Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1866 tentang Kebiasaan Nabi masuk Makkah dari jalan tinggi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang tuntunan (sunnah) Nabi ﷺ dalam hal masuk dan keluar kota Makkah saat berhaji atau berumrah. Beliau ﷺ masuk dari arah bukit yang tinggi (tsaniyyah al-'ulya) yang dikenal dengan nama Kada', dan keluar dari arah bukit yang rendah (tsaniyyah as-sufla) yang dikenal dengan nama Kudha. Ini adalah bentuk kesempurnaan ibadah dan kecintaan Nabi ﷺ dalam mengikuti petunjuk Allah dalam setiap detail ibadah, termasuk arah masuk dan keluarnya kota suci.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Manasik Haji, Bab Masuk ke Makkah, nomor 1866. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih mereka, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Teks Hadits (sebagaimana dalam riwayat Abu Dawud):

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الْبَرْمَكِيُّ، حَدَّثَنَا مَعْنٌ، عَنْ مَالِكٍ، ح وَحَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، وَابْنُ، حَنْبَلٍ عَنْ يَحْيَى، ح وَحَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، جَمِيعًا عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَدْخُلُ مَكَّةَ مِنَ الثَّنِيَّةِ الْعُلْيَا - قَالاَ عَنْ يَحْيَى إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَدْخُلُ مَكَّةَ مِنْ كَدَاءَ مِنْ ثَنِيَّةِ الْبَطْحَاءِ - وَيَخْرُجُ مِنَ الثَّنِيَّةِ السُّفْلَى . زَادَ الْبَرْمَكِيُّ يَعْنِي ثَنِيَّتَىْ مَكَّةَ وَحَدِيثُ مُسَدَّدٍ أَتَمُّ .

Terjemahan: Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ biasa masuk Makkah dari bukit yang tinggi. Versi Yahya menyebutkan: Nabi ﷺ biasa masuk Makkah dari Kada' dari bukit Batha'. Beliau keluar dari bukit yang rendah. Al-Barmaki menambahkan, "yaitu dua bukit Makkah." Versi Musaddad lebih lengkap.

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh perilaku Nabi ﷺ, termasuk dalam urusan masuk dan keluar kota Makkah, adalah teladan yang baik bagi umatnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan salah satu bentuk kesempurnaan syariat Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk adab-adab dalam ibadah haji dan umrah.

1. Makna "Tsaniyyah" (الثنية)

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa tsaniyyah adalah jalan yang berada di atas gunung atau bukit yang tinggi. Ada dua tsaniyyah (dua jalan) di Makkah yang terkenal: tsaniyyah al-'ulya (jalan yang tinggi) dan tsaniyyah as-sufla (jalan yang rendah).

2. Nama Dua Jalan Tersebut

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa tsaniyyah al-'ulya (jalan atas) adalah jalan yang dikenal dengan nama Kada' (كَدَاء), dan tsaniyyah as-sufla (jalan bawah) adalah jalan yang dikenal dengan nama Kudha (كُدَى). Kedua jalan ini berada di arah timur laut kota Makkah, dekat dengan pemakaman Ma'la.

3. Hikmah Masuk dari Jalan Atas dan Keluar dari Jalan Bawah

Para ulama menyebutkan beberapa hikmah dari perbuatan Nabi ﷺ ini:

  • Mengikuti sunnah dalam setiap detail ibadah. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya memperhatikan sunnah Nabi ﷺ dalam seluruh aspek ibadahnya, bukan hanya yang bersifat ritual semata.
  • Menunjukkan keagungan kota Makkah. Masuk dari jalan yang lebih tinggi memungkinkan seseorang untuk melihat Ka'bah dan kota Makkah dari kejauhan, sehingga hatinya lebih siap dan khusyuk saat memasuki kota suci.
  • Memudahkan pergerakan. Secara geografis, masuk dari jalan atas dan keluar dari jalan bawah memudahkan perjalanan, karena tidak perlu menaiki tanjakan saat keluar.

4. Pendapat Ulama tentang Hukum Mengikuti Sunnah Ini

Imam Asy-Syafi'i dan para ulama madzhab berpendapat bahwa masuk dari tsaniyyah al-'ulya dan keluar dari tsaniyyah as-sufla adalah sunnah (dianjurkan), bukan kewajiban. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa jika seseorang masuk Makkah dari arah lain selain dua jalan tersebut, maka haji dan umrahnya tetap sah, namun ia kehilangan keutamaan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.

5. Pelajaran dari Perbedaan Riwayat

Dalam hadits ini terdapat beberapa periwayat yang menyebutkan redaksi berbeda. Imam Malik meriwayatkan secara umum, sementara Yahya bin Sa'id menambahkan nama jalan tersebut. Ini menunjukkan ketelitian para sahabat dan tabi'in dalam menjaga dan menyampaikan sunnah Nabi ﷺ dengan sangat detail.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma hendak masuk ke kota Makkah, beliau sangat memperhatikan sunnah ini. Beliau akan berhenti di tempat yang tinggi, memandang ke arah Ka'bah, kemudian berdoa dan bertakbir. Beliau juga akan masuk dari jalan yang sama dengan yang dilakukan Nabi ﷺ, yaitu dari tsaniyyah al-'ulya (Kada'), dan keluar dari tsaniyyah as-sufla (Kudha).

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Ibnu Umar berkata: "Nabi ﷺ masuk ke Makkah dari jalan yang tinggi (tsaniyyah al-'ulya) dan keluar dari jalan yang rendah (tsaniyyah as-sufla)." Ibnu Umar sendiri sangat menjaga untuk selalu meneladani hal ini dalam setiap perjalanannya ke Makkah, karena kecintaannya yang mendalam kepada Rasulullah ﷺ.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kecintaan kepada Nabi ﷺ bukan hanya dalam perkataan, tetapi juga dalam perbuatan. Ibnu Umar adalah salah satu sahabat yang paling bersemangat dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ, bahkan dalam hal-hal yang dianggap kecil oleh sebagian orang. Ini mengajarkan kita bahwa kesempurnaan iman seseorang terlihat dari kesungguhannya dalam mengikuti petunjuk Nabi ﷺ secara menyeluruh.

Kesimpulan Praktis

  1. Sunnah masuk Makkah dari jalan atas (Kada') dan keluar dari jalan bawah (Kudha) adalah tuntunan Nabi ﷺ yang dianjurkan untuk diikuti saat berhaji atau berumrah, jika memungkinkan.
  2. Hukumnya sunnah, bukan wajib. Jika seseorang masuk dari arah lain, ibadahnya tetap sah, namun ia kehilangan keutamaan mengikuti sunnah.
  3. Perhatikan detail ibadah. Islam mengajarkan kesempurnaan dalam beribadah, termasuk dalam hal arah masuk dan keluarnya kota suci. Ini menunjukkan bahwa agama ini sangat memperhatikan adab dan tata cara yang mulia.
  4. Teladani semangat sahabat. Seperti Ibnu Umar yang sangat antusias mengikuti sunnah Nabi ﷺ, kita pun hendaknya berusaha meneladani beliau dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam ibadah haji dan umrah.
  5. Niatkan karena Allah. Saat mengikuti sunnah ini, niatkan untuk menghidupkan sunnah Nabi ﷺ dan mengharap pahala dari Allah Ta'ala.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.