Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa salah satu sebab azab kubur adalah tidak menjaga diri dari percikan air kencing (tidak bersuci dengan benar setelah buang air kecil). Ini adalah peringatan keras agar kita berhati-hati dalam bersuci dari najis, karena kelalaian dalam perkara ini bisa menjerumuskan seseorang ke dalam azab kubur. Hadits ini juga mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesucian dalam Islam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Thaharah, Bab Menjaga Diri dari Air Kencing, nomor 21. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari jalur lain dengan lafaz yang lebih lengkap.
Berikut teks hadits dalam riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim yang lebih jelas:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
Artinya: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Nabi ﷺ melewati dua kuburan, lalu bersabda: 'Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Adapun salah satunya, ia tidak menjaga diri dari air kencingnya. Sedangkan yang lainnya, ia berjalan mengadu domba (menyebarkan fitnah).'" (HR. al-Bukhari no. 216, 1378; Muslim no. 292)
Ayat yang relevan tentang perintah menjaga kebersihan dan kesucian:
لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
"Janganlah engkau melaksanakan shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih berhak engkau melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersuci." (QS. At-Taubah [9]: 108)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran yang sangat penting tentang kesucian dan kebersihan dalam Islam. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa makna "لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ" (tidak menjaga diri dari air kencingnya) adalah ia tidak berhati-hati dari percikan air kencing yang mengenai tubuh atau pakaiannya, dan tidak membersihkan diri setelah buang air kecil.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa azab kubur bagi orang yang tidak menjaga diri dari air kencing adalah karena ia meremehkan kesucian, padahal shalatnya tidak sah jika tubuh atau pakaiannya terkena najis. Ini menunjukkan bahwa dosa tersebut dianggap besar karena menyebabkan ibadah utamanya (shalat) menjadi tidak sah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa menjaga diri dari najis adalah bagian dari kesempurnaan iman dan tanda ketakwaan. Orang yang meremehkan perkara ini berarti meremehkan perintah Allah untuk menjaga kebersihan dan kesucian.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya membersihkan diri dari najis, dan bahwa kelalaian dalam perkara ini bisa menyebabkan azab kubur. Beliau juga menegaskan bahwa yang dimaksud "bukan dosa besar" dalam hadits tersebut adalah menurut pandangan orang-orang Arab saat itu, namun pada hakikatnya meremehkan kesucian termasuk dosa besar karena menyebabkan shalat tidak sah.
Para ulama juga menjelaskan bahwa hadits ini tidak hanya berlaku untuk air kencing, tetapi juga semua najis lainnya. Seseorang wajib membersihkan diri dari semua najis sebelum melaksanakan shalat.
Story Telling
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikenal sangat berhati-hati dalam masalah kesucian. Diriwayatkan bahwa beliau selalu membawa botol kecil berisi air untuk bersuci ketika buang air kecil, dan beliau sangat teliti memastikan tidak ada percikan najis yang mengenai tubuh atau pakaiannya. Ketika ditanya mengapa begitu teliti, beliau menjawab bahwa hadits tentang azab kubur karena tidak menjaga diri dari air kencing membuatnya sangat berhati-hati dalam perkara ini.
Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf sangat memperhatikan perkara-perkara yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang, namun memiliki konsekuensi besar di akhirat.
Kesimpulan Praktis
- Wajib menjaga diri dari percikan air kencing dan najis lainnya ketika buang air kecil, baik dengan cara menjauhkan diri, duduk dengan benar, atau menggunakan tisu/air untuk membersihkan.
- Pastikan tubuh, pakaian, dan tempat shalat bersih dari najis sebelum melaksanakan shalat.
- Jangan meremehkan perkara kecil dalam ibadah, karena bisa berdampak besar di akhirat.
- Biasakan diri untuk selalu bersuci dengan sempurna, karena Allah mencintai orang-orang yang bersuci.
- Ajarkan kepada keluarga dan anak-anak tentang pentingnya menjaga kebersihan dari najis sejak dini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.