Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1483 tentang Larangan ragu dalam berdoa dan perintah memohon dengan tegas

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita adab berdoa yang agung: hendaknya seorang muslim bersungguh-sungguh dan mantap dalam memohon kepada Allah, tidak ragu-ragu dengan mengucapkan "jika Engkau mau". Karena Allah Maha Kuasa dan tidak ada yang memaksa-Nya, maka kita diperintahkan untuk berteguh hati dalam meminta, dengan penuh harap dan yakin bahwa Allah mampu mengabulkan segala doa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Rasulullah ﷺ bersabda:

<p>لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ</p>

Artinya: "Salah seorang dari kalian janganlah mengatakan: 'Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau mau.' Hendaklah ia berteguh hati dalam meminta, karena sesungguhnya tidak ada yang memaksa Allah." (HR. Abu Dawud no. 1483, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 6339) dan Imam Muslim (no. 2679) dengan lafaz yang semakna.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

<p>وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ</p>

"Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.'" (QS. Ghafir [40]: 60)

Ayat ini menunjukkan perintah Allah untuk berdoa dengan sungguh-sungguh, dan Allah menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-Nya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa larangan dalam hadits ini adalah larangan yang bersifat tanzih (makruh) atau bahkan tahrim (haram) dalam sebagian pendapat, karena mengandung sikap kurang sopan dalam berdoa dan menunjukkan kelemahan tekad.

Penjelasan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (Kitab ad-Du'a): Beliau menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah larangan mengucapkan "jika Engkau mau" dalam doa, karena hal itu menunjukkan sikap ragu dan kurang yakin terhadap kekuasaan Allah. Seorang hamba hendaknya meminta dengan tegas dan penuh harap, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada yang memaksa-Nya. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengabulkan; dan jika tidak, maka itu adalah kebijaksanaan-Nya.

Penjelasan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (Kitab ad-Da'awat): Beliau menukil perkataan para ulama bahwa hikmah larangan ini adalah karena ucapan "jika Engkau mau" mengandung makna bahwa si pemohon merasa cukup tanpa doanya, atau merasa bahwa Allah mungkin tidak mampu atau tidak mau mengabulkan. Padahal Allah Maha Kuasa dan Maha Pemurah. Maka hendaknya seorang hamba meminta dengan mantap dan penuh pengharapan.

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin: Beliau menjelaskan bahwa doa dengan "jika Engkau mau" menunjukkan kelemahan dalam berdoa, karena doa adalah ibadah dan bentuk penghambaan. Seorang hamba yang benar-benar membutuhkan akan meminta dengan sungguh-sungguh, bukan dengan ragu-ragu. Namun jika seseorang mengucapkannya karena lupa atau tidak sengaja, maka tidak mengapa.

Pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa: Beliau menegaskan bahwa doa adalah ibadah, dan seorang hamba hendaknya berdoa dengan penuh keyakinan akan dikabulkan. Ucapan "jika Engkau mau" bertentangan dengan adab doa yang diajarkan Nabi ﷺ, karena menunjukkan kurangnya keyakinan dan harapan kepada Allah.

Hikmah di balik larangan ini:

  1. Menguatkan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Mendengar.
  2. Menunjukkan kesungguhan dalam berdoa, karena doa adalah ibadah.
  3. Menghindari sikap meremehkan kekuasaan Allah.
  4. Melatih hati untuk selalu berharap dan bergantung kepada Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal (semoga Allah merahmatinya) ketika ditanya tentang doa, beliau berkata: "Aku memohon kepada Allah dengan permohonan yang mantap, karena aku tahu bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan." Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang sangat tekun dalam berdoa, terutama di saat-saat sulit, dengan penuh keyakinan dan harap yang kuat kepada Allah.

Kisah lain dari Sufyan ats-Tsauri (semoga Allah merahmatinya), beliau berkata: "Sesungguhnya doa itu adalah ibadah, dan seorang hamba tidak layak berdoa kecuali dengan penuh keyakinan dan harap. Barangsiapa berdoa dengan ragu, maka ia seperti orang yang meminta tetapi tidak benar-benar membutuhkan."

Hikmah dari kisah-kisah ini: Para ulama salaf sangat menjaga adab doa ini. Mereka berdoa dengan penuh keyakinan, kesungguhan, dan harapan yang besar kepada Allah, karena mereka memahami bahwa doa adalah senjata orang mukmin dan ibadah yang paling agung.

Kesimpulan Praktis

  1. Berdoalah dengan mantap dan penuh keyakinan, tanpa ragu-ragu.
  2. Hindari ucapan "jika Engkau mau" dalam doa, karena bertentangan dengan adab yang diajarkan Nabi ﷺ.
  3. Perbanyak doa dengan penuh harap dan yakin bahwa Allah akan mengabulkan sesuai kebijaksanaan-Nya.
  4. Jadikan doa sebagai ibadah yang sungguh-sungguh, bukan sekadar permintaan biasa.
  5. Jika terlanjur mengucapkannya karena lupa, maka tidak mengapa dan teruskan doanya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.