Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa sujud tilawah ketika membaca Surah Al-Insyiqaq (QS. Al-Insyiqaq [84]) adalah sunnah yang tetap dan diamalkan. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bersumpah akan terus melakukannya sampai bertemu Nabi ﷺ, karena beliau pernah melihat langsung Nabi ﷺ sujud pada surah tersebut. Ini menjadi dalil kuat bahwa sujud pada surah ini bukanlah hal yang ditinggalkan, melainkan sunnah yang dijaga.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
QS. Al-Insyiqaq [84]: 1
إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ
"Apabila langit terbelah."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Sujud Al-Qur'an, Bab Sujud pada "Idzas Samaa'unsyaqqat". Sanadnya: Musaddad → Al-Mu'tamir → ayahnya (Sufyan bin 'Uyainah) → Bakr → Abu Rafi'. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan makna serupa, dan Imam an-Nawawi menyebutkannya dalam Syarh Shahih Muslim sebagai dalil disyariatkannya sujud tilawah pada Surah Al-Insyiqaq.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Abu Dawud (penyusun hadits ini) menempatkannya dalam kitab khusus tentang sujud Al-Qur'an, menunjukkan perhatian beliau terhadap bab ini.
- Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' dan Syarh Muslim menjelaskan bahwa sujud tilawah pada surah-surah tertentu — termasuk Al-Insyiqaq — adalah sunnah yang disepakati.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits Abu Hurairah ini menjadi dalil bahwa sujud pada surah Al-Insyiqaq dilakukan baik dalam shalat maupun di luar shalat.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ konsisten melakukan sujud tilawah pada surah-surah 'aza'im (surah-surah yang memiliki ayat sajdah).
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Penetapan sujud tilawah pada Surah Al-Insyiqaq.
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat yang sangat kuat hafalannya dan lama menyertai Nabi ﷺ — secara tegas menyatakan bahwa ia sujud karena pernah melihat Nabi ﷺ sujud pada surah ini. Ini menunjukkan bahwa sujud pada Surah Al-Insyiqaq adalah sunnah yang tsabit (tetap) dan bukan pendapat pribadi.
Kedua: Sujud tilawah boleh dilakukan dalam shalat.
Hadits ini menyebutkan bahwa Abu Hurairah sujud ketika sedang shalat 'Atamah (shalat Isya). Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa sujud tilawah dalam shalat adalah sunnah, baik pada shalat sirriyah (yang tidak dikeraskan) maupun jahriyah (yang dikeraskan). Imam Abu Hanifah juga menyatakan hal serupa, meskipun dalam beberapa rincian ada perbedaan.
Ketiga: Semangat mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
Ucapan Abu Hurairah: "فَلَا أَزَالُ أَسْجُدُ بِهَا حَتَّى أَلْقَاهُ" ("Saya akan terus sujud karena ini sampai saya bertemu dengannya") menunjukkan kecintaan dan komitmen beliau untuk mengamalkan sunnah sampai akhir hayat. Ini adalah teladan bagi kita dalam berittiba' (mengikuti) Nabi ﷺ.
Keempat: Perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Para ulama dari daftar yang disebutkan berbeda pendapat tentang jumlah ayat sajdah dalam Al-Qur'an. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat ada 14 ayat sajdah, termasuk Surah Al-Insyiqaq. Imam Abu Hanifah berpendapat ada 14 juga, namun dengan rincian yang sedikit berbeda. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa sujud tilawah adalah bentuk ketundukan hati dan anggota badan kepada Allah ketika mendengar ayat-ayat yang menggetarkan.
Kelima: Hikmah sujud pada Surah Al-Insyiqaq.
Surah ini menggambarkan peristiwa dahsyat hari kiamat — langit terbelah, bumi diratakan, dan manusia menghadap Rabb-nya. Sujud di sini adalah bentuk pengakuan kehambaan di hadapan keagungan Allah. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat awal surah ini menggambarkan ketundukan alam semesta kepada perintah Allah, maka pantas bagi manusia untuk sujud dan tunduk.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — yang masuk Islam pada tahun 7 H dan hanya sekitar 3 tahun bersama Nabi ﷺ — namun karena kesungguhannya, beliau menjadi salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau sangat bersemangat menanyakan setiap amalan Nabi ﷺ kepada para sahabat yang lebih dahulu masuk Islam, dan tidak segan mengamalkan apa yang beliau ketahui.
Suatu ketika, setelah shalat Isya berjamaah, Abu Rafi' — seorang tabi'in — memperhatikan Abu Hurairah sujud di tengah shalat. Ia bertanya dengan heran, "Apa sujud ini?" Abu Hurairah menjawab dengan jawaban yang menunjukkan kedalaman ilmu dan kecintaannya kepada Nabi ﷺ: "Saya sujud karena ini di belakang Abu Al-Qasim (Nabi ﷺ), dan saya akan terus sujud sampai saya bertemu beliau."
Ucapan ini bukan sekadar janji, tetapi bukti kesetiaan seorang murid kepada gurunya. Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' menyebutkan bahwa Abu Hurairah dikenal sebagai sahabat yang paling gigih menjaga sunnah, bahkan beliau pernah berkata, "Aku membagi malamku menjadi tiga: sepertiga untuk shalat, sepertiga untuk tidur, dan sepertiga untuk mengingat hadits Nabi ﷺ."
Hikmahnya: Cinta kepada sunnah melahirkan komitmen untuk mengamalkannya sampai akhir hayat. Sebagaimana Abu Hurairah, kita pun hendaknya menjadikan sunnah Nabi ﷺ sebagai pedoman hidup, bukan hanya pengetahuan.
Kesimpulan Praktis
- Sujud tilawah pada Surah Al-Insyiqaq adalah sunnah yang dianjurkan, baik dalam shalat maupun di luar shalat.
- Mengamalkan sunnah membutuhkan komitmen dan kesungguhan, sebagaimana teladan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
- Hendaknya kita mempelajari ayat-ayat sajdah dan mengamalkan sujud tilawah ketika membacanya, karena ini adalah bentuk ketundukan kepada Allah.
- Bagi yang belum terbiasa, mulailah dari surah-surah yang pendek dan sering dibaca, seperti Al-Insyiqaq, Al-'Alaq, dan An-Najm.
- Jangan meninggalkan sunnah karena malas atau malu, karena para salafus shalih mengajarkan kita untuk istiqamah dalam mengamalkan petunjuk Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.