Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita untuk membaca Al-Qur'an dengan suara yang indah dan merdu, bukan untuk memperindah bacaan Al-Qur'an dengan suara kita, melainkan menjadikan suara kita sebagai hiasan bagi Al-Qur'an. Ini adalah anjuran untuk membaca Al-Qur'an dengan tartil, khusyuk, dan memperindah suara ketika membacanya, selama tidak melampaui batas dan tidak menyerupai nyanyian.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
- Perawi: Al-Bara' bin Azib radhiyallahu 'anhu
- Kitab: Sunan Abu Dawud, Kitab Witir, Bab Anjuran untuk Membaca Al-Qur'an dengan Tartil, no. 1468
- Teks Arab: زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
- Makna: "Hiasilah Al-Qur'an dengan suara-suara kalian."
Hadits Pendukung:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah tidak mendengar sesuatu sebagaimana Dia mendengar (bacaan Al-Qur'an) seorang nabi yang memperindah suaranya dengan Al-Qur'an." (HR. Al-Bukhari, no. 7544; Muslim, no. 792)
Penjelasan Ulama:
- Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah anjuran untuk membaca Al-Qur'an dengan suara yang bagus dan merdu, serta memperindah bacaan dengan tartil dan khusyuk.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menafsirkan bahwa "menghiasi Al-Qur'an dengan suara" berarti menjadikan suara kita indah ketika membaca Al-Qur'an, bukan menghiasi Al-Qur'an dengan suara yang dibuat-buat atau berlebihan.
- Imam Ahmad bin Hanbal (dalam Al-Masa'il) menegaskan bahwa membaca Al-Qur'an dengan suara yang indah adalah sunnah, asalkan tidak menyerupai lagu-lagu atau nyanyian yang melalaikan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki makna yang dalam dan perlu dipahami dengan benar agar tidak disalahartikan. Berikut penjelasan dari para ulama:
1. Makna "Zayyinu Al-Qur’ana bi ashwatikum"
- Imam al-Khattabi (dalam Ma'alim as-Sunan) menjelaskan bahwa maknanya adalah: "Hiasilah bacaan Al-Qur'an kalian dengan suara yang merdu dan indah, sehingga orang yang mendengarnya merasa tenang dan khusyuk."
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (dalam Zad al-Ma'ad) mengatakan bahwa memperindah suara ketika membaca Al-Qur'an adalah bagian dari menghormati dan mengagungkan Kalamullah.
2. Batasan dalam Memperindah Suara
Para ulama memberikan rambu-rambu penting:
- Imam asy-Syafi'i (dalam Al-Umm) menegaskan bahwa memperindah suara dalam membaca Al-Qur'an adalah sunnah, tetapi harus dengan tartil dan tidak berlebihan hingga keluar dari kaidah tajwid.
- Imam Malik (dalam Al-Mudawwanah) melarang membaca Al-Qur'an dengan irama yang menyerupai nyanyian atau lagu, karena dapat mengurangi kekhusyukan dan menghilangkan adab terhadap Kalamullah.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin) menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah suara yang indah secara fitrah, bukan suara yang dibuat-buat atau dilatih seperti penyanyi.
3. Tujuan Memperindah Suara
- Imam al-Ghazali (dalam Ihya' Ulum ad-Din) mengatakan bahwa tujuan memperindah suara adalah untuk merenungkan makna Al-Qur'an dan memudahkan hati untuk menerima nasihat-nasihatnya.
- Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Fath al-Bari) menekankan bahwa suara yang indah akan membantu seseorang untuk lebih khusyuk dan meresapi ayat-ayat Allah.
4. Peringatan dari Ghuluw (Berlebihan)
- Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang membaca Al-Qur'an dengan suara yang dibuat-buat, beliau menjawab: "Ini adalah perkara baru (bid'ah) yang tidak dilakukan oleh para sahabat."
- Syeikh Abdul Aziz bin Baz (dalam Majmu' Fatawa) mengingatkan agar tidak meniru gaya membaca seperti penyanyi atau qasidah, karena hal itu dapat merusak adab terhadap Al-Qur'an.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abdullah bin al-Mubarak (seorang ulama besar tabi'ut tabi'in), beliau pernah ditanya: "Wahai Abu Abdurrahman, bagaimana cara membaca Al-Qur'an yang paling utama?" Beliau menjawab: "Bacalah dengan suara yang membuatmu menangis, meskipun engkau tidak bisa menangis, berusahalah untuk menangis. Karena Al-Qur'an diturunkan untuk membuat kita merenung dan menangis, bukan untuk bernyanyi."
Kisah ini mengajarkan bahwa tujuan utama memperindah suara adalah untuk menghidupkan hati, bukan untuk pamer atau mencari popularitas.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah Al-Qur'an dengan suara yang indah sesuai kemampuan fitrah kita, tanpa dipaksakan atau dibuat-buat.
- Utamakan tartil dan tajwid daripada keindahan suara semata.
- Jadikan bacaan Al-Qur'an sebagai sarana tadabbur (merenungkan makna), bukan sekadar hiburan atau lagu.
- Hindari berlebihan dalam memperindah suara hingga menyerupai nyanyian atau musik.
- Perbanyak membaca Al-Qur'an dengan khusyuk dan penuh adab, karena setiap hurufnya bernilai pahala.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.