Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1475 tentang Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf atau ragam bacaan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang turunnya Al-Qur'an dalam tujuh huruf (ahruf sab'ah). Ini bukan berarti Al-Qur'an memiliki tujuh versi yang bertentangan, melainkan Allah memberikan kelapangan kepada umat ini untuk membaca Al-Qur'an dengan beberapa dialek (lahjah) Arab yang berbeda, selama maknanya sama dan tidak mengubah hukum. Hadits ini juga mengajarkan adab yang indah: perbedaan bacaan bukanlah alasan untuk saling menyalahkan, karena semua bacaan yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah benar dan berasal dari wahyu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud No. 1475 (sebagaimana yang Anda sebutkan), juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu.

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

"Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an."

(QS. Al-Muzzammil [73]: 20)

Ayat ini sejalan dengan perintah Nabi ﷺ di akhir hadits: "Bacalah apa yang mudah bagimu darinya."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna ahruf sab'ah adalah tujuh dialek bahasa Arab yang jelas dan berbeda lafazhnya, namun memiliki makna yang sama, atau makna yang beragam dengan lafazh yang sama.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) memaparkan perbedaan pendapat ulama tentang hakikat tujuh huruf ini, dan beliau menegaskan bahwa pendapat yang paling kuat adalah bahwa ia mencakup tujuh macam variasi bacaan seperti perbedaan kata (sinonim), perbedaan bentuk kata (mufrad/jamak), perbedaan i'rab (harakat akhir), dan lain-lain yang semuanya turun dari Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah kisah nyata yang sangat penting. Suatu ketika, Umar bin Al-Khattab mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca Surah Al-Furqan dengan bacaan yang berbeda dari yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Umar. Karena Umar sangat cinta dan menjaga Al-Qur'an, dia hampir saja bertindak kasar kepada Hisyam, tetapi dia menahan diri sampai Hisyam selesai membaca. Kemudian Umar menangkap jubah Hisyam dan membawanya menghadap Rasulullah ﷺ.

Setelah Umar menyampaikan keluhannya, Rasulullah ﷺ memerintahkan Hisyam untuk membaca. Hisyam membaca sebagaimana bacaan yang didengar Umar tadi. Lalu Nabi ﷺ bersabda: "Begitulah ia diturunkan." Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan Umar untuk membaca, dan Umar membaca dengan bacaannya. Nabi ﷺ pun bersabda: "Begitulah ia diturunkan." Maka Nabi ﷺ mengukuhkan kedua bacaan tersebut sebagai wahyu yang benar. Lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya Al-Qur'an ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah bagimu."

Bagaimana para ulama memahami ini?

  1. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ahruf sab'ah adalah kelapangan dari Allah kepada umat ini. Sebelumnya, umat-umat terdahulu diperintahkan satu bacaan saja, tetapi umat Nabi Muhammad ﷺ diberi kemudahan dengan tujuh huruf agar tidak memberatkan mereka.
  2. Imam Asy-Syafi'i (sebagaimana dinukil oleh para ulama) berpendapat bahwa tujuh huruf ini adalah tujuh bahasa dari bahasa-bahasa Arab yang paling fasih, dan semuanya bermuara pada satu makna pokok, meskipun lafazhnya berbeda-beda.
  3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa perbedaan bacaan dalam ahruf sab'ah tidak pernah bertentangan dalam makna, bahkan saling melengkapi dan memperkaya pemahaman. Ini adalah rahmat, bukan sumber perpecahan.
  4. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa hikmah diturunkannya Al-Qur'an dalam tujuh huruf adalah untuk memudahkan umat yang beragam dialeknya, dan ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Pelajaran penting dari hadits ini:

  • Perbedaan bacaan yang sahih bukanlah alasan untuk bertengkar atau saling mengkafirkan.
  • Semua bacaan yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah wahyu, dan tidak ada satu pun yang saling meniadakan.
  • Sikap Umar yang ingin meluruskan adalah bentuk kecemburuan terhadap agama, tetapi Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kebenaran bisa hadir dalam bentuk yang beragam selama bersumber dari wahyu.

Story Telling

Ada kisah indah tentang Umar bin Al-Khattab yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari. Suatu ketika, beliau mendengar seseorang membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang berbeda. Orang itu membaca surat Al-Furqan dengan lafazh yang tidak sama dengan yang diajarkan kepada Umar. Umar pun hampir saja menghardiknya, tetapi beliau menahan diri dan membawanya kepada Rasulullah ﷺ. Setelah Nabi ﷺ mendengar kedua bacaan tersebut, beliau bersabda bahwa keduanya benar dan diturunkan dari sisi Allah.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa adab menuntut ilmu adalah tidak tergesa-gesa menghakimi orang lain. Umar adalah sahabat yang sangat cinta kebenaran, tetapi beliau tetap menahan emosinya dan membawa persoalan ini kepada Rasulullah ﷺ. Ini adalah teladan bagi kita: ketika melihat perbedaan, kembalikanlah kepada Al-Qur'an dan Sunnah, bukan kepada emosi atau prasangka.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa Al-Qur'an itu satu, tetapi bacaannya memiliki variasi yang sahih dan berasal dari wahyu.
  2. Jangan mudah menyalahkan orang lain yang membaca dengan qira'at (bacaan) yang berbeda, selama bacaan itu sahih dan diajarkan oleh para ulama.
  3. Pelajari ilmu qira'at dengan bimbingan ulama yang sanadnya bersambung kepada Nabi ﷺ, karena ini adalah bagian dari menjaga Al-Qur'an.
  4. Amalkan adab Umar bin Al-Khattab: jika melihat perbedaan, jangan terburu-buru emosi, tetapi kembalikan kepada ulama dan dalil.
  5. Bersyukurlah atas kemudahan yang Allah berikan kepada umat ini dalam membaca Al-Qur'an.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.