurma kering (tamar), dan jika tidak ada, dengan beberapa teguk air. Ini adalah petunjuk praktis yang agung dari Nabi ﷺ agar seorang muslim segera berbuka ketika masuk waktu Maghrib, dan memilih makanan yang manis serta mudah dicerna untuk mengembalikan energi tubuh setelah seharian berpuasa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Puasa, Bab Apa yang Membatalkan Puasa, no. 2356, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ahmad, dan dinilai shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.

Teks hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Maknanya: "Rasulullah ﷺ biasa berbuka puasa dengan beberapa kurma segar sebelum shalat (Maghrib). Jika tidak ada kurma segar, beliau berbuka dengan beberapa kurma kering. Jika tidak ada kurma kering, beliau meneguk beberapa teguk air."

Ayat Al-Qur'an yang relevan dengan anjuran menyegerakan berbuka dan tidak berlebihan dalam makan:

QS. Al-Baqarah [2]: 187

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

"Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam."

Ayat ini menunjukkan bahwa waktu berbuka adalah ketika malam tiba, dan Nabi ﷺ mengajarkan untuk menyegerakannya, bukan menundanya.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Anjuran menyegerakan berbuka

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa menyegerakan berbuka adalah sunnah yang ditekankan. Beliau menukil perkataan para ulama salaf bahwa termasuk petunjuk Nabi ﷺ adalah menyegerakan berbuka ketika matahari telah terbenam, dan mengakhirkan sahur. Ini berbeda dengan kebiasaan Ahlul Kitab yang mengakhirkan berbuka.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hikmah menyegerakan berbuka adalah untuk menghormati perintah Allah, karena Allah berfirman "kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam" — artinya ketika malam telah tiba, puasa telah selesai dan tidak ada alasan untuk menunda berbuka.

2. Urutan berbuka: ruthab (kurma segar), tamar (kurma kering), lalu air

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan hikmah yang sangat mendalam tentang urutan ini. Beliau berkata bahwa kurma segar (ruthab) lebih cepat dicerna dan lebih lembut bagi lambung yang kosong setelah seharian berpuasa. Jika tidak ada, kurma kering (tamar) adalah pilihan berikutnya karena lebih mengenyangkan dan mengandung gula alami yang baik. Jika tidak ada keduanya, air adalah yang paling mudah dan cepat mengembalikan hidrasi tubuh.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya juga menjelaskan bahwa makanan yang manis seperti kurma adalah yang paling cocok untuk berbuka karena tubuh setelah berpuasa membutuhkan energi cepat, dan gula alami dari kurma adalah sumber energi terbaik.

3. Berbuka sebelum shalat Maghrib

Dalam hadits ini disebutkan bahwa Nabi ﷺ berbuka sebelum shalat. Ini menunjukkan bahwa berbuka didahulukan daripada shalat Maghrib, walaupun waktunya sempit. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hikmahnya adalah agar hati tenang dan khusyuk dalam shalat, tidak terganggu oleh rasa lapar yang sangat. Ini adalah kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya.

4. Tidak berlebihan dalam berbuka

Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Syarh Bulugh al-Maram menekankan bahwa hadits ini juga mengajarkan kesederhanaan. Nabi ﷺ berbuka dengan beberapa butir kurma atau beberapa teguk air saja, bukan dengan makanan yang berlebihan. Ini adalah pelajaran agar seorang muslim tidak menjadikan momen berbuka sebagai ajang balas dendam makan, tetapi tetap menjaga adab dan kesederhanaan.

Story Telling

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menceritakan bahwa sebagian ulama salaf sangat memperhatikan sunnah menyegerakan berbuka ini. Beliau menyebutkan bahwa di antara mereka ada yang memerintahkan keluarganya untuk menyiapkan makanan berbuka sebelum matahari terbenam, sehingga begitu adzan Maghrib berkumandang, mereka langsung berbuka.

Diriwayatkan bahwa Sahabat Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu 'anhu pernah ditanya tentang menyegerakan berbuka, beliau menjawab: "Aku melihat Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya menyegerakan berbuka, dan tidak ada seorang pun yang menundanya." Ini menunjukkan bahwa menyegerakan berbuka adalah kebiasaan yang melekat pada generasi terbaik umat ini.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa ibadah puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dalam setiap detailnya, termasuk cara berbuka. Kesempurnaan ibadah terletak pada ittiba' (mengikuti) sunnah, bukan sekadar menjalankan ritual.

Kesimpulan Praktis

  1. Segera berbuka ketika masuk waktu Maghrib, jangan ditunda-tunda.
  2. Dahulukan berbuka sebelum shalat Maghrib, walaupun hanya dengan seteguk air.
  3. Urutan berbuka yang dianjurkan: kurma segar (ruthab), lalu kurma kering (tamar), lalu air. Jika ada kurma, gunakan yang ganjil jumlahnya (1, 3, 5, dst) berdasarkan hadits-hadits lain.
  4. Jangan berlebihan dalam berbuka; cukup yang meringankan tubuh, bukan memberatkannya.
  5. Niatkan berbuka sebagai ibadah dengan mengikuti sunnah Nabi ﷺ, bukan sekadar melepas lapar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.