Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1421 tentang Shalat malam berpasangan dan witir satu rakaat di akhir malam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat malam (qiyamul lail) dikerjakan dengan cara dua rakaat-dua rakaat (berpasangan), dan witir dikerjakan satu rakaat di akhir malam. Ini adalah petunjuk langsung dari Nabi ﷺ tentang tata cara shalat malam yang paling utama, yaitu berpasangan dan ditutup dengan witir.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَجُلاً، مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ سَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ فَقَالَ بِأُصْبُعَيْهِ هَكَذَا مَثْنَى مَثْنَى وَالْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ

Makna: Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa seorang lelaki dari penduduk pedalaman bertanya kepada Nabi ﷺ tentang shalat malam. Maka beliau memberi isyarat dengan dua jarinya - begini - yaitu dua rakaat-dua rakaat, dan witir itu satu rakaat di akhir malam.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 749) dari jalur yang sama, dan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat malam secara berpasangan (dua rakaat-dua rakaat), dan witir satu rakaat di akhir.

Dalil Al-Qur'an yang terkait:

Allah ﷻ berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra' [17]: 79)

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Shalat malam dikerjakan dua rakaat-dua rakaat

Imam Qatadah (yang meriwayatkan hadits ini dari Abdullah bin Syaqiq) memahami bahwa shalat malam itu dilakukan dengan cara mitsna mitsna (dua rakaat-dua rakaat), yaitu setiap dua rakaat diakhiri dengan salam. Ini adalah bentuk yang paling utama dan paling sering dilakukan oleh Nabi ﷺ.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ biasa shalat malam dua rakaat-dua rakaat, dan tidak pernah shalat empat rakaat dengan satu salam dalam shalat sunnah malam. Ini menunjukkan bahwa cara berpasangan adalah yang paling afdhal.

2. Witir adalah satu rakaat di akhir malam

Nabi ﷺ menjelaskan bahwa witir itu satu rakaat yang dikerjakan di akhir malam. Ini menunjukkan bahwa witir tidak boleh dikerjakan dua rakaat, melainkan ganjil - dan paling sedikit adalah satu rakaat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Arba'in menjelaskan bahwa witir bisa dilakukan satu rakaat saja, atau tiga rakaat, lima rakaat, dan seterusnya dengan jumlah ganjil. Namun yang terpenting, witir itu penutup shalat malam.

3. Isyarat dua jari Nabi ﷺ

Nabi ﷺ memberi isyarat dengan dua jarinya untuk menjelaskan makna "mitsna mitsna" (berpasangan). Ini menunjukkan bahwa beliau mengajarkan dengan cara yang mudah dipahami, bahkan oleh orang Badui yang baru bertanya.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa isyarat ini untuk memperjelas bahwa setiap dua rakaat itu dipisahkan dengan salam, seperti dua jari yang terpisah namun berdekatan.

4. Waktu witir di akhir malam

Ungkapan "dari akhir malam" menunjukkan bahwa witir yang paling utama adalah di akhir malam, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Barangsiapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, maka hendaknya ia witir di awal malam. Dan barangsiapa yang yakin bisa bangun di akhir malam, maka witir di akhir malam lebih utama." (HR. Muslim)

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma - yang meriwayatkan hadits ini - sangat bersemangat dalam shalat malam. Beliau sering menghidupkan malamnya dengan shalat, dan jika merasa kantuk, beliau berkata kepada pembantunya: "Bangunkan aku untuk shalat." Beliau memahami betul bahwa shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat, dan witir di akhir sebagai penutup.

Dari sini kita belajar bahwa para sahabat sangat antusias mengamalkan petunjuk Nabi ﷺ dalam shalat malam, dan mereka menjaga witir sebagai penutup ibadah malam mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat malam (tahajud/qiyamul lail) sebaiknya dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, yaitu setiap dua rakaat diakhiri dengan salam.
  2. Witir dikerjakan satu rakaat di akhir shalat malam sebagai penutup.
  3. Jika seseorang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, ia boleh witir sebelum tidur. Namun jika mampu, witir di akhir malam lebih utama.
  4. Jumlah rakaat witir boleh satu, tiga, lima, atau lebih - yang penting ganjil.
  5. Yang terpenting adalah menjaga shalat malam secara rutin, meskipun hanya sedikit, karena Allah mencintai amalan yang konsisten meskipun kecil.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?