Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1430 tentang Doa setelah shalat witir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ setelah salam dari shalat witir membaca dzikir: "سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ" (Maha Suci Allah, Sang Raja yang Maha Suci). Ini adalah dzikir yang dianjurkan setelah witir, dan sebagian ulama menyebutkan bahwa beliau mengucapkannya dengan suara yang dikeraskan agar menjadi pengajaran bagi makmum, lalu diulang tiga kali menurut riwayat lain. Ini termasuk sunnah yang ringan namun penuh makna tauhid.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil utama adalah hadits yang Anda sebutkan, diriwayatkan oleh Ubayy bin Ka'b radhiyallahu 'anhu dalam Sunan Abu Dawud no. 1430, Kitab Witir, Bab Doa Setelah Witir.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ طَلْحَةَ الأَيَامِيِّ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا سَلَّمَ فِي الْوِتْرِ قَالَ " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ "

Terjemahan: Dari Ubayy bin Ka'b, ia berkata: "Adalah Rasulullah ﷺ apabila mengucapkan salam dalam shalat witir, beliau membaca: Subhaanal-Malikil-Qudduus (Maha Suci Allah, Sang Raja yang Maha Suci)."

Ayat yang berkaitan dengan makna nama Allah "Al-Malik" dan "Al-Quddus":

QS. Al-Hasyr [59]: 23

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Terjemahan: "Dialah Allah yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Memberi Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan."

Kaitan dengan ulama: Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas dzikir setelah witir ini ketika menjelaskan bab-bab witir, dan menyebutkan bahwa lafazh ini tsabit dari Nabi ﷺ. Imam Abu Dawud sendiri meriwayatkannya dalam Sunan-nya, dan Al-Albani menghasankannya dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

Penjelasan Rinci

Makna lafazh dzikir:

  • سُبْحَانَ (Subhaana): Maha Suci, yaitu menyucikan Allah dari segala kekurangan, aib, dan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan-Nya.
  • الْمَلِكِ (Al-Malik): Yang Maha Raja, pemilik dan penguasa seluruh kerajaan langit dan bumi, yang mengatur segala urusan tanpa sekutu.
  • الْقُدُّوسِ (Al-Qudduus): Yang Maha Suci, bersih dari segala kekurangan dan keserupaan dengan makhluk.

Kapan dibaca: Setelah salam dari shalat witir. Sebagian riwayat dalam Sunan an-Nasa'i dan Sunan Abu Dawud menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkannya tiga kali, dan pada ucapan yang ketiga beliau mengeraskan suara. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa mengeraskan suara pada kali ketiga bertujuan untuk mengajari para makmum dan menegaskan dzikir tersebut.

Pemahaman ulama daftar:

  • Imam An-Nawawi dalam kitab-kitab syarahnya menjelaskan bahwa dzikir ini disunnahkan setelah witir, dan termasuk dzikir yang ringkas namun mencakup pujian agung kepada Allah dengan dua nama-Nya yang mulia: Al-Malik dan Al-Qudduus.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika membahas witir menyebutkan bahwa dzikir ini menunjukkan disyariatkannya mengingat Allah setelah selesainya ibadah malam, sebagaimana Allah memerintahkan berdzikir setelah selesai dari shalat (QS. An-Nisa [4]: 103).
  • Syeikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud menilai hadits ini hasan, dan menyebutkan bahwa tambahan "tiga kali" serta mengeraskan suara pada kali ketiga memiliki syawahid (penguat) dari riwayat lain.
  • Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaadul Ma'aad menyebutkan bahwa di antara petunjuk Nabi ﷺ setelah witir adalah membaca dzikir ini, dan beliau menjadikannya sebagai penutup ibadah malam dengan pujian kepada Allah.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama berbeda apakah dzikir ini dibaca setelah salam atau sebelum salam. Namun yang rajih (kuat) adalah setelah salam, sesuai zhahir hadits Ubayy bin Ka'b ini, dan inilah yang dipegang oleh jumhur ulama seperti An-Nawawi dan Ibnu Hajar. Adapun mengeraskan suara, sebagian ulama mengkhususkan pada kali ketiga saja, dan ini yang disebutkan dalam riwayat An-Nasa'i.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ubayy bin Ka'b radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat utama yang dipercaya Nabi ﷺ untuk mengajarkan Al-Qur'an, memperhatikan dengan teliti bagaimana Nabi ﷺ mengakhiri shalat witirnya. Ia tidak hanya menghafal gerakan dan bacaan, tetapi juga mencatat dzikir penutup yang keluar dari lisan Nabi ﷺ. Perhatian sahabat seperti ini menunjukkan betapa mereka sangat menjaga sunnah, bahkan dalam perkara yang ringan sekalipun. Dari perhatian inilah umat Islam hingga hari ini mengetahui dzikir Subhaanal-Malikil-Qudduus setelah witir. (Disebutkan secara makna dalam Sunan Abu Dawud dan Sunan an-Nasa'i.)

Kesimpulan Praktis

  1. Setelah salam dari shalat witir, bacalah: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ.
  2. Menurut riwayat lain, bacalah tiga kali, dan pada kali ketiga boleh mengeraskan suara — terutama jika menjadi imam yang mengajari makmum.
  3. Dzikir ini adalah sunnah yang ringan namun mengandung tauhid yang agung: menyucikan Allah sebagai Raja dan Yang Maha Suci.
  4. Jangan tinggalkan witir, karena ia adalah sunnah yang sangat ditekankan Nabi ﷺ, dan tutuplah dengan dzikir ini.
  5. Bila ada perbedaan pemahaman di antara ulama, ikutilah yang paling kuat dalilnya dan hindari perdebatan yang tidak bermanfaat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?