Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu pernah membonceng di belakang Nabi ﷺ saat berangkat dari Arafah menuju Muzdalifah, dan keberangkatan itu dilakukan setelah matahari terbenam. Ini menjadi dalil bahwa jamaah haji tidak boleh bertolak dari Arafah sebelum matahari tenggelam, melainkan menunggu hingga terbenam, lalu berangkat dengan tenang dan penuh ketenangan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan wukuf dan berangkat dari Arafah:
QS. Al-Baqarah [2]: 198
فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ
Terjemahan: "Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram (Muzdalifah). Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu, dicatat oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Manasik, Bab Pengusiran dari Arafah (no. 1924). Sanadnya: Ahmad bin Hanbal → Ya'qub → ayahnya (Ibrahim bin Sa'd) → Ibnu Ishaq → Ibrahim bin 'Uqbah → Kuraib (maula Abdullah bin Abbas) → Usamah bin Zaid.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ahmad bin Hanbal — beliau adalah guru langsung dalam sanad hadits ini (sebagai perawi pertama yang mendengar dari Ya'qub). Imam Ahmad memahami hadits ini sebagai dalil bahwa berangkat dari Arafah dilakukan setelah matahari terbenam.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang berangkatnya Nabi ﷺ dari Arafah setelah matahari terbenam menunjukkan disyariatkannya menunggu hingga matahari tenggelam, dan ini merupakan ijma' (kesepakatan) para ulama bahwa wukuf di Arafah berlangsung hingga terbenamnya matahari.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa berangkat dari Arafah setelah matahari terbenam adalah sunnah yang disepakati, dan menyelisihi hal itu adalah keliru.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menceritakan secara rinci perjalanan haji Nabi ﷺ, termasuk berangkatnya beliau dari Arafah dalam keadaan tenang setelah matahari terbenam, sambil membaca talbiyah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini secara ringkas menggambarkan salah satu momen penting dalam manasik haji Nabi ﷺ, yaitu berangkatnya (daf'u) dari Arafah menuju Muzdalifah. Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ia membonceng di belakang Nabi ﷺ, dan ketika matahari terbenam, Rasulullah ﷺ berangkat.
Makna "dafa'a" (دَفَعَ):
Kata dafa'a dalam konteks haji berarti berangkat/bertolak dari Arafah menuju Muzdalifah. Ini bukan berangkat sebelum wukuf selesai, melainkan setelah sempurna wukuf hingga terbenamnya matahari.
Pemahaman ulama:
- Waktu berangkat dari Arafah: Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah — termasuk Imam Ahmad, Imam asy-Syafi'i, Imam Malik, dan Imam Abu Hanifah — sepakat bahwa jamaah haji tidak berangkat dari Arafah kecuali setelah matahari terbenam. Ini berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain, seperti hadits Jabir bin Abdullah yang panjang dalam Shahih Muslim tentang haji Nabi ﷺ, di mana beliau tetap di Arafah hingga matahari terbenam, lalu berangkat.
- Hikmah menunggu matahari terbenam:
- Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kehati-hatian agar wukuf benar-benar sempurna, karena wukuf adalah rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menambahkan bahwa Nabi ﷺ berangkat dengan tenang, tidak tergesa-gesa, dan beliau menghentikan talbiyah ketika sampai di Muzdalifah — ini menunjukkan adab dan ketenangan dalam beribadah.
- Ketenangan dalam berangkat:
Dalam riwayat lain yang shahih (seperti dalam Shahih Muslim dari Jabir), Nabi ﷺ berangkat dari Arafah dengan tenang sambil mengisyaratkan kepada orang-orang agar tenang. Beliau tidak memacu kendaraannya dengan cepat, tetapi berjalan dengan lembut. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah sunnah yang harus diikuti: berangkat dengan tenang, tidak saling mendahului, dan tidak menyakiti sesama jamaah.
- Kaitan dengan Muzdalifah:
Setelah berangkat dari Arafah, Nabi ﷺ menuju Muzdalifah, dan di sana beliau mengerjakan shalat Maghrib dan Isya secara jamak (digabung), lalu bermalam hingga Subuh. Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Baqarah [2]: 198 menjelaskan bahwa "Masy'aril Haram" adalah Muzdalifah, dan berzikir di sana adalah bagian dari manasik yang diajarkan Nabi ﷺ.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama fiqih membahas apakah berangkat dari Arafah sebelum matahari terbenam hukumnya haram atau makruh. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa menunggu hingga matahari terbenam adalah wajib, dan berangkat sebelum itu adalah menyelisihi sunnah Nabi ﷺ. Namun, jika seseorang berangkat sebelum matahari terbenam karena udzur (seperti sakit atau darurat), maka wukufnya tetap sah selama ia telah berada di Arafah pada waktu yang ditentukan.
Story Telling
Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat muda yang sangat dicintai Nabi ﷺ. Ia adalah anak dari Zaid bin Haritsah, sahabat yang namanya disebut dalam Al-Qur'an. Usamah pernah ditunjuk Nabi ﷺ sebagai panglima pasukan Romawi meskipun usianya masih muda, menunjukkan kepercayaan besar Nabi ﷺ kepadanya.
Dalam hadits ini, Usamah menceritakan pengalaman berharga membonceng di belakang Nabi ﷺ saat berangkat dari Arafah. Ini adalah momen yang penuh berkah, di mana ia bisa merasakan langsung bagaimana Nabi ﷺ berangkat dengan tenang, penuh kekhusyukan, dan mengikuti perintah Allah.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menceritakan bahwa Nabi ﷺ selama di Arafah terus berdoa, berzikir, dan menghadap kiblat hingga matahari terbenam. Ketika matahari tenggelam, beliau berangkat dengan tenang, membonceng Usamah di belakangnya, dan di sepanjang jalan beliau terus bertalbiyah hingga sampai di Muzdalifah. Ini mengajarkan kepada kita bahwa ibadah haji adalah perjalanan spiritual yang harus dijalani dengan sabar, tenang, dan penuh kesadaran akan kehadiran Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan berangkat dari Arafah sebelum matahari terbenam. Ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang harus diikuti oleh setiap jamaah haji.
- Berangkatlah dengan tenang dan penuh adab. Jangan tergesa-gesa, jangan menyakiti sesama jamaah, dan teruslah berzikir serta bertalbiyah.
- Ikuti manasik haji sesuai tuntunan Nabi ﷺ. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan Ibnu Qayyim, setiap gerakan dalam haji memiliki hikmah dan pelajaran.
- Jaga kekhusyukan dan kesabaran. Haji adalah ibadah yang penuh ujian, tetapi dengan mengikuti sunnah Nabi ﷺ, kita akan mendapatkan keberkahan dan pahala yang besar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.