Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dua perkara penting: pertama, betapa besarnya dosa tidak menjaga diri dari percikan air kencing (najis), dan kedua, bahaya besar perbuatan mengadu domba (namimah) yang merusak hubungan antar sesama. Kedua hal ini dianggap remeh oleh sebagian orang, padahal bisa menjadi sebab azab kubur. Hadits ini juga menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ yang mendoakan keringanan siksa bagi ahli kubur.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Thaharah, Bab Menjaga Diri dari Air Kencing, no. 20. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka.
Berikut teks hadits dalam bahasa Arab (sebagaimana yang Anda cantumkan):
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، وَهَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، قَالاَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، قَالَ سَمِعْتُ مُجَاهِدًا، يُحَدِّثُ عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ " إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا هَذَا فَكَانَ لاَ يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا هَذَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ " . ثُمَّ دَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا وَقَالَ " لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا " . قَالَ هَنَّادٌ " يَسْتَتِرُ " . مَكَانَ " يَسْتَنْزِهُ " .
Makna ringkas: Nabi ﷺ melewati dua kuburan yang penghuninya sedang disiksa. Beliau menjelaskan sebabnya: yang satu tidak bersuci/ menjaga diri dari air kencing, dan yang lain suka mengadu domba. Beliau kemudian menancapkan pelepah kurma basah di atas kedua kubur itu agar diringankan siksa keduanya selama pelepah itu belum kering.
Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan larangan mengadu domba (namimah):
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ . هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
"Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menyebarkan berita bohong (namimah)." (QS. Al-Qalam [68]: 10-11)
Kaitan dengan ulama: Hadits ini dijelaskan oleh para ulama besar, di antaranya:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (kitab Thaharah, bab dalil wajibnya menjauhi air kencing).
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Wudhu', bab apa yang disebutkan tentang kubur).
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin dan kitab-kitab beliau tentang fiqih thaharah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Dosa Tidak Menjaga Diri dari Air Kencing
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud "laa yastanzihu minal baul" adalah tidak membersihkan diri dan tidak menjaga pakaian serta badan dari percikan air kencing. Ini adalah dosa besar karena najisnya air kencing itu nyata dan diketahui. Syaikh Al-Utsaimin juga menegaskan bahwa seorang mukmin wajib bersuci dari najis, baik air kencing maupun lainnya, karena shalat tidak sah kecuali dengan badan, pakaian, dan tempat yang suci.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil perkataan para ulama bahwa azab kubur bagi orang yang tidak menjaga diri dari air kencing adalah karena meremehkan kesucian, padahal kebersihan dari najis adalah syarat sahnya ibadah yang paling agung yaitu shalat.
2. Dosa Besar Namimah (Mengadu Domba)
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa namimah adalah memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka. Ini termasuk dosa besar. Beliau menukil ijma' (kesepakatan) ulama bahwa namimah adalah haram dan termasuk dosa besar yang pelakunya diancam azab kubur.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah menggandengkan namimah dengan sifat-sifat buruk lainnya seperti banyak bersumpah, suka mencela, dan menghalangi kebaikan. Ini menunjukkan bahwa namimah adalah akhlak yang sangat tercela dan merusak.
3. Hikmah Nabi ﷺ Menancapkan Pelepah Kurma
Para ulama berbeda pendapat tentang hikmah penancapan pelepah kurma basah ini:
- Pendapat pertama (diriwayatkan dari sebagian ulama salaf): Pelepah kurma itu bertasbih kepada Allah selama masih basah, sehingga tasbihnya menjadi sebab keringanan siksa. Ini adalah pendapat yang masyhur.
- Pendapat kedua (dipilih oleh Imam Al-Bukhari dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar): Hikmahnya adalah agar Nabi ﷺ mendoakan keringanan untuk keduanya selama pelepah itu basah. Jadi, yang memberi manfaat adalah doa Nabi ﷺ, bukan pelepahnya itu sendiri.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin cenderung kepada pendapat bahwa hal ini adalah kekhususan Nabi ﷺ, dan kita tidak disyariatkan untuk meniru perbuatan tersebut secara mutlak, karena tidak ada dalil yang memerintahkannya. Namun, mendoakan mayit adalah perkara yang disyariatkan.
4. Pelajaran tentang Azab Kubur
Hadits ini adalah dalil yang jelas tentang adanya azab kubur, sebagaimana dipahami oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama salaf menetapkan azab kubur berdasarkan nash-nash Al-Qur'an dan hadits yang shahih.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ melewati dua kuburan..." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat Al-Bukhari, setelah Nabi ﷺ menjelaskan sebab siksa keduanya, beliau meminta pelepah kurma basah, lalu membelahnya menjadi dua, menancapkan satu di masing-masing kubur. Para sahabat bertanya-tanya dalam hati tentang perbuatan beliau ini. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Semoga diringankan siksa keduanya selama pelepah ini belum kering."
Kisah ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi ﷺ, bahkan kepada orang yang sedang disiksa di kubur karena dosa-dosanya. Beliau tidak hanya menasihati orang yang masih hidup, tetapi juga berusaha meringankan penderitaan orang yang telah meninggal dengan cara yang Allah izinkan. Ini juga mengajarkan kita untuk tidak meremehkan dosa-dosa kecil yang kita anggap sepele, seperti tidak membersihkan percikan air kencing atau menyebarkan berita yang dapat merusak hubungan persaudaraan.
Kesimpulan Praktis
- Jaga kebersihan dari najis, terutama air kencing. Pastikan badan, pakaian, dan tempat shalat kita suci.
- Jauhi namimah (mengadu domba) dalam bentuk apa pun, baik langsung maupun melalui media sosial. Ini dosa besar yang merusak ukhuwah.
- Jangan meremehkan dosa kecil, karena bisa menjadi sebab azab kubur.
- Perbanyak doa untuk kaum muslimin yang telah meninggal, karena doa bermanfaat bagi mereka.
- Ambil pelajaran dari kisah ini untuk selalu muhasabah diri sebelum datang kematian.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.