Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa kedudukan paling mulia di sisi Allah adalah bagi orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya kepada orang lain. Belajar dan mengajar Al-Qur'an adalah amalan yang sangat utama karena berkaitan langsung dengan kalamullah, sumber petunjuk hidup. Keutamaan ini mencakup siapa saja yang melakukannya dengan ikhlas, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
QS. Fathir [35]: 29-30
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ * لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an), menegakkan shalat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya kepada mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri."
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Witir, Bab tentang Pahala Membaca Al-Qur'an, no. 1452. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, no. 5027, dari sahabat mulia Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil utama tentang keutamaan belajar dan mengajar Al-Qur'an. Beliau berkata, "Hadits ini menunjukkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling sibuk dengan Al-Qur'an, baik dalam mempelajarinya maupun mengajarkannya." (Lihat: At-Tibyan, hlm. 19, tahqiq: Majdi Fathi as-Sayyid)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga sering menekankan bahwa keutamaan ini tidak terbatas pada guru ngaji saja, tetapi mencakup setiap muslim yang berusaha memahami Al-Qur'an dan menyampaikannya kepada orang lain, walau hanya satu ayat. (Syarh Riyadhus Shalihin, 3/342)
Penjelasan Rinci
Makna Hadits:
Sabda Nabi ﷺ, "خَيْرُكُمْ" (sebaik-baik kalian) menunjukkan tingkatan tertinggi dalam kebaikan. Ini adalah pujian yang sangat besar dari Rasulullah ﷺ. Lalu beliau mengaitkannya dengan dua hal: "مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ" (yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya).
Pertama: Belajar Al-Qur'an (تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ)
Belajar Al-Qur'an mencakup beberapa tingkatan:
- Belajar membaca dengan tajwid yang benar.
- Belajar menghafal ayat-ayatnya.
- Belajar memahami makna dan tafsirnya.
- Belajar mengambil pelajaran dan hukum darinya.
- Belajar mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitab Fadhlu 'Ilmis Salaf 'alal Khalaf menjelaskan bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang Kitabullah, karena ia adalah sumber segala ilmu. Maka mempelajarinya adalah kewajiban bagi setiap muslim sesuai kemampuannya.
Kedua: Mengajarkan Al-Qur'an (عَلَّمَهُ)
Mengajarkan Al-Qur'an juga memiliki tingkatan:
- Mengajarkan bacaan dan tajwid.
- Mengajarkan hafalan.
- Mengajarkan tafsir dan makna.
- Mengajarkan adab-adab terhadap Al-Qur'an.
- Mengajak orang lain untuk mengamalkannya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya Taisir al-Karimir Rahman menafsirkan ayat QS. Fathir [35]: 29-30 di atas dengan mengatakan bahwa membaca Al-Qur'an, mengamalkannya, dan mengajarkannya adalah perdagangan yang tidak akan pernah merugi. Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya.
Keutamaan Gabungan:
Keutamaan terbesar ada pada orang yang menggabungkan antara belajar dan mengajar. Seorang yang hanya belajar tapi tidak mengajar, kebaikannya terbatas pada dirinya sendiri. Seorang yang hanya mengajar tapi tidak terus belajar, ilmunya bisa stagnan. Maka sebaik-baik manusia adalah yang terus belajar dan juga menyebarkan ilmunya.
Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya membuat bab khusus: "Bab: Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." Beliau ingin menekankan bahwa amalan ini adalah amalan para nabi dan rasul, yaitu menyampaikan risalah Allah.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Abdurrahman as-Sulami rahimahullah, beliau adalah seorang tabi'in besar yang mengambil ilmu dari para sahabat. Beliau berkata:
> "Orang-orang yang membacakan Al-Qur'an kepada kami (para sahabat) seperti Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas'ud, dan lainnya, apabila mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi ﷺ, mereka tidak akan melanjutkan ke ayat berikutnya hingga mereka memahami ilmu dan amal yang terkandung di dalamnya." (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, no. 29999, sanadnya shahih)
Lihatlah bagaimana para sahabat dan tabi'in mempraktikkan hadits ini. Mereka tidak hanya belajar bacaannya, tetapi juga makna dan pengamalannya. Inilah teladan terbaik bagi kita.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan Ikhlas: Belajar dan mengajar Al-Qur'an harus diniatkan semata-mata karena Allah, bukan untuk pujian atau popularitas.
- Mulai dari Diri Sendiri: Belajarlah membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar. Jika sudah bisa, tingkatkan dengan memahami tafsirnya.
- Jangan Tunda Mengajar: Jika Anda memiliki ilmu walau sedikit, jangan ragu untuk mengajarkannya kepada keluarga, tetangga, atau teman. Sabda Nabi ﷺ: "Sampaikanlah dariku walau satu ayat." (HR. Al-Bukhari)
- Konsisten dan Sabar: Belajar dan mengajar Al-Qur'an membutuhkan kesabaran. Jangan mudah bosan. Teruslah berusaha dan berdoa kepada Allah agar dimudahkan.
- Amalkan Ilmu: Ilmu Al-Qur'an yang paling utama adalah yang diamalkan. Jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar bacaan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.