Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan, termasuk saat tidak dalam keadaan suci (berwudhu). Ini adalah dalil bahwa dzikir kepada Allah tidak terbatas pada kondisi suci, dan seorang muslim boleh berdzikir kapan saja, kecuali dalam keadaan tertentu seperti saat buang air besar/kecil atau saat junub (menurut sebagian ulama). Hadits ini mengajarkan kita untuk senantiasa mengingat Allah dalam setiap aktivitas.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-'Ala', telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Za'idah, dari ayahnya, dari Khalid bin Salamah -yaitu al-Fa'fa'- dari al-Bahiy, dari 'Urwah, dari 'Aisyah, ia berkata: "Rasulullah ﷺ biasa mengingat Allah 'Azza wa Jalla di setiap keadaannya." (HR. Abu Dawud, no. 18; juga diriwayatkan oleh Muslim, no. 373)
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
QS. Ali 'Imran [3]: 191
<p>ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ</p>
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring."
Penjelasan Ulama:
Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berdzikir dalam keadaan hadats kecil, kecuali saat buang air besar/kecil. Beliau juga menegaskan bahwa dzikir dalam hati tetap dianjurkan di semua keadaan.
Imam Ibn Hajar al-Asqalani (dalam Fath al-Bari) menambahkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa menyebut nama Allah (dzikir lisan) tidak terlarang bagi orang yang berhadats, berbeda dengan membaca Al-Qur'an yang memerlukan kesucian.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ, yang menyaksikan langsung keseharian beliau. Kata "عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ" (di setiap keadaannya) mencakup saat berdiri, duduk, berjalan, berbaring, bahkan saat beliau dalam keadaan hadats kecil (tidak berwudhu). Ini menunjukkan bahwa dzikir kepada Allah tidak terbatas pada kondisi suci.
Pendapat Ulama tentang Dzikir dalam Keadaan Tidak Suci:
- Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan dzikir lisan (seperti tasbih, tahmid, takbir) bagi orang yang berhadats kecil. Namun, untuk membaca Al-Qur'an, mereka mensyaratkan kesucian.
- Imam Abu Hanifah juga membolehkan dzikir dalam keadaan hadats, bahkan membaca Al-Qur'an tanpa menyentuh mushaf.
- Imam Malik membolehkan dzikir secara mutlak, kecuali saat buang air besar/kecil.
Pengecualian:
- Dzikir saat buang air besar/kecil: Ulama sepakat tidak dianjurkan karena tempatnya najis.
- Dzikir saat junub (setelah hubungan suami-istri atau mimpi basah): Sebagian ulama (seperti Imam Ahmad) membolehkan dzikir lisan, tetapi tidak membaca Al-Qur'an. Namun, Imam an-Nawawi dan Ibn Hajar menegaskan bahwa dzikir dalam hati tetap sah di semua keadaan.
Hikmah Hadits:
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa dzikir bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga cara hidup. Beliau selalu menghubungkan hatinya dengan Allah, sehingga setiap aktivitas menjadi bernilai ibadah. Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Ali 'Imran [3]: 191.
Story Telling
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa beliau pernah ditanya tentang amalan Nabi ﷺ di rumah. Beliau menjawab, "Rasulullah ﷺ selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya." (HR. Muslim)
Suatu hari, Imam Ahmad bin Hanbal ditanya oleh muridnya, "Wahai Imam, apakah boleh seseorang berdzikir saat sedang berjalan di pasar?" Imam Ahmad tersenyum dan menjawab, "Bukankah Rasulullah ﷺ berdzikir di setiap keadaannya? Maka pasar pun tidak boleh melalaikan kita dari mengingat Allah."
Kisah ini mengajarkan bahwa dzikir bukan hanya di masjid atau saat shalat, tetapi juga di tengah kesibukan dunia. Dengan dzikir, hati menjadi tenang dan hidup terasa ringan.
Kesimpulan Praktis
- Berdzikirlah kapan saja – saat bekerja, berjalan, atau istirahat, karena tidak ada larangan dzikir lisan bagi orang yang berhadats kecil.
- Jaga adab dzikir – hindari berdzikir di tempat najis seperti kamar mandi atau saat buang air.
- Biasakan dzikir harian – seperti membaca tasbih, tahmid, takbir, dan istighfar setiap hari.
- Jadikan dzikir sebagai gaya hidup – agar setiap aktivitas bernilai ibadah dan hati selalu terhubung dengan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.