Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1515 tentang Anjuran istighfar seratus kali sehari

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan istighfar dalam kehidupan seorang muslim. Meskipun Nabi ﷺ sudah dijamin ampunannya, beliau tetap beristighfar seratus kali sehari karena hati beliau pun bisa "tertutup" oleh kelalaian. Maka umat beliau jauh lebih pantas untuk memperbanyak istighfar setiap hari.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Witir, Bab Istighfar, dari sahabat Al-Agharr Al-Muzani radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

Terjemahan: "Sesungguhnya hatiku sering diselimuti (oleh kelalaian), dan sungguh aku meminta ampun kepada Allah seratus kali dalam sehari."

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Al-Agharr bin Yasar Al-Muzani, dengan lafaz yang semakna, dan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya.

Ayat yang mendukung keutamaan istighfar:

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ

QS. An-Nisa' [4]: 27 — "Dan Allah hendak menerima taubatmu."

Juga firman Allah:

فَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

QS. Al-Baqarah [2]: 199 — "Maka mintalah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Penjelasan Rinci

Makna "Yughanu 'ala Qalbi"

Para ulama berbeda dalam memahami kalimat "layughānu 'alā qalbī". Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan beberapa makna: (1) hati beliau tertutup sesaat dari sebagian dzikir karena kesibukan urusan umat dan wahyu; (2) hati beliau "diliputi" oleh kelalaian yang tidak berdosa, namun tetap membuat beliau kembali kepada Allah dengan istighfar; (3) sebagian ulama memahaminya sebagai kelembutan hati yang mudah terpengaruh, sehingga beliau segera menyucikannya dengan istighfar.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna yang paling kuat adalah: hati Nabi ﷺ kadang "tertutup" oleh kesibukan-kesibukan yang menyibukkan beliau dari sebagian tingkatan dzikir dan muraqabah yang biasa beliau lakukan, sehingga beliau beristighfar sebagai bentuk kembali kepada Allah — bukan karena dosa.

Pelajaran dari Ibn Rajab al-Hanbali

Dalam Latha'if al-Ma'arif, Ibn Rajab menjelaskan bahwa istighfar Nabi ﷺ yang seratus kali sehari menunjukkan bahwa seorang hamba tidak boleh merasa cukup dengan amal yang sudah dilakukan. Semakin tinggi ma'rifat seseorang kepada Allah, semakin banyak ia merasa kurang dan semakin sering ia beristighfar.

Pelajaran dari Ibn Qayyim al-Jawziyyah

Dalam Madarij as-Salikin, Ibn Qayyim menyebutkan bahwa istighfar memiliki kedudukan yang sangat agung: ia membuka pintu-pintu rahmat, menghilangkan kegelisahan hati, dan menjadi sebab datangnya rezeki serta kelapangan hidup. Beliau juga menegaskan bahwa istighfar bukan hanya untuk menghapus dosa, tetapi juga untuk meninggikan derajat dan menyucikan hati.

Pelajaran dari Syaikh Abdurrahman as-Sa'di

Dalam tafsirnya, As-Sa'di menjelaskan bahwa istighfar adalah bentuk ibadah yang mencakup tauhid, tawakal, dan pengagungan kepada Allah. Seorang hamba yang menyadari kelemahan dirinya akan selalu kembali kepada Allah dengan istighfar, sebagaimana Nabi ﷺ — padahal beliau sudah diampuni — tetap beristighfar.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar

Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi menegaskan bahwa "tertutupnya hati" Nabi ﷺ bukanlah dosa, melainkan kelalaian yang tidak terhindarkan dari sifat kemanusiaan. Sedangkan Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa istighfar Nabi ﷺ adalah bentuk kesempurnaan ibadah dan kerendahan hati beliau di hadapan Allah, bukan karena adanya dosa. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur: istighfar Nabi ﷺ adalah bentuk tawadhu' dan kesempurnaan penghambaan, bukan karena dosa.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Agharr Al-Muzani radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat yang mulia — mendengar langsung sabda Nabi ﷺ ini. Beliau menyampaikannya kepada Abu Burdah (putra Abu Musa Al-Asy'ari), lalu Tsabit Al-Bunani (seorang tabi'in yang dikenal ahli ibadah) meriwayatkannya, hingga sampai kepada Imam Abu Dawud dan Imam Muslim.

Al-Hasan al-Bashri — seorang tabi'in yang sangat zuhud — pernah berkata bahwa seorang mukmin senantiasa bergantian antara berbuat baik dan berbuat salah, lalu ia memperbaiki kesalahannya dengan istighfar dan taubat. Beliau juga mengingatkan bahwa istighfar yang dilakukan dengan hati yang hadir akan mendatangkan ketenangan dan cahaya dalam hati.

Sufyan ats-Tsauri pernah berkata: "Janganlah engkau tinggalkan istighfar, karena engkau tidak tahu kapan rahmat Allah akan turun kepadamu."

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak istighfar setiap hari — minimal 100 kali, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ, meskipun kita merasa tidak berbuat dosa besar.
  2. Istighfar bukan hanya untuk dosa — tetapi juga untuk menyucikan hati, meninggikan derajat, dan mendekatkan diri kepada Allah.
  3. Jangan merasa cukup dengan amal — semakin tinggi ilmu dan iman seseorang, semakin banyak ia merasa kurang dan semakin sering beristighfar.
  4. Jadikan istighfar sebagai kebiasaan harian — di pagi hari, sore hari, sebelum tidur, dan di waktu-waktu luang.
  5. Hadirkan hati saat beristighfar — bukan sekadar lisan, tetapi dengan penyesalan dan harapan kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?