Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1465 tentang Anjuran membaca Al-Qur'an dengan tartil

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dengan tartil, yaitu pelan, jelas, dan memanjangkan bacaan (mad) pada tempatnya. Ini bukan sekadar bacaan biasa, tetapi cara membaca yang menjadi teladan bagi umat Islam. Tujuannya agar makna ayat dapat direnungkan dan huruf-hurufnya ditunaikan dengan benar.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Muzzammil [73]: 4

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Terjemahan: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan dan jelas)."

Hadits:

Hadits riwayat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Witir, Bab Anjuran Membaca dengan Tartil, no. 1465.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ سَأَلْتُ أَنَسًا عَنْ قِرَاءَةِ النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ كَانَ يَمُدُّ مَدًّا

Terjemahan: "Qatadah berkata: Saya bertanya kepada Anas tentang bacaan Al-Qur'an oleh Nabi ﷺ. Dia berkata: Beliau biasa mengucapkan semua huruf panjang dengan jelas."

Kaitan dengan ulama:

  • Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (Tabi'in) adalah perawi hadits ini, dan beliau dikenal sebagai ahli tafsir dan qira'ah.
  • Imam Abu Dawud as-Sijistani meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya.
  • Imam an-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an menjelaskan bahwa tartil adalah menghiasi bacaan dengan tajwid dan memperhatikan huruf-hurufnya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa memanjangkan bacaan (mad) adalah sunnah yang dicontohkan Nabi ﷺ.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tartil berarti membaca dengan tenang, tidak tergesa-gesa, dan memperhatikan makna.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menjelaskan cara Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an. Qatadah, seorang Tabi'in yang mulia, bertanya langsung kepada Anas bin Malik, sahabat Nabi yang lama menyertai beliau. Jawaban Anas sangat singkat namun padat: "كَانَ يَمُدُّ مَدًّا" — beliau memanjangkan (bacaan) dengan sungguh-sungguh.

Para ulama menjelaskan makna "mad" di sini:

  1. Imam an-Nawawi dalam At-Tibyan menyatakan bahwa Nabi ﷺ membaca dengan tartil, yaitu memanjangkan huruf mad (alif, wawu, ya) sesuai kaidah tajwid, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil bahwa maksud "mad" adalah memanjangkan bacaan pada tempat-tempat yang memang harus dipanjangkan, seperti mad thabi'i (2 harakat) dan mad lainnya sesuai kaidah.
  3. Ibn Katsir dalam tafsirnya tentang QS. Al-Muzzammil [73]: 4 menjelaskan bahwa tartil adalah membaca dengan jelas, perlahan, dan merenungkan maknanya. Beliau juga menyebutkan bahwa membaca dengan tartil lebih utama daripada cepat namun tidak jelas.
  4. Qatadah sendiri, sebagai perawi hadits ini, adalah seorang Tabi'in yang dikenal sebagai ahli qira'ah dan tafsir. Pertanyaannya kepada Anas menunjukkan perhatian beliau terhadap cara membaca Nabi ﷺ.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang seberapa panjang "mad" yang dimaksud. Namun kesimpulannya, semua sepakat bahwa Nabi ﷺ membaca dengan tartil, tidak tergesa-gesa, dan memperhatikan kaidah bacaan. Yang paling kuat adalah pendapat Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar bahwa mad di sini mencakup semua mad yang sesuai dengan kaidah tajwid, karena Anas mengatakan "يَمُدُّ مَدًّا" secara mutlak, menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memanjangkan bacaan pada semua tempat yang semestinya.

Hikmah:

  • Membaca dengan tartil membantu memahami makna Al-Qur'an.
  • Menjaga hak-hak huruf, seperti mad, idgham, ikhfa, dan lainnya.
  • Meneladani Nabi ﷺ dalam ibadah, termasuk bacaan Al-Qur'an.
  • Menghindari bacaan yang terlalu cepat sehingga huruf-hurufnya tidak jelas.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Qatadah bin Di'amah as-Sadusi, seorang Tabi'in yang buta sejak kecil namun hafal Al-Qur'an dan menjadi ahli tafsir, bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, sahabat Nabi ﷺ yang terakhir wafat di Bashrah. Qatadah ingin mengetahui secara pasti bagaimana Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an. Anas menjawab dengan singkat: "Beliau memanjangkan bacaan dengan sungguh-sungguh."

Anas bin Malik sendiri adalah sahabat yang melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun dan sangat dekat dengan beliau. Beliau menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dalam shalat malam, shalat wajib, dan kesempatan lainnya. Jawaban Anas ini menjadi rujukan penting bagi para ulama qira'ah setelahnya.

Hikmah: Semangat Qatadah dalam bertanya langsung kepada sahabat menunjukkan pentingnya menimba ilmu dari sumber yang terpercaya. Anas bin Malik sebagai sahabat yang lama bersama Nabi ﷺ memberikan jawaban yang menjadi pedoman bagi umat Islam dalam membaca Al-Qur'an.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah Al-Qur'an dengan tartil — pelan, jelas, dan sesuai kaidah tajwid.
  2. Panjangkan bacaan pada tempatnya (mad) sesuai kaidah, jangan terlalu cepat.
  3. Teladani Nabi ﷺ dalam setiap ibadah, termasuk cara membaca Al-Qur'an.
  4. Perhatikan huruf-huruf agar tidak berubah makna.
  5. Renungkan makna ayat yang dibaca, karena tartil membantu memahami pesan Al-Qur'an.
  6. Belajarlah tajwid kepada guru yang terpercaya agar bacaan sesuai sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?