Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur'an dengan tartil (perlahan dan jelas), bahkan ketika sedang dalam perjalanan di atas kendaraan. Beliau membaca Surah Al-Fath dengan mentarji' (mengulang-ulang ayat) sebagai bentuk penghayatan dan pengagungan terhadap makna ayat yang dibaca. Ini adalah dalil tentang disunnahkannya membaca Al-Qur'an dengan tartil dan merenungkan maknanya, bukan sekadar membaca cepat tanpa tadabbur.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits riwayat Abu Dawud no. 1467:
Teks hadits yang Anda cantumkan sudah benar dan sesuai dengan lafazh yang terdapat dalam Sunan Abu Dawud. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan an-Nasa'i.
Dalil Al-Qur'an tentang perintah tartil:
Allah ﷻ berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)."
(QS. Al-Muzzammil [73]: 4)
Penjelasan ulama tentang makna tartil:
- Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa tartil berarti membaca dengan perlahan dan tidak tergesa-gesa, serta merenungkan makna ayat-ayatnya.
- Syeikh Abdurrahman as-Sa'di (w. 1376 H) dalam Tafsir as-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman) menjelaskan bahwa tartil mencakup membaca dengan baik, memahami makna, dan merenungkan kandungannya.
Penjelasan Rinci
Makna "يُرَجِّعُ" (yurajji') dalam hadits:
Para ulama menjelaskan bahwa tarji' dalam bacaan Al-Qur'an memiliki beberapa makna:
- Mengulang-ulang ayat — yaitu mengulangi satu ayat atau beberapa ayat untuk dihayati maknanya. Ini adalah pendapat yang paling masyhur.
- Membaca dengan suara yang naik turun — yaitu memperindah suara dengan irama yang merdu.
Imam Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa tarji' di sini maknanya adalah mengulang-ulang bacaan ayat, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengulang-ulang firman Allah:
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(QS. Al-Ma'idah [5]: 118)
Beliau mengulang-ulang ayat ini sambil menangis hingga waktu Subuh, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah.
Hikmah membaca Surah Al-Fath pada hari Fathu Makkah:
Surah Al-Fath berisi kabar gembira tentang kemenangan yang nyata (fathan mubina). Ketika Nabi ﷺ memasuki Makkah sebagai penakluk, beliau membaca surah ini sebagai wujud syukur dan pengagungan kepada Allah yang telah menepati janji-Nya. Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an yang sesuai dengan kondisi dan peristiwa adalah perbuatan yang baik.
Pelajaran dari hadits ini:
- Boleh membaca Al-Qur'an di atas kendaraan — ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an tidak terbatas pada tempat tertentu, selama dalam keadaan suci dan tidak ada halangan syar'i.
- Membaca dengan tartil adalah sunnah — meskipun dalam perjalanan, Nabi ﷺ tetap membaca dengan tartil dan penghayatan.
- Mengulang-ulang ayat untuk tadabbur — ini adalah bentuk interaksi aktif dengan Al-Qur'an, bukan sekadar membaca tanpa memahami.
Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam at-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur'an menjelaskan bahwa disunnahkan bagi pembaca Al-Qur'an untuk mentadabburi dan merenungkan makna ayat, dan jika hatinya tersentuh oleh suatu ayat, ia boleh mengulanginya.
Story Telling
Diriwayatkan dari Mujahid bin Jabr (w. 104 H), seorang ulama tabi'in yang terkenal sebagai murid Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: "Tidaklah aku mendengar satu ayat pun dari Al-Qur'an melainkan aku ingin mengetahui maknanya dan apa yang dimaksud dengannya."
Ini menunjukkan semangat para salaf dalam memahami dan menghayati Al-Qur'an. Mereka tidak puas hanya membaca lafazhnya, tetapi mereka berusaha merenungkan dan mengamalkan isinya.
Dalam riwayat lain, Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dikenal sangat lambat dalam membaca Al-Qur'an karena beliau mentadabburi setiap ayat. Beliau pernah ditanya tentang hal ini dan menjawab bahwa membaca dengan tartil dan tadabbur lebih utama daripada membaca cepat tanpa pemahaman.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan membaca Al-Qur'an dengan tartil — perlahan, jelas, dan sesuai kaidah tajwid.
- Renungkan makna ayat yang dibaca — jangan hanya mengejar khatam tanpa memahami.
- Boleh mengulang-ulang ayat yang menyentuh hati — ini adalah bentuk interaksi yang dicontohkan Nabi ﷺ.
- Manfaatkan waktu perjalanan untuk beribadah — membaca Al-Qur'an di kendaraan adalah amalan yang baik.
- Sesuaikan bacaan dengan kondisi — seperti Nabi ﷺ yang membaca Surah Al-Fath saat kemenangan Makkah sebagai wujud syukur.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.