Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah dorongan yang sangat indah dari Nabi ﷺ agar kita memperbanyak bacaan Al-Qur'an dalam shalat malam (qiyamul lail). Hadits ini menunjukkan keutamaan bertingkat: membaca 10 ayat membuat kita tidak dicatat sebagai orang yang lalai, 100 ayat menjadikan kita termasuk orang-orang yang taat (qanitin), dan 1000 ayat menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapat pahala sangat besar (muqantharin). Ini adalah motivasi agar kita tidak malas dan terus berusaha memperbanyak tilawah dalam shalat, sesuai kemampuan masing-masing.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Bulan Ramadhan, Bab Tentang Mengatur Al-Qur'an, nomor 1398, dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dan Imam Al-Hakim, serta dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.
Terdapat ayat yang senada dengan semangat hadits ini, yaitu firman Allah Ta'ala:
QS. Al-Muzzammil [73]: 20
وَمَا تَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
"Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu mendapatkannya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya."
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan—termasuk shalat malam dan tilawah—akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang besar.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan makna-makna dalam hadits ini dengan sangat indah:
1. Makna "Man Qama bi 'Asyri Ayat" (Barangsiapa shalat dengan membaca sepuluh ayat)
Yang dimaksud adalah seseorang yang shalat (di malam hari) dan dalam shalatnya ia membaca sepuluh ayat Al-Qur'an. Maka ia tidak dicatat dari golongan orang-orang yang lalai (ghafilun). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa orang yang lalai adalah orang yang tidak mengingat Allah dan tidak melaksanakan ketaatan. Dengan membaca Al-Qur'an dalam shalat, hati menjadi hidup dan terhindar dari kelalaian.
2. Makna "Man Qama bi Mi'ati Ayah" (Barangsiapa shalat dengan membaca seratus ayat)
Maka ia dicatat dari golongan orang-orang yang taat (qanitin). Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa qunut (akar kata qanitin) adalah ketaatan yang disertai kekhusyukan dan ketundukan. Orang yang mampu membaca 100 ayat dalam shalat malamnya menunjukkan kesungguhan dan ketaatan yang lebih tinggi.
3. Makna "Man Qama bi Alfi Ayah" (Barangsiapa shalat dengan membaca seribu ayat)
Maka ia dicatat dari golongan orang-orang yang mendapat pahala besar (muqantharin). Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata muqanthar berasal dari kata qinthar yang berarti harta yang sangat banyak. Maksudnya, orang tersebut akan mendapatkan pahala yang sangat berlimpah dan besar, melebihi ukuran biasa.
Perhatian Ulama tentang Sanad:
Imam Abu Dawud memberikan catatan penting dalam hadits ini, bahwa Ibn Hujairah yang meriwayatkan adalah Ibn Hujairah al-Asghar (yang lebih muda), yaitu Abdullah bin Abdurrahman bin Hujairah, bukan ayahnya yang bernama Abdurrahman bin Hujairah. Ini penting karena ada dua perawi dengan nama yang mirip, dan Imam Abu Dawud ingin menjelaskan dengan teliti siapa sebenarnya perawi tersebut agar tidak terjadi kekeliruan. Ini menunjukkan ketelitian para ulama hadits dalam menjaga keaslian riwayat.
Hikmah Besar:
Hadits ini mengajarkan bahwa shalat malam tidak harus dengan bacaan yang sangat panjang. Yang terpenting adalah konsistensi dan kualitas. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain, amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit. Namun, hadits ini juga memotivasi kita untuk terus meningkatkan jumlah bacaan kita secara bertahap.
Story Telling
Dahulu, para salaf sangat memperhatikan shalat malam dan tilawah Al-Qur'an. Diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah (Nu'man bin Tsabit) biasa shalat malam dan membaca Al-Qur'an dengan sangat lama. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat tekun beribadah. Suatu malam, beliau membaca satu ayat tentang hari kiamat dan mengulang-ulanginya sambil menangis hingga subuh, karena merenungkan maknanya.
Kisah lain, Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang amalan yang paling utama. Beliau menjawab bahwa shalat malam dan membaca Al-Qur'an adalah di antara amalan yang paling utama, karena keduanya menghidupkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah.
Hikmah dari kisah-kisah ini: Para ulama terdahulu tidak hanya membaca Al-Qur'an dengan cepat, tetapi mereka menghayati dan merenungkan setiap ayat yang dibaca. Inilah yang membuat shalat malam mereka begitu bernilai di sisi Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan remehkan sedikit — Membaca 10 ayat dalam shalat malam sudah membuat kita terhindar dari golongan orang yang lalai. Mulailah dari yang kecil dan konsisten.
- Tingkatkan secara bertahap — Jika sudah terbiasa 10 ayat, naikkan menjadi 100 ayat, lalu 1000 ayat. Jangan memaksakan diri di awal sehingga malah putus di tengah jalan.
- Perbaiki kualitas — Bukan hanya kuantitas, tetapi hayati dan renungkan makna ayat yang dibaca, sebagaimana dilakukan para salaf.
- Jadikan shalat malam sebagai kebiasaan — Bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi sepanjang tahun, karena pahala yang dijanjikan berlaku umum.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.