Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1521 tentang Istighfar setelah wudhu dan shalat dua rakaat menghapus dosa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan pintu taubat yang sangat mudah: siapa saja yang berdosa, lalu ia berwudhu dengan sempurna, shalat dua rakaat, kemudian beristighfar memohon ampun kepada Allah, maka Allah akan mengampuninya. Ini adalah bentuk rahmat Allah yang luas, dan menjadi dalil disyariatkannya shalat dua rakaat sebelum beristighfar. Ali bin Abi Thalib meriwayatkannya dari Abu Bakr ash-Shiddiq dengan penuh kehati-hatian dalam menerima berita.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ setelah menyebut hadits ini, yaitu QS. Ali 'Imran [3]: 135:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Terjemahan: "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui."

Hadits terkait: Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Witir, Bab Istighfar, no. 1521. Perawi: Asma' bin al-Hakam al-Fazari dari Ali bin Abi Thalib dari Abu Bakr ash-Shiddiq رضي الله عنهم. Hadits ini juga diriwayatkan at-Tirmidzi dan dihasankan sebagian ulama; al-Albani menghasankannya dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

Penjelasan Rinci

Pertama: Kehati-hatian Ali dalam menerima hadits. Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa jika beliau mendengar langsung dari Nabi ﷺ, beliau langsung mengambil manfaatnya. Namun jika seorang sahabat menyampaikan hadits, beliau meminta sumpah terlebih dahulu, lalu membenarkannya. Ini menunjukkan adab salaf dalam menjaga keakuratan riwayat. Ketika Abu Bakr ash-Shiddiq menyampaikan hadits ini, Ali langsung menerimanya tanpa ragu, karena kedudukan Abu Bakr yang dikenal jujur dan dekat dengan Nabi ﷺ.

Kedua: Makna "berbuat dosa". Menurut Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. Ali 'Imran [3]: 135, "fahisyah" mencakup dosa besar, dan "zhalama anfusahum" mencakup dosa kecil. Jadi hadits ini berlaku umum untuk semua jenis dosa, selama hamba itu benar-benar bertaubat.

Ketiga: Urutan amalan dalam hadits. Nabi ﷺ menyebutkan empat langkah:

  1. Berbuat dosa — ini adalah kenyataan manusia, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain bahwa semua anak Adam bersalah.
  2. Menyempurnakan wudhu — menurut an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, maknanya adalah menunaikan wudhu dengan sempurna, menepati sunnah-sunnahnya, dan tidak mengurangi hak-haknya.
  3. Shalat dua rakaat — Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa shalat ini termasuk shalat taubat yang disyariatkan. Sebagian ulama menyebutnya sebagai bagian dari "shalat al-tawbah".
  4. Beristighfar — memohon ampun kepada Allah dengan lisan yang tulus.

Keempat: Janji ampunan. Nabi ﷺ bersabda "إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ" (kecuali Allah mengampuninya). Menurut Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif, ini adalah janji yang pasti dari Allah bagi hamba yang memenuhi syarat-syarat tersebut dengan ikhlas. Namun para ulama menegaskan bahwa ampunan ini terkait dengan syarat taubat yang sahih: menyesal, meninggalkan dosa, dan bertekad tidak mengulangi. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa istighfar yang disertai shalat dan wudhu adalah bentuk taubat yang sempurna, karena menggabungkan amal hati, lisan, dan anggota badan.

Kelima: Pembacaan ayat oleh Nabi ﷺ. Setelah menyebut hadits, Nabi ﷺ membaca QS. Ali 'Imran [3]: 135. Ini menunjukkan bahwa ayat tersebut adalah landasan langsung dari janji ampunan dalam hadits. As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan ciri orang bertakwa: mereka tidak terus-menerus dalam dosa, tetapi segera mengingat Allah dan beristighfar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq رضي الله عنه adalah sahabat yang paling dekat dan paling dipercaya oleh Nabi ﷺ. Ketika beliau menyampaikan hadits ini kepada Ali, Ali langsung menerimanya tanpa meminta sumpah, karena kejujuran Abu Bakr sudah tidak diragukan lagi. Ini mengajarkan kepada kita bahwa kejujuran dan amanah adalah sifat yang membuat seseorang dipercaya dalam menyampaikan ilmu. Abdullah bin al-Mubarak pernah berkata bahwa ilmu itu adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian. Kisah ini menunjukkan betapa para salaf sangat menjaga sanad dan kejujuran perawi.

Kesimpulan Praktis

  1. Segera bertaubat setelah berbuat dosa — jangan menunda, karena Allah membuka pintu ampunan bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya.
  2. Sempurnakan wudhu — perhatikan rukun, sunnah, dan adab-adabnya.
  3. Shalat dua rakaat — jadikan sebagai kebiasaan setelah berbuat dosa, dengan niat shalat taubat.
  4. Beristighfar dengan tulus — ucapkan dengan hati yang menyesal, bukan hanya di lisan.
  5. Jangan berputus asa — sebagaimana firman Allah, "Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?"

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?