Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita agar membaca Al-Qur'an dengan suara yang indah dan merdu, serta menghayati maknanya. Bukan sekadar membaca, tetapi juga memperindah suara dan meresapi isi kandungannya. Ini adalah salah satu bentuk penghormatan dan kecintaan kita kepada Kalamullah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ
"Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak melantunkan Al-Qur'an (dengan suara yang indah)." (HR. Abu Dawud no. 1469, dari Sa'd bin Abi Waqqas)
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
"Maka apabila Kami telah membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu." (QS. Al-Qiyamah [75]: 18)
Ayat ini memerintahkan kita untuk mengikuti bacaan Al-Qur'an dengan penuh perhatian dan ketundukan, yang merupakan inti dari tartil dan penghayatan.
Penjelasan Ulama:
- Imam al-Khattabi (dalam Ma'alim as-Sunan, syarah Abu Dawud) menjelaskan bahwa makna yataghanna di sini adalah "memperindah suara" dan "melagukan" bacaan Al-Qur'an. Ini adalah perintah untuk tidak membaca dengan suara datar dan tanpa penghayatan.
- Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa tujuan utama dari "berlagu" dengan Al-Qur'an adalah untuk menghadirkan hati, merenungkan makna, dan merasakan keagungan Kalamullah. Ini bukanlah sekedar seni suara semata, tetapi ibadah yang menghidupkan hati.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa makna penting:
- Perintah Memperindah Suara: Makna yang paling kuat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Khattabi dan mayoritas ulama, adalah perintah untuk membaca Al-Qur'an dengan suara yang bagus dan merdu. Ini bukan berarti harus berlebihan hingga keluar dari kaidah tajwid, tetapi memperindah suara dalam koridor bacaan yang benar.
- Menghayati dan Merenungi Makna: Imam Ibnul Qayyim menekankan bahwa "berlagu" di sini juga mencakup menghayati isi kandungan ayat. Ketika membaca ayat tentang rahmat, hati merasa senang; ketika membaca ayat tentang azab, hati merasa takut. Ini adalah bentuk interaksi hati dengan Kalamullah.
- Bukan Berarti Harus dengan Lagu Tertentu: Penting untuk dipahami, hadits ini tidak mewajibkan kita untuk membaca dengan irama-irama tertentu (seperti bayyati, hijaz, dll). Yang terpenting adalah bacaan yang tartil (perlahan dan jelas sesuai tajwid) dan disertai penghayatan. Imam asy-Syafi'i dan para ulama lainnya membolehkan memperindah suara selama tidak merusak lafadz dan makna.
- Larangan Berlebihan: Para ulama juga mengingatkan agar tidak berlebihan dalam melagukan hingga mengubah harakat atau makna ayat. Ini dilarang karena bisa merusak Kalamullah. Tujuannya adalah untuk menambah kekhusyukan, bukan untuk pamer atau mencari popularitas.
Kesimpulan dari penjelasan para ulama: Hadits ini adalah dorongan untuk membaca Al-Qur'an dengan sebaik-baiknya, baik dari segi suara maupun hati. Ini adalah ibadah yang agung dan akan menjadi syafa'at bagi pembacanya di hari kiamat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu memiliki suara yang sangat merdu dalam membaca Al-Qur'an. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ mendengar bacaannya dan bersabda:
"Sungguh, orang ini telah dianugerahi seruling (suara merdu) dari keluarga Dawud." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa memperindah suara dalam membaca Al-Qur'an adalah sesuatu yang dipuji oleh Rasulullah ﷺ. Namun, perlu diingat bahwa keindahan suara Abu Musa tidak terlepas dari ketakwaan dan penghayatan hatinya. Beliau adalah seorang sahabat yang sangat zuhud dan takut kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan karena Allah: Saat membaca Al-Qur'an, niatkan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya, bukan untuk pamer atau mencari pujian.
- Pelajari dan Perbaiki Tajwid: Ini adalah kewajiban agar bacaan kita benar dan tidak merusak makna. Setelah itu, barulah kita bisa berusaha memperindah suara.
- Perbanyak Membaca dan Menghayati: Jangan hanya fokus pada keindahan suara, tetapi juga renungkan setiap ayat yang kita baca. Bacalah dengan pelan (tartil) dan resapi maknanya.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai Teman: Bacalah Al-Qur'an setiap hari, walaupun hanya beberapa ayat. Konsistensi lebih baik daripada banyak tetapi jarang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.