Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan salah satu cara shalat malam (tahajud) yang pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ, yaitu shalat delapan rakaat dengan salam setiap dua rakaat, kemudian ditutup dengan witir lima rakaat yang dilakukan bersambung tanpa tasyahud awal dan tanpa salam di antara rakaat-rakaatnya. Ini adalah salah satu bentuk tata cara shalat malam yang shahih, dan menunjukkan kelapangan syariat dalam hal jumlah rakaat dan cara pelaksanaannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah bagian dari kisah panjang tentang shalat malam Nabi ﷺ di rumah Maimunah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 762) dari jalur Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra' [17]: 79)
Kaitan dengan Ulama:
Imam Abu Dawud (wafat 275 H) memuat hadits ini dalam Sunan-nya pada Kitab Shalat Sunnah, Bab Tentang Shalat Malam. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahasnya sebagai dalil tentang tata cara witir lima rakaat yang bersambung.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Shalat Malam Dilakukan dengan Salam Setiap Dua Rakaat
Dalam riwayat ini, Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa Nabi ﷺ shalat delapan rakaat dengan cara dua rakaat-dua rakaat (setiap dua rakaat diakhiri salam). Ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
"Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat." (HR. Bukhari no. 472, Muslim no. 749 dari Ibnu Umar)
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (6/21) menjelaskan bahwa yang dimaksud "matsna matsna" adalah salam setiap dua rakaat, dan ini adalah tata cara yang paling utama.
2. Witir Lima Rakaat yang Bersambung
Kemudian Nabi ﷺ menutup shalat malamnya dengan witir lima rakaat yang dilakukan bersambung tanpa duduk tasyahud di antara rakaat-rakaatnya — artinya tidak ada salam kecuali di akhir. Ini menunjukkan bahwa witir lima rakaat boleh dilakukan dengan satu salam di akhir, sebagaimana witir tiga rakaat juga boleh dilakukan dengan satu salam.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (2/482) menjelaskan bahwa para ulama bersepakat bahwa witir lima rakaat sah dilakukan dengan satu salam di akhir, dan ini adalah salah satu cara yang dicontohkan Nabi ﷺ.
3. Kelapangan dalam Tata Cara Shalat Malam
Hadits ini menunjukkan bahwa shalat malam tidak terikat dengan satu bentuk tertentu. Terkadang Nabi ﷺ shalat malam dengan jumlah rakaat yang berbeda-beda, terkadang witir tiga, lima, tujuh, atau sembilan rakaat. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad (1/337) menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memiliki beberapa cara dalam shalat malam dan witir, dan semuanya baik untuk diamalkan.
4. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Witir Lima Rakaat
Sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa witir itu hanya satu rakaat setelah shalat tarawih, dan witir lima rakaat yang bersambung hukumnya boleh. Sedangkan Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad membolehkan witir lima rakaat dengan satu salam, berdasarkan hadits ini. Yang terpenting, semua ulama sepakat bahwa witir itu ditutup dengan satu rakaat atau ganjil, dan hadits ini adalah dalil yang kuat untuk witir lima rakaat yang bersambung.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (4/124) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya witir lima rakaat dengan satu salam, dan ini adalah pendapat yang benar karena sesuai dengan perbuatan Nabi ﷺ.
Story Telling
Diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair — seorang tabi'in yang mulia dan murid setia Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma — bahwa ia pernah bertanya kepada gurunya tentang shalat malam Nabi ﷺ. Maka Ibnu Abbas pun menceritakan pengalamannya ketika suatu malam ia tidur di rumah bibinya, Maimunah radhiyallahu 'anha, yang merupakan istri Nabi ﷺ.
Ibnu Abbas berkata: "Aku berbaring di bagian lebar bantal, sementara Nabi ﷺ dan keluarganya berbaring di bagian panjang bantal. Nabi ﷺ tidur hingga tengah malam, lalu bangun dan melihat ke langit sambil membaca ayat: 'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi...' (QS. Ali Imran: 190). Kemudian beliau berwudhu dan bersiwak, lalu shalat sebelas rakaat. Setelah itu, Bilal datang mengumandangkan adzan, dan Nabi ﷺ shalat dua rakaat sebelum subuh." (HR. Bukhari no. 4570, Muslim no. 763)
Dalam riwayat Abu Dawud yang sedang kita bahas, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Nabi ﷺ shalat delapan rakaat dengan salam setiap dua rakaat, lalu witir lima rakaat tanpa duduk di antara rakaatnya. Ini menunjukkan betapa semangatnya para sahabat dan tabi'in dalam memperhatikan detail ibadah Nabi ﷺ, agar bisa meneladani dengan tepat.
Hikmah: Perhatian para sahabat terhadap detail ibadah Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tidak malas belajar dan meneladani sunnah dalam setiap gerakan ibadah, sekecil apa pun.
Kesimpulan Praktis
- Shalat malam boleh dilakukan dengan berbagai cara, dan yang paling utama adalah dua rakaat-dua rakaat dengan salam di setiap dua rakaat.
- Witir lima rakaat boleh dilakukan dengan satu salam di akhir tanpa duduk tasyahud di antara rakaatnya, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
- Jumlah rakaat shalat malam tidak terbatas pada satu angka; yang penting dilakukan dengan khusyuk dan ikhlas.
- Jangan mempersempit apa yang Allah dan Rasul-Nya ﷺ luaskan. Selama ada dalil, kita boleh memilih cara yang paling mudah dan sesuai kemampuan.
- Semangat meneladani Nabi ﷺ dalam ibadah adalah tanda cinta kepada beliau, sebagaimana para sahabat dan tabi'in meneladani beliau dengan teliti.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.