Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1448 tentang Keutamaan shalat sunnah di rumah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memerintahkan kita untuk mengerjakan sebagian shalat sunnah di rumah, bukan hanya di masjid. Rumah yang tidak pernah dipakai untuk shalat disebut seperti "kuburan", yaitu tempat yang kosong dari ibadah dan cahaya ketaatan. Tujuannya agar rumah kita hidup dengan zikir dan shalat, dan agar keluarga ikut merasakan keberkahan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, dalam Sunan Abu Dawud no. 1448, Kitab Witir, Bab Keutamaan Shalat Sunnah di Rumah:

<p>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ، وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا»</p>

Terjemahan: "Jadikanlah di rumah-rumah kalian sebagian dari shalat kalian, dan janganlah kalian menjadikannya sebagai kuburan."

Hadits ini juga diriwayatkan Al-Bukhari (no. 432) dan Muslim (no. 777) dengan lafaz serupa, sehingga derajatnya shahih.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan — QS. Al-Isra' [17]: 78:

<p>وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا</p>

Terjemahan: "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat malam (sunnah) adalah ibadah yang dianjurkan, dan rumah adalah tempat terbaik untuk mengerjakannya.

Penjelasan Rinci

Makna "jadikanlah di rumah kalian sebagian dari shalat kalian"

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perintah ini mencakup shalat sunnah rawatib, tahajud, witir, dan shalat sunnah lainnya. Beliau menegaskan bahwa mengerjakan shalat sunnah di rumah lebih utama daripada di masjid, kecuali shalat sunnah yang memang disyariatkan berjamaah seperti tarawih dan istisqa.

Makna "jangan jadikan rumah sebagai kuburan"

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kuburan adalah tempat yang tidak dipakai untuk shalat dan zikir. Maka rumah yang tidak pernah dipakai shalat sunnah menyerupai kuburan: sunyi dari ibadah, sunyi dari cahaya ketaatan. Ini adalah perumpamaan yang sangat halus dari Nabi ﷺ.

Hikmah-hikmah yang disebutkan para ulama:

  1. Rumah menjadi tempat turunnya rahmat dan keberkahan. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa shalat di rumah mendatangkan keberkahan bagi penghuninya dan mengusir syaitan.
  2. Mendidik keluarga. Ketika kepala keluarga shalat sunnah di rumah, anak dan istri melihat dan meniru. Ini pendidikan iman yang paling efektif.
  3. Menjaga keikhlasan. Shalat di rumah lebih tersembunyi, sehingga lebih jauh dari riya'. Imam An-Nawawi menukil bahwa sebagian salaf sengaja menyembunyikan amalan sunnah mereka.
  4. Membedakan rumah muslim dari rumah orang yang lalai. Rumah yang hidup dengan shalat adalah tanda iman yang benar.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

  • Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat shalat sunnah rawatib lebih utama di rumah, berdasarkan hadits ini.
  • Imam Malik juga menguatkan hal ini untuk shalat sunnah secara umum.
  • Imam Abu Hanifah membolehkan shalat sunnah di masjid, namun tetap mengakui keutamaan rumah untuk sebagian shalat sunnah.

Yang paling kuat adalah pendapat jumhur (mayoritas) dari daftar ulama di atas: shalat sunnah lebih utama di rumah, kecuali yang disyariatkan berjamaah. Ini sesuai zhahir hadits dan diperkuat riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma — perawi hadits ini — adalah seorang yang sangat teliti mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Beliau dikenal mengerjakan shalat sunnah di rumahnya, dan beliau pernah berkata bahwa rumah yang tidak dipakai shalat adalah rumah yang "mati". Para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri juga menganjurkan agar seorang hamba memiliki "shalat sirr" (shalat tersembunyi) di rumahnya yang tidak diketahui orang lain, agar menjadi simpanan amal di akhirat.

Hikmahnya: amal yang tersembunyi lebih dekat kepada keikhlasan, dan rumah yang hidup dengan shalat akan memancarkan cahaya ketaatan bagi seluruh penghuninya.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan shalat sunnah rawatib, witir, dan tahajud di rumah, bukan hanya di masjid.
  2. Jangan biarkan rumah kosong dari shalat sunnah, karena itu tanda rumah yang "seperti kuburan".
  3. Ajari keluarga untuk shalat sunnah di rumah, agar rumah menjadi madrasah iman.
  4. Jaga keikhlasan dengan memperbanyak amal tersembunyi di rumah.
  5. Shalat fardhu tetap di masjid bagi laki-laki, sedangkan sunnah lebih utama di rumah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?