Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits/atsar ini menjelaskan makna taghanni (التَّغَنِّي) dalam bacaan Al-Qur'an, yaitu seseorang membaca Al-Qur'an dengan suara yang indah dan tartil, sehingga hatinya merasa cukup (istighna') dengan Al-Qur'an dan tidak lagi sibuk dengan hal-hal lain. Penjelasan ini datang dari dua ulama besar: Waki' bin al-Jarrah dan Sufyan bin 'Uyainah — keduanya termasuk ulama dalam daftar rujukan. Jadi taghanni bukan sekadar memperindah suara, tetapi juga menghadirkan hati yang merasa cukup dan tenang dengan Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Muzzammil [73]: 4
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan dan jelas)."
Hadits terkait:
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:
مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ
"Allah tidak pernah memberi izin (perhatian) kepada sesuatu seperti perhatian-Nya kepada seorang nabi yang membaca Al-Qur'an dengan taghanni." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan ulama:
- Waki' bin al-Jarrah (guru Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad) — beliau menjelaskan makna taghanni sebagaimana disebutkan dalam atsar ini.
- Sufyan bin 'Uyainah (ulama Tabi'ut Tabi'in, ahli tafsir dan hadits) — beliau juga menafsirkan taghanni dengan makna yang sama: istighna' (merasa cukup).
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna taghanni, dan salah satu maknanya adalah al-istighna' bihi (merasa cukup dengan Al-Qur'an).
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sebagian salaf menafsirkan taghanni dengan al-istighna', yaitu hati tidak butuh selain Al-Qur'an.
Penjelasan Rinci
Makna taghanni menurut Waki' dan Ibn 'Uyainah:
Kata taghanni (تَغَنَّى) secara bahasa bisa bermakna "bernyanyi" atau "melagukan". Namun para ulama salaf memahaminya lebih dalam. Waki' bin al-Jarrah dan Sufyan bin 'Uyainah — dua ulama besar Tabi'ut Tabi'in — menjelaskan bahwa makna taghanni di sini adalah al-istighna' (الِاسْتِغْنَاء), yaitu:
- Al-Qur'an membuat seseorang melupakan segala sesuatu — ketika membaca dan merenungi Al-Qur'an, hati menjadi fokus dan tidak sibuk dengan urusan dunia yang melalaikan.
- Merasa cukup dengan Al-Qur'an — jiwa tidak lagi merasa butuh hiburan lain, karena Al-Qur'an sudah menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan.
Bagaimana ulama memahami dan menerapkannya:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa makna taghanni bisa berarti:
- Memperindah suara saat membaca Al-Qur'an.
- Merasa cukup (istighna') dengan Al-Qur'an.
- Membaca dengan tartil dan menghayati maknanya.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari mengutip pendapat Sufyan bin 'Uyainah dan Waki' bahwa taghanni berarti al-istighna' bihi, yaitu hati merasa cukup dengan Al-Qur'an sehingga tidak membutuhkan yang lain.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an dengan tartil dan tadabbur akan menghadirkan ketenangan hati, dan inilah bentuk istighna' yang sejati.
Kesimpulan makna:
Taghanni dalam bacaan Al-Qur'an mencakup dua hal:
- Memperindah suara (tahsin ash-shaut) — membaca dengan tartil, jelas, dan indah.
- Menghadirkan hati (istighna') — merasa cukup dengan Al-Qur'an, tidak sibuk dengan hal lain, dan merenungi maknanya.
Inilah yang dimaksud oleh Waki' dan Ibn 'Uyainah: bacaan Al-Qur'an yang tartil dan penuh penghayatan akan membuat seseorang merasa cukup dan tidak membutuhkan selainnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Sufyan bin 'Uyainah pernah ditanya tentang makna taghanni dalam hadits Nabi ﷺ. Beliau menjawab dengan penjelasan yang disebutkan dalam atsar ini: "Yakni Al-Qur'an membuat seseorang melupakan segala sesuatu dan merasa cukup dengan itu."
Waki' bin al-Jarrah — guru Imam asy-Syafi'i — juga dikenal sebagai ahli ibadah dan ahli Al-Qur'an. Beliau sendiri adalah contoh seorang yang hatinya merasa cukup dengan Al-Qur'an. Dalam kitab-kitab biografi disebutkan bahwa Waki' sering menangis saat membaca Al-Qur'an karena kedalaman penghayatannya.
Hikmahnya: para salaf tidak hanya membaca Al-Qur'an dengan suara indah, tetapi juga dengan hati yang hadir dan jiwa yang merasa cukup. Mereka menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber kebahagiaan, bukan sekadar bacaan rutin.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah Al-Qur'an dengan tartil — perlahan, jelas, dan sesuai kaidah tajwid, sebagaimana perintah QS. Al-Muzzammil [73]: 4.
- Perindahlah suara saat membaca Al-Qur'an, karena Nabi ﷺ menganjurkan hal ini.
- Hadirkan hati — jadikan Al-Qur'an sebagai sumber ketenangan dan merasa cukup (istighna') dengan-Nya, tidak sibuk dengan hal lain saat membacanya.
- Renungkan maknanya — taghanni yang sejati adalah ketika Al-Qur'an membuat kita melupakan dunia dan merasa cukup dengan Allah.
- Jadikan Al-Qur'an teman sehari-hari — bukan hanya dibaca saat ada waktu luang, tetapi menjadi kebutuhan jiwa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.