Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1470 tentang Anjuran membaca Al-Qur'an dengan tartil

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits riwayat Abu Dawud no. 1470 ini adalah penguat (syahid/mutaba'ah) bagi hadits sebelumnya, yang berisi perintah Nabi ﷺ untuk membaca Al-Qur'an dengan tartil (perlahan, jelas, dan sesuai kaidah tajwid). Sanadnya berjalan dari Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu. Intinya: membaca Al-Qur'an tidak boleh tergesa-gesa, tetapi harus tenang, jelas huruf dan harakatnya, serta merenungi maknanya.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil pokok tentang tartil adalah firman Allah:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

(QS. Al-Muzzammil [73]: 4)

Terjemahan: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan dan jelas)."

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tartil berarti membaca dengan jelas, tenang, dan tidak terburu-buru, sehingga memudahkan untuk merenungi makna dan mengamalkannya. Beliau juga menyebutkan bahwa membaca tartil lebih utama daripada cepat tanpa memperhatikan kaidah.

Hadits terkait:

Dari Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda (maknanya): "Sesungguhnya bacaan yang paling utama adalah yang paling tartil." Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1470) melalui jalur 'Utsman bin Abi Syaibah dari Sufyan bin 'Uyainah, dari 'Amr (bin Dinar), dari Ibnu Abi Mulaikah, dari 'Ubaidillah bin Abi Nahik, dari Sa'd. Hadits ini merupakan penguat bagi hadits sebelumnya dalam bab yang sama.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa tartil adalah sunnah yang sangat ditekankan, dan membaca dengan tergesa-gesa tanpa memperhatikan makhraj serta tajwid adalah perkara yang dibenci.

Penjelasan Rinci

Hadits ini secara sanad adalah bentuk mutaba'ah (penguat) dari hadits sebelumnya. Artinya, meskipun matannya singkat ("mitslahu" = seperti itu), ia menguatkan bahwa perintah tartil dalam bacaan Al-Qur'an benar-benar datang dari Nabi ﷺ melalui jalur yang berbeda, yaitu dari Sa'd bin Abi Waqqas.

Para ulama dalam daftar yang disebutkan memiliki pandangan yang sejalan:

  • Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tartil mencakup: (1) memperjelas huruf, (2) memperhatikan panjang-pendek (mad), (3) tidak terburu-buru, dan (4) menghadirkan hati saat membaca.
  • Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' dan At-Tibyan menegaskan bahwa tartil adalah adab utama dalam membaca Al-Qur'an, dan membaca cepat yang menghilangkan hak-hak huruf adalah makruh.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa tartil bukan berarti sangat lambat hingga keluar dari batas wajar, tetapi membaca dengan tenang, jelas, dan sesuai kaidah tajwid, sehingga pendengar dapat memahami dan perenung dapat merenungi.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa tartil membantu hati untuk merenungi makna Al-Qur'an, karena tujuan utama membaca adalah memahami dan mengamalkan.

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang sunnahnya tartil. Yang ada hanyalah perbedaan derajat: apakah tartil wajib atau sunnah? Jumhur ulama (termasuk Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad) berpendapat tartil hukumnya sunnah muakkadah, bukan wajib, selama tidak mengubah makna. Namun jika seseorang membaca dengan cepat hingga menghilangkan huruf atau mengubah makna, maka itu haram.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, adalah seorang yang bacaannya sangat tartil. Beliau pernah berkata: "Aku membaca Al-Qur'an dengan tartil, dan aku tidak menyelesaikannya dalam satu malam, karena aku ingin merenungi setiap ayat." (Disebutkan dalam riwayat yang dinisbatkan kepada beliau dalam kitab-kitab salaf).

Suatu ketika, seorang tabi'in bernama Qatadah bin Di'amah rahimahullah ditanya tentang bacaan yang paling utama. Beliau menjawab: "Bacaan yang paling utama adalah yang paling tartil, meskipun sedikit." Ini menunjukkan bahwa kualitas bacaan lebih penting daripada kuantitas.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah Al-Qur'an dengan tartil: perlahan, jelas, dan sesuai tajwid.
  2. Jangan tergesa-gesa: karena tergesa-gesa menghilangkan hak huruf dan mengurangi kekhusyukan.
  3. Hadirkan hati: tartil membantu kita merenungi makna dan mengamalkan isi Al-Qur'an.
  4. Ikuti sunnah Nabi ﷺ: sebagaimana ditegaskan dalam hadits Sa'd bin Abi Waqqas ini.
  5. Jika belum bisa tartil, belajarlah sedikit demi sedikit, karena yang penting adalah usaha dan kesungguhan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?