Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur'an dengan suara yang indah dan keras (jahr) dengan penuh penghayatan. Allah Subhanahu wa Ta'ala sangat "mendengarkan" (memberikan perhatian khusus) kepada seorang nabi yang melantunkan Al-Qur'an dengan suara merdu. Ini adalah dorongan bagi kita untuk memperbagus bacaan Al-Qur'an, memperindah suara, dan membacanya dengan suara yang keras ketika dalam keadaan yang dibenarkan syariat, selama tidak mengganggu orang lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مَالِكٍ، وَحَيْوَةُ، عَنِ ابْنِ الْهَادِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ " مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَىْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ "
Makna Hadits:
Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah tidak mendengarkan (dengan penuh perhatian) kepada sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan kepada seorang nabi yang bersuara merdu yang melantunkan Al-Qur'an dengan suara keras."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz:
مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ
Artinya: "Allah tidak mendengarkan sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan kepada seorang nabi yang melagukan Al-Qur'an." (HR. Al-Bukhari, no. 7544)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "أَذِنَ" di sini adalah "istama'a" (mendengarkan dengan penuh perhatian dan penerimaan), bukan sekadar mendengar secara umum. Ini adalah bentuk penghormatan dan penerimaan Allah terhadap bacaan tersebut.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ" maknanya adalah membaca dengan suara yang indah dan merdu, serta menghayati maknanya. Bukan berarti membaca dengan nada-nada lagu yang berlebihan (ghina') yang dilarang.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
1. Makna "Al-Idzan" (أَذِنَ)
Kata "أَذِنَ" di sini bukan sekadar mendengar, tetapi maknanya adalah mendengarkan dengan penuh perhatian dan keridhaan. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Allah mendengarkan bacaan hamba-Nya dengan pendengaran yang khusus, penuh perhatian, dan keridhaan, terutama ketika hamba tersebut membaca dengan suara yang indah dan penuh kekhusyukan.
2. Makna "At-Taghanni" (التَّغَنِّي)
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "yutaghanna" dalam hadits ini:
- Pendapat pertama (mayoritas ulama, di antaranya Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Bukhari, dan Ibn Hajar): Maknanya adalah membaca dengan suara yang indah dan merdu, memperbagus bacaan, dan menghayati isi kandungannya. Ini adalah perintah untuk memperindah suara saat membaca Al-Qur'an.
- Pendapat kedua (sebagian ulama seperti Imam Malik): Maknanya adalah merasa cukup dengan Al-Qur'an dan tidak membutuhkan selainnya. Ini berdasarkan riwayat lain yang menjelaskan bahwa "taghanni" bisa berarti "kaya" atau "merasa cukup".
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa pendapat yang lebih kuat adalah yang pertama, yaitu memperindah suara dalam membaca Al-Qur'an. Namun, perlu diperhatikan bahwa memperindah suara ini tidak boleh keluar dari kaidah tajwid dan tidak boleh meniru lagu-lagu yang berlebihan.
3. Keutamaan Membaca dengan Suara Keras (Jahr)
Hadits ini juga menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur'an dengan suara keras (jahr) ketika dalam keadaan yang dibenarkan. Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa membaca dengan suara keras memiliki beberapa manfaat:
- Menghidupkan suasana dan lebih meresap ke dalam hati
- Lebih membangkitkan semangat orang yang mendengarnya
- Lebih menunjukkan syi'ar Islam
Namun, beliau juga menegaskan bahwa jika ada orang yang terganggu dengan suara keras tersebut, seperti orang yang sedang shalat, tidur, atau belajar, maka lebih utama untuk merendahkan suara.
4. Kisah yang Menghidupkan Makna Hadits
Diriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu memiliki suara yang sangat merdu dalam membaca Al-Qur'an. Suatu hari, Rasulullah ﷺ mendengar bacaannya dan bersabda: "Sungguh, orang ini telah diberikan salah satu seruling (suara merdu) dari keluarga Daud." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ketika Abu Musa mendengar pujian ini, ia berkata: "Wahai Rasulullah, seandainya aku tahu bahwa engkau mendengarkan bacaanku, niscaya aku akan memperindahnya untukmu." (HR. Al-Bukhari)
Kisah ini menunjukkan bahwa memperindah suara dalam membaca Al-Qur'an adalah perkara yang dicintai oleh Rasulullah ﷺ dan merupakan sebab turunnya perhatian khusus dari Allah.
Story Telling
Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal bahwa beliau pernah ditanya tentang orang yang membaca Al-Qur'an dengan suara yang indah dan merdu. Beliau menjawab: "Ini adalah perkara yang baik, selama tidak keluar dari batas-batas tajwid dan tidak menyerupai lagu-lagu orang fasik."
Imam Ahmad juga dikenal sangat mencintai bacaan Al-Qur'an yang indah. Beliau sering menangis ketika mendengar bacaan Al-Qur'an yang menyentuh hati, dan beliau menganjurkan umat untuk memperbagus suara dalam membaca Al-Qur'an.
Syeikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang hukum membaca Al-Qur'an dengan suara yang indah dan merdu. Beliau menjawab: "Ini adalah perkara yang disunnahkan, karena Nabi ﷺ bersabda: 'Perindahlah Al-Qur'an dengan suara-suara kalian, karena suara yang indah akan menambah keindahan Al-Qur'an.' (HR. Abu Dawud dan al-Hakim). Namun, yang penting adalah tidak keluar dari kaidah tajwid dan tidak berlebihan dalam melagukan."
Kesimpulan Praktis
- Perindah suara saat membaca Al-Qur'an - Ini adalah sunnah yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, selama tidak keluar dari kaidah tajwid.
- Baca dengan penuh penghayatan - Bacaan yang indah harus disertai dengan tadabbur (perenungan) terhadap makna ayat.
- Boleh membaca dengan suara keras - Ketika dalam keadaan yang dibenarkan dan tidak mengganggu orang lain, membaca dengan suara keras lebih utama karena lebih menghidupkan suasana.
- Jauhi lagu yang berlebihan - Hindari meniru gaya lagu yang berlebihan yang bisa merusak makna dan kaidah bacaan.
- Niatkan untuk ibadah - Perindah suara bukan untuk pamer atau mencari pujian, tetapi semata-mata karena Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.