Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1919 tentang Berdiri di Arafah mengikuti jejak Nabi Ibrahim

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah petunjuk penting dari Nabi ﷺ tentang tata cara wukuf di Arafah. Beliau mengajarkan bahwa jamaah haji tidak perlu memaksakan diri untuk berada tepat di dekat imam atau di tempat yang sangat ramai. Yang terpenting adalah tetap berada di dalam area Arafah dan berwukuf di sana, karena seluruh tanah Arafah adalah tempat wukuf yang sah, sebagaimana warisan ajaran Nabi Ibrahim 'alaihissalam.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud No. 1919:

Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan sesuai dengan yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 889) dan Imam An-Nasa'i (no. 3012) dengan redaksi yang serupa.

Kualitas Hadits:

Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1919) dan Shahih Sunan At-Tirmidzi (no. 889). Imam At-Tirmidzi sendiri mengatakan, "Hadits ini hasan shahih."

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

"Bukanlah suatu dosa bagimu untuk mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram. Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang sesat." (QS. Al-Baqarah [2]: 198)

Ayat ini menunjukkan bahwa bertolak dari Arafah adalah bagian dari rangkaian ibadah haji, dan seluruh area Arafah adalah tempat wukuf.

Penjelasan Rinci

1. Konteks Hadits

Yazid bin Syaiban menceritakan bahwa mereka berada di Arafah pada tempat yang cukup jauh dari posisi imam (yang saat itu memimpin wukuf). Kemudian datanglah Ibnu Mirba' Al-Anshari -seorang sahabat Nabi ﷺ- dan menyampaikan pesan Rasulullah ﷺ kepada mereka. Ini menunjukkan bahwa para sahabat yang berada di tempat yang jauh dari imam merasa khawatir apakah wukuf mereka sah atau tidak. Maka Nabi ﷺ menenangkan mereka melalui utusan tersebut.

2. Makna "قِفُوا عَلَى مَشَاعِرِكُمْ" (Berdirilah di tempat-tempat ibadah kalian)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa kata masya'ir (مشاعر) adalah bentuk jamak dari masy'ar (مشعر), yaitu tempat-tempat pelaksanaan syiar ibadah haji. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah seluruh area Arafah. Nabi ﷺ memerintahkan mereka untuk tetap berwukuf di tempat mereka berada, karena tempat itu termasuk bagian dari Arafah yang sah untuk wukuf.

3. Makna "فَإِنَّكُمْ عَلَى إِرْثٍ مِنْ إِرْثِ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ" (Karena kalian berada di atas warisan dari warisan bapak kalian Ibrahim)

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan bahwa tata cara wukuf di Arafah ini adalah warisan turun-temurun dari ajaran Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Beliau adalah orang yang pertama kali diperintahkan Allah untuk menyeru manusia berhaji dan mengajarkan manasik. Maka berdirinya jamaah haji di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah kelanjutan dari syariat Nabi Ibrahim yang diperbarui oleh Nabi Muhammad ﷺ.

4. Pelajaran Fiqih dari Hadits Ini

Para ulama dari kalangan madzhab yang tercantum dalam daftar rujukan menjelaskan beberapa pelajaran penting:

  • Seluruh area Arafah adalah tempat wukuf. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa wukuf sah di seluruh area Arafah, baik di dekat gunung maupun jauh darinya. Yang penting berada di dalam batas wilayah Arafah.
  • Tidak disyaratkan dekat dengan imam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Mumti' menjelaskan bahwa tidak ada dalil yang mewajibkan jamaah untuk berada dekat dengan imam saat wukuf. Yang wajib adalah berniat wukuf di Arafah, baik dekat maupun jauh dari imam.
  • Waktu wukuf yang utama. Para ulama sepakat bahwa waktu wukuf yang paling utama adalah setelah tergelincir matahari (waktu Dzuhur) pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Namun wukuf di siang hari sudah mencukupi, dan wukuf di malam hari juga sah menurut jumhur ulama.

5. Hikmah di Balik Hadits

Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif menyebutkan bahwa hadits ini mengajarkan kemudahan dalam beribadah. Allah tidak mempersulit hamba-Nya dengan mengharuskan berada di satu titik tertentu di Arafah. Ini berbeda dengan kebiasaan sebagian orang yang menganggap wukuf hanya sah jika berada di sekitar Jabal Rahmah. Padahal Nabi ﷺ sendiri wukuf di dekat bebatuan di kaki gunung, bukan di puncaknya, dan beliau bersabda, "Aku wukuf di sini, dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf." (HR. Muslim)

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ wukuf di Arafah pada Haji Wada', beliau berada di tempat yang sekarang dikenal dengan Jabal Rahmah. Beliau bersabda:

وَقَفْتُ هَاهُنَا وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

"Aku berwukuf di sini, dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf." (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah)

Kemudian beliau juga bersabda:

وَقَفْتُ هَاهُنَا وَجَمْعٌ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

"Aku berwukuf di sini (Muzdalifah), dan seluruh Muzdalifah adalah tempat wukuf." (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ ingin memberikan kemudahan kepada umatnya. Beliau tidak ingin umatnya bersusah payah memaksakan diri berada di satu titik tertentu, karena yang terpenting adalah kehadiran hati dan kekhusyukan dalam beribadah kepada Allah di tanah yang mulia ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Wukuf di Arafah adalah rukun haji yang tidak sah haji tanpanya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Haji itu adalah wukuf di Arafah." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)
  2. Seluruh area Arafah adalah sah untuk wukuf, baik dekat gunung maupun jauh darinya. Tidak perlu memaksakan diri ke tempat yang sangat ramai dan berdesakan.
  3. Yang terpenting adalah niat wukuf di dalam area Arafah pada waktunya, disertai dzikir, doa, dan tadharru' (merendahkan diri) kepada Allah.
  4. Jangan menyia-nyiakan waktu wukuf dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Perbanyaklah doa, karena Nabi ﷺ bersabda bahwa sebaik-baik doa adalah doa di hari Arafah.
  5. Amalkan sunnah dengan tenang dan khusyuk, jangan tergesa-gesa, dan jangan sampai menyakiti sesama jamaah karena berdesak-desakan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?