Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tiga adab mengangkat tangan dalam berdoa menurut Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma: (1) saat meminta (mas'alah) angkat tangan sejajar bahu, (2) saat memohon ampun (istighfar) cukup berisyarat dengan satu jari, dan (3) saat berdoa dengan sangat khusyuk dan mendesak (ibtihal) bentangkan kedua tangan. Ini menunjukkan bahwa doa memiliki adab lahiriah yang diajarkan para salaf, dan hendaknya kita memperhatikannya dengan penuh tawadhu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Witir, Bab Doa, nomor 1489, dari jalur Ikrimah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Sanadnya: Musa bin Isma'il → Wuhaib bin Khalid → Al-'Abbas bin Abdullah bin Ma'bad bin Al-'Abbas → Ikrimah → Ibnu Abbas.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab berdoa dan merendahkan diri, di antaranya:
QS. Al-A'raf [7]: 55
﴿اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ﴾
Terjemahan: "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
QS. Al-Baqarah [2]: 186
﴿وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗاُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ﴾
Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran."
Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas adab mengangkat tangan dalam doa. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad juga menjelaskan variasi cara Nabi ﷺ mengangkat tangan sesuai konteks doa.
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan atsar (perkataan sahabat) dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bukan sabda Nabi ﷺ secara langsung. Meski demikian, para ulama seperti Imam Abu Dawud memasukkannya dalam kitab doa karena mengandung faedah adab yang penting. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa atsar semacam ini dipahami sebagai penjelasan praktik yang berlaku di kalangan salaf, dan bisa jadi Ibnu Abbas menyaksikannya dari Nabi ﷺ atau dari para sahabat senior.
Tiga keadaan yang disebutkan:
Pertama, Al-Mas'alah (meminta kebutuhan). Yaitu ketika seseorang memohon sesuatu kepada Allah, seperti rezeki, kesehatan, atau kebutuhan duniawi lainnya. Caranya: mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu atau mendekati itu. Ini menunjukkan kerendahan hati dan pengharapan.
Kedua, Al-Istighfar (memohon ampun). Yaitu ketika seseorang meminta ampunan atas dosa-dosanya. Caranya: cukup berisyarat dengan satu jari. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa isyarat satu jari ini menunjukkan tauhid dan pengakuan bahwa hanya Allah yang mengampuni, sekaligus kerendahan diri di hadapan-Nya.
Ketiga, Al-Ibtihal (berdoa dengan sangat mendesak dan khusyuk). Yaitu ketika seseorang benar-benar merendahkan diri, memohon dengan sepenuh hati, biasanya dalam keadaan darurat atau sangat membutuhkan. Caranya: membentangkan kedua tangan ke depan atau ke atas dengan penuh kekhusyukan. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa ibtihal adalah puncak ketundukan seorang hamba, di mana ia sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah.
Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa mengangkat tangan dalam doa adalah sunnah yang memiliki banyak riwayat, dan bentuknya bisa berbeda-beda sesuai keadaan. Beliau tidak mempersempit hanya pada satu cara, melainkan menjelaskan bahwa variasi ini menunjukkan keluasan adab dalam berdoa.
Perlu dicatat: hadits ini tidak menunjukkan bahwa selain cara-cara ini tidak boleh. Para ulama seperti Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa mengangkat tangan dalam doa adalah sunnah yang sahih dari Nabi ﷺ, dan variasi cara adalah bentuk keluasan syariat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma adalah salah satu sahabat yang paling mendalam ilmunya, terutama dalam tafsir Al-Qur'an. Nabi ﷺ pernah mendoakannya: "Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam agama dan ajarkanlah dia takwil (tafsir)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Karena itu, atsar-atsar beliau tentang adab ibadah sering dijadikan rujukan oleh para tabi'in seperti Ikrimah (mantan budaknya yang menjadi murid setia) dan Mujahid bin Jabr.
Suatu ketika, para tabi'in belajar langsung dari Ibnu Abbas tentang bagaimana cara berdoa yang benar, termasuk posisi tangan. Mereka tidak hanya belajar makna, tetapi juga praktik lahiriah, karena ibadah mencakup keduanya: hati dan anggota badan. Inilah yang kemudian diwarisi oleh ulama seperti Sufyan ats-Tsauri, Al-Awza'i, dan Abdullah bin al-Mubarak, yang terkenal sangat teliti dalam mengikuti sunnah hingga detail terkecil.
Kesimpulan Praktis
- Perhatikan adab mengangkat tangan saat berdoa. Saat meminta kebutuhan, angkat tangan sejajar bahu. Saat memohon ampun, cukup berisyarat dengan satu jari. Saat berdoa dengan sangat mendesak (ibtihal), bentangkan kedua tangan.
- Jangan menganggap remeh adab lahiriah dalam ibadah. Para salaf memperhatikan detail, karena ibadah adalah gabungan hati dan anggota badan.
- Berdoalah dengan penuh kekhusyukan dan kerendahan hati, sesuai keadaan dan kebutuhan.
- Rujuklah kepada ulama terpercaya jika menemukan perbedaan praktik, karena keluasan dalam adab doa adalah rahmat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.