Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab berdoa yang agung. Doa yang baik tidak langsung meminta, tetapi dimulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ, barulah setelah itu menyampaikan hajat. Ini adalah tuntunan langsung dari Rasulullah ﷺ kepada seorang sahabat yang doanya dinilai "tergesa-gesa" karena melewatkan dua hal tersebut.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ، حَدَّثَنَا حَيْوَةُ، أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ، حُمَيْدُ بْنُ هَانِئٍ أَنَّ أَبَا عَلِيٍّ، عَمْرَو بْنَ مَالِكٍ حَدَّثَهُ أَنَّهُ، سَمِعَ فَضَالَةَ بْنَ عُبَيْدٍ، صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رَجُلاً يَدْعُو فِي صَلاَتِهِ لَمْ يُمَجِّدِ اللَّهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " عَجِلَ هَذَا " . ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ " إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ﷺ ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ "
Makna ringkas: Rasulullah ﷺ mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya tanpa memuji Allah dan tanpa bershalawat kepada Nabi ﷺ. Beliau bersabda, "Orang ini tergesa-gesa." Kemudian beliau memanggilnya dan bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian shalat (berdoa), hendaklah memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ, setelah itu barulah berdoa dengan apa yang dia kehendaki."
Kaitan dengan ulama:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Witir, Bab Doa, no. 1481. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 3477) dan dinilai shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1481). Imam at-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung adab dan urutan berdoa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ. Beliau mengajarkan bahwa doa itu ibarat seseorang yang datang menghadap raja atau pembesar. Tentu ia tidak langsung meminta, tetapi memulai dengan pujian dan sanjungan, baru kemudian menyampaikan keperluannya.
Pendapat para ulama:
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya memulai doa dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Beliau menegaskan bahwa ini adalah adab yang agung, dan doa yang dimulai dengan pujian dan shalawat lebih dekat untuk dikabulkan.
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa (11/173) menjelaskan bahwa memulai doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi ﷺ adalah sunnah yang dianjurkan, dan ini termasuk sebab terkabulnya doa. Beliau menukil perkataan sebagian ulama bahwa doa yang tidak didahului pujian dan shalawat akan terhijab (tertahan).
- Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa para ulama sepakat (ijma') tentang dianjurkannya memulai doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi ﷺ, dan mereka berbeda pendapat tentang hukum wajibnya. Namun yang lebih hati-hati adalah melakukannya, karena ini adalah petunjuk Nabi ﷺ secara langsung.
- Imam Ibnul Qayyim dalam Jala'ul Afham menjelaskan bahwa shalawat kepada Nabi ﷺ adalah kunci terkabulnya doa. Beliau menyebutkan bahwa doa yang disertai shalawat akan diangkat ke hadapan Allah, sedangkan doa tanpa shalawat akan tertahan.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan tiga urutan: pertama, memuji Allah dengan menyebut sifat-sifat-Nya yang agung; kedua, bershalawat kepada Nabi ﷺ; ketiga, barulah menyampaikan hajat. Ini adalah adab yang paling sempurna.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama:
- Jumhur ulama (mayoritas) berpendapat bahwa memulai doa dengan pujian dan shalawat hukumnya sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan), bukan wajib. Ini adalah pendapat Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan mayoritas ulama.
- Sebagian ulama berpendapat bahwa hal ini wajib berdasarkan perintah Nabi ﷺ dalam hadits ini. Namun pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur, karena perintah di sini lebih kepada bimbingan adab, bukan kewajiban yang membatalkan doa jika ditinggalkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Fudhalah bin 'Ubaid radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah seorang sahabat yang ikut dalam Fathu Makkah (pembebasan Makkah). Suatu hari, beliau mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya. Laki-laki itu langsung meminta kepada Allah tanpa memuji-Nya dan tanpa bershalawat kepada Nabi ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ yang juga mendengar doa tersebut bersabda, "Orang ini tergesa-gesa."
Kemudian beliau memanggil laki-laki itu dan mengajarinya dengan penuh kasih sayang. Beliau tidak memarahinya, tetapi membimbingnya dengan sabar. Beliau bersabda, "Jika salah seorang dari kalian shalat (berdoa), maka mulailah dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ, setelah itu berdoalah dengan apa yang dia inginkan."
Perhatikanlah kelembutan Nabi ﷺ dalam mengajarkan adab. Beliau tidak langsung menyalahkan, tetapi memanggil dan mengajari dengan cara yang indah. Ini adalah pelajaran bagi kita bahwa dalam menasihati, kita harus menggunakan cara yang lembut dan penuh hikmah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ.
Hikmah dari kisah ini: Doa adalah ibadah yang agung. Sebagaimana kita tidak akan berani meminta sesuatu kepada seorang raja tanpa menghormatinya terlebih dahulu, maka kepada Allah Yang Maha Raja, kita juga diajarkan untuk memulai dengan pujian dan sanjungan, kemudian shalawat kepada Nabi-Nya, barulah menyampaikan hajat.
Kesimpulan Praktis
- Mulailah doa dengan memuji Allah — ucapkanlah pujian seperti "Alhamdulillah", "Subhanallah", atau dengan menyebut sifat-sifat Allah yang agung.
- Bershalawatlah kepada Nabi ﷺ — ucapkanlah "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad" atau shalawat lainnya.
- Barulah sampaikan hajat — setelah pujian dan shalawat, barulah memohon apa yang kita butuhkan kepada Allah.
- Terapkan dalam semua doa — baik dalam shalat, setelah shalat, maupun di luar shalat.
- Jadikan ini kebiasaan — agar doa kita lebih dekat untuk dikabulkan dan sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.