Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1526 tentang Larangan mengeraskan suara takbir dan keutamaan kalimat hauqalah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua hal besar: pertama, adab berdoa dengan merendahkan suara dan menghadirkan keyakinan bahwa Allah Maha Dekat dan Maha Mendengar; kedua, keutamaan kalimat "لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ" (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah) yang disebut Nabi ﷺ sebagai salah satu harta karun dari surga. Kalimat ini adalah kunci untuk berserah diri kepada Allah dalam segala urusan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Witr, Bab Tentang Istighfar, nomor 1526. Juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya secara ringkas (hadits nomor 6384) dan Imam Muslim (hadits nomor 2704) dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan makna kedekatan Allah dan adab berdoa:

Allah Ta'ala berfirman:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ ۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Hadits terkait keutamaan kalimat la haula wala quwwata illa billah:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barangsiapa mengucapkan 'La haula wala quwwata illa billah', maka itu adalah salah satu harta karun dari surga." (HR. Al-Bukhari no. 6384, Muslim no. 2704)

Kaitan dengan ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna kalimat ini adalah pengakuan seorang hamba bahwa dirinya tidak memiliki daya untuk menolak keburukan dan tidak memiliki kekuatan untuk melakukan kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah Ta'ala. Ini adalah bentuk puncak ketundukan dan kepasrahan seorang hamba kepada Rabbnya.

Penjelasan Rinci

Pertama: Adab Berdoa dan Keyakinan akan Kedekatan Allah

Dalam hadits ini, ketika para sahabat mendekati Madinah, mereka bertakbir dengan suara keras. Nabi ﷺ meluruskan mereka dengan sabda: "Wahai manusia, sesungguhnya kalian tidak sedang memohon kepada yang tuli dan yang tidak hadir, tetapi sesungguhnya kalian memohon kepada Yang lebih dekat kepada kalian daripada leher unta kalian."

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya dalam keadaan apa pun, baik suara itu dikeraskan maupun dibisikkan. Bahkan Allah mendengar bisikan hati yang paling halus sekalipun. Maka seorang hamba hendaknya berdoa dengan penuh kekhusyukan, merendahkan suara, dan menghadirkan hati.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa doa yang paling utama adalah yang disertai dengan kehadiran hati, kerendahan diri, dan suara yang lembut. Ini sebagaimana firman Allah tentang Nabi Zakaria:

اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَاۤءً خَفِيًّا

"Yaitu ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut." (QS. Maryam [19]: 3)

Kedua: Keutamaan Kalimat "La Haula Wala Quwwata Illa Billah"

Nabi ﷺ menyebut kalimat ini sebagai "kanzun min kunuzil jannah" (harta karun dari surga). Mengapa disebut harta karun? Karena sebagaimana harta karun itu berharga dan tersembunyi, kalimat ini juga memiliki nilai yang sangat agung di sisi Allah, dan keutamaannya tersembunyi dari kebanyakan manusia.

Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Wabil ash-Shayyib menjelaskan makna kalimat ini secara mendalam:

  1. "La haula" (tidak ada daya) — pengakuan bahwa hamba tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan dirinya dari satu kondisi ke kondisi yang lebih baik.
  2. "Wala quwwata" (dan tidak ada kekuatan) — pengakuan bahwa hamba tidak memiliki kekuatan untuk melakukan kebaikan atau menolak keburukan.
  3. "Illa billah" (kecuali dengan Allah) — penetapan bahwa segala daya dan kekuatan itu seluruhnya milik Allah dan bersumber dari Allah semata.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa kalimat ini adalah obat bagi kegelisahan dan kesedihan. Ketika seorang hamba menyadari bahwa dirinya lemah dan tidak berdaya, lalu ia bersandar kepada Allah yang Maha Kuat, maka hatinya akan tenang dan jiwanya akan damai.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa kalimat ini juga menjadi sebab turunnya pertolongan Allah. Dalam perang, para sahabat mengucapkan kalimat ini dan Allah menurunkan ketenangan serta kemenangan.

Ketiga: Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Para ulama dari kalangan salaf sangat menjaga lisan mereka untuk memperbanyak kalimat ini. Imam al-Hasan al-Bashri berkata: "Barangsiapa yang diberi taufik untuk mengucapkan 'La haula wala quwwata illa billah' dengan keyakinan, maka Allah akan menghilangkan darinya berbagai kesulitan dan memberinya ketenangan dalam setiap urusan."

Kalimat ini diucapkan ketika:

  • Menghadapi kesulitan dan ujian
  • Merasa tidak mampu melakukan sesuatu yang berat
  • Keluar dari rumah (sebagian ulama menganjurkan)
  • Ketika mendengar adzan (sebagai jawaban pada kalimat "Hayya 'alash shalah" dan "Hayya 'alal falah")

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu — yang merupakan perawi hadits ini — bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: "Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu harta karun dari surga?" Abu Musa menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Maka beliau bersabda: "La haula wala quwwata illa billah."

Dalam riwayat lain dari Abu Musa, ia berkata: "Kami tidak pernah berjalan di malam hari dalam suatu perjalanan, melainkan kami mengucapkan kalimat ini, dan kami merasakan ketenangan serta kemudahan dalam perjalanan kami."

Kisah ini menunjukkan bahwa kalimat yang singkat ini memiliki keberkahan yang besar. Para sahabat menjadikannya sebagai wirid dalam perjalanan mereka, dan mereka merasakan dampaknya secara nyata dalam kehidupan mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyaklah mengucapkan "La haula wala quwwata illa billah" dalam keseharian, karena ia adalah harta karun surga yang mudah diucapkan namun agung di sisi Allah.
  2. Perbaiki adab berdoa — jangan berlebihan dalam mengeraskan suara, tetapi berdoalah dengan khusyuk, merendahkan diri, dan yakin bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat.
  3. Hadirkan hati saat berdoa — karena Allah mendengar bisikan yang paling halus sekalipun, maka yang terpenting adalah kehadiran hati dan keyakinan yang kuat.
  4. Gunakan kalimat ini saat menghadapi kesulitan — karena ia adalah kunci pertolongan Allah dan penenang hati yang gelisah.
  5. Ajarkan kalimat ini kepada keluarga — sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkannya kepada Abu Musa, kita pun hendaknya mengajarkannya kepada orang-orang terdekat kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?