Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1370 tentang Amalan Rasulullah dilakukan secara teratur dan konsisten

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus (dawam), meskipun sedikit. Rasulullah ﷺ tidak mengkhususkan ibadah tertentu hanya pada hari-hari tertentu secara berlebihan, tetapi beliau istiqamah dalam amalan setiap harinya. Ini adalah pelajaran penting agar kita tidak mudah bosan dan berhenti beribadah, serta tidak memaksakan diri di luar batas kemampuan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud No. 1370:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، قَالَ : سَأَلْتُ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَ عَمَلُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ هَلْ كَانَ يَخُصُّ شَيْئًا مِنَ الأَيَّامِ قَالَتْ : لاَ، كَانَ كُلُّ عَمَلِهِ دِيمَةً، وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَسْتَطِيعُ

Makna ringkas: Alqamah bertanya kepada 'Aisyah tentang amalan Rasulullah ﷺ, apakah beliau mengkhususkan ibadah pada hari-hari tertentu? 'Aisyah menjawab: "Tidak, semua amalan beliau adalah amalan yang rutin (dawam). Dan siapa di antara kalian yang mampu melakukan seperti kemampuan Rasulullah ﷺ?"

Hadits pendukung dari Shahih al-Bukhari dan Muslim:

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah ﷺ bersabda:

"أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ"

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin/terus-menerus dilakukan, meskipun sedikit." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama:

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah prinsip besar dalam ibadah. Beliau menukil pendapat para ulama bahwa amalan yang sedikit tetapi berkelanjutan lebih baik daripada amalan yang banyak tetapi terputus, karena amalan yang berkelanjutan akan memberikan bekas yang lebih dalam pada jiwa dan keistiqamahan.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan makna hadits ini. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa kata "dīmah" (ديمة) dalam bahasa Arab berarti hujan yang turun terus-menerus tanpa henti, tidak seperti hujan lebat yang cepat berhenti. Maka amalan Rasulullah ﷺ itu seperti hujan gerimis yang terus-menerus, bukan hujan deras yang sebentar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memilih amalan yang beliau mampu istiqamah di atasnya, karena Allah mencintai amalan yang rutin meskipun sedikit. Ini menunjukkan bahwa syariat tidak menghendaki seseorang memberatkan dirinya di luar batas kemampuan, karena dikhawatirkan ia akan bosan dan meninggalkan amalan tersebut sama sekali.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa pertanyaan Alqamah tentang "apakah Nabi mengkhususkan hari-hari tertentu" menunjukkan bahwa para sahabat sangat memperhatikan ibadah Nabi ﷺ. Jawaban 'Aisyah menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak mengkhususkan hari tertentu secara khusus, melainkan amalannya merata setiap hari.

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam menjelaskan ayat tentang istiqamah (QS. Hud [11]: 112) menekankan bahwa istiqamah adalah kunci diterimanya amalan, dan istiqamah itu lahir dari amalan yang rutin dan tidak berlebihan.

Pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Amalan rutin lebih utama daripada amalan banyak tapi terputus. Ini sesuai dengan kaidah para ulama bahwa "sedikit tapi terus-menerus lebih baik daripada banyak tapi terputus."
  2. Larangan berlebihan (ghuluw) dalam ibadah. Karena berlebihan akan menyebabkan kelelahan dan akhirnya meninggalkan ibadah sama sekali.
  3. Kemampuan Nabi ﷺ di atas kemampuan umatnya. 'Aisyah menegaskan bahwa tidak semua orang mampu seperti Nabi ﷺ, maka hendaknya setiap orang mengambil amalan yang ia mampu istiqamah di atasnya.
  4. Tidak mengkhususkan hari tertentu untuk ibadah secara berlebihan. Ini bukan berarti larangan puasa sunnah di hari tertentu seperti Senin-Kamis atau puasa Arafah, tetapi larangan untuk membuat amalan khusus yang memberatkan dan tidak dicontohkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri — salah seorang ulama tabi'ut tabi'in yang sangat zuhud — pernah berkata:

"Barangsiapa yang terbiasa dengan amalan sedikit tapi terus-menerus, maka setan tidak akan mampu menggodanya untuk meninggalkan amalan tersebut. Karena setan tahu bahwa amalan yang sedikit tapi rutin itu lebih dicintai Allah daripada amalan banyak yang terputus."

Beliau juga pernah ditanya tentang seseorang yang shalat malam sepanjang malam tetapi kemudian meninggalkannya berhari-hari. Maka Sufyan berkata: "Orang yang shalat dua rakaat setiap malam secara rutin lebih baik daripada orang yang shalat sepanjang malam lalu meninggalkannya."

Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memahami dan mengamalkan pesan hadits ini dalam kehidupan mereka. Mereka tidak memaksakan diri di luar batas, tetapi menjaga amalan rutin mereka dengan penuh kesungguhan.

Kesimpulan Praktis

  1. Pilihlah amalan yang mampu kita lakukan secara rutin, meskipun sedikit. Misalnya: shalat sunnah rawatib, membaca Al-Qur'an beberapa ayat setiap hari, atau dzikir pagi-petang.
  2. Jangan memaksakan diri di luar batas kemampuan, karena dikhawatirkan akan bosan dan meninggalkan amalan tersebut.
  3. Jadikan istiqamah sebagai tujuan utama, bukan kuantitas amalan. Karena Allah mencintai amalan yang rutin meskipun sedikit.
  4. Jangan mengkhususkan ibadah pada hari-hari tertentu secara berlebihan tanpa tuntunan, tetapi ambillah contoh dari sunnah Nabi ﷺ yang seimbang.
  5. Jika terlewat, segera kembali dan jangan biarkan setan menjadikan kita putus asa untuk kembali beramal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?