Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1484 tentang Larangan tergesa-gesa dalam berdoa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa doa seorang hamba akan dikabulkan oleh Allah selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan mengatakan "Aku sudah berdoa tapi tidak dikabulkan." Sikap tergesa-gesa dan putus asa dari rahmat Allah inilah yang menjadi penghalang terkabulnya doa. Hendaknya seorang Muslim terus berdoa dengan penuh keyakinan, sabar, dan tawakkal kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه, dalam Sunan Abu Dawud no. 1484, Kitab Witir, Bab Doa:

<p>يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي</p>

Terjemahan: "Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dan berkata: 'Aku telah berdoa tetapi tidak dikabulkan.'"

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari jalur yang sama (Abu Hurairah), dengan tambahan lafaz dalam riwayat Muslim: "…dan janganlah ia tergesa-gesa." Para sahabat bertanya: "Apa yang dimaksud tergesa-gesa?" Nabi ﷺ menjawab: "Ia berkata: 'Aku sudah berdoa, aku sudah berdoa, tetapi aku tidak melihat dikabulkan,' lalu ia merasa lemah dan meninggalkan doa."

Ayat terkait — QS. Al-Baqarah [2]: 186:

<p>وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ</p>

Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran."

Kaitan ulama dan kitab:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan doa tetap dikabulkan selama tidak disertai sikap tergesa-gesa dan putus asa.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa larangan tergesa-gesa adalah larangan meninggalkan doa atau menganggap doa tidak bermanfaat.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa sabar dalam berdoa termasuk adab penting dalam beribadah kepada Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menyentuh inti adab berdoa. Rasulullah ﷺ memberitakan bahwa Allah menjanjikan pengabulan doa, namun dengan satu syarat: hamba tersebut tidak tergesa-gesa. Apa makna "tergesa-gesa" di sini?

Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa yang dimaksud adalah seseorang yang berdoa lalu merasa lama tidak dikabulkan, kemudian ia berkata dengan nada mengeluh: "Aku sudah berdoa, tetapi tidak dikabulkan," lalu ia berhenti berdoa atau hatinya melemah. Sikap inilah yang tercela, karena mengandung:

  1. Putus asa dari rahmat Allah — padahal Allah melarang hal ini.
  2. Mendikte Allah — seolah hamba menentukan kapan doanya harus dikabulkan.
  3. Meninggalkan doa — padahal doa itu sendiri adalah ibadah yang berpahala.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa pengabulan doa itu ada beberapa bentuk:

  • Dikabulkan persis seperti yang diminta,
  • Ditunda karena ada hikmah yang lebih baik,
  • Diganti dengan sesuatu yang lebih bermanfaat,
  • Atau disimpan sebagai pahala di akhirat.

Karena itu, seorang hamba tidak boleh menyempitkan makna "dikabulkan" hanya pada satu bentuk saja.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menekankan bahwa doa adalah ibadah yang tidak boleh ditinggalkan, meskipun hasilnya belum terlihat. Beliau menyebutkan bahwa para salaf terus berdoa bertahun-tahun tanpa merasa bosan, karena mereka yakin bahwa doa itu sendiri sudah bernilai ibadah.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Jawab al-Kafi dan Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa doa itu seperti benih: ia perlu waktu untuk tumbuh. Jika seorang hamba berhenti menyiraminya karena tidak sabar, maka ia tidak akan pernah memanen buahnya. Beliau juga menyebutkan bahwa Allah kadang menunda pengabulan justru karena cinta kepada hamba-Nya, agar hamba tersebut terus berdoa dan mendekat kepada-Nya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 186 menjelaskan bahwa kedekatan Allah dengan hamba-Nya bersifat mutlak, dan pengabulan doa itu nyata. Namun hamba dituntut untuk istiqamah (konsisten) dalam berdoa dan beriman, bukan tergesa-gesa.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Tidak ada perbedaan mendasar. Semua sepakat bahwa tergesa-gesa yang dilarang adalah sikap mengeluh dan meninggalkan doa. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa doa tetap dikabulkan dalam salah satu dari beberapa bentuk, dan hamba wajib terus berdoa dengan sabar.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya: "Sampai kapan seorang hamba terus berdoa?" Beliau menjawab dengan tegas: "Sampai kapan ia masih hidup." Beliau juga pernah berkata bahwa doa itu tidak pernah sia-sia, meskipun pengabulannya tertunda.

Dalam kisah lain, seorang salaf berkata: "Aku telah berdoa kepada Allah selama dua puluh tahun, dan aku belum melihat jawabannya. Namun aku tidak akan berhenti berdoa, karena doa itu sendiri adalah ibadah." Sikap inilah yang dicontohkan oleh para salafus shalih — mereka tidak mengukur doa dengan hasil yang cepat, tetapi dengan kesetiaan dalam beribadah.

Nabi ﷺ sendiri mengajarkan kepada kita untuk berdoa dengan penuh keyakinan, sebagaimana dalam hadits lain: "Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa Dia akan mengabulkan." (Riwayat At-Tirmidzi). Keyakinan ini bukan berarti memaksa Allah, tetapi menunjukkan husnuzhan (baik sangka) kepada-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Teruslah berdoa tanpa merasa bosan atau putus asa, karena doa adalah ibadah yang bernilai pahala.
  2. Jangan mengeluh dengan ucapan "Aku sudah berdoa tapi tidak dikabulkan" — ini adalah tanda tergesa-gesa yang dilarang.
  3. Yakinlah bahwa Allah mengabulkan doa dalam salah satu dari beberapa bentuk: langsung, ditunda, diganti, atau disimpan sebagai pahala.
  4. Perbanyak doa di waktu-waktu mustajab, seperti sepertiga malam terakhir, antara adzan dan iqamah, dan saat sujud.
  5. Sertakan adab doa: memuji Allah, bershalawat kepada Nabi ﷺ, menghadap kiblat, dan berdoa dengan hati yang khusyuk.
  6. Jangan meninggalkan doa meskipun belum melihat hasilnya, karena Allah lebih tahu waktu terbaik untuk mengabulkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?