Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa di antara amal yang paling utama adalah memperpanjang berdiri dalam shalat, karena berdiri adalah rukun yang paling lama dilakukan seseorang dalam shalat dan menjadi tempat bermunajat kepada Allah. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah memperpanjang berdiri dengan bacaan Al-Qur'an, khusyuk, dan tidak tergesa-gesa. Hadits ini juga menjadi dalil disyariatkannya shalat malam yang panjang, sebagaimana disebutkan dalam bab "Memulai Shalat Malam dengan Dua Raka'at".
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Muzzammil [73]: 20
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ ۚ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
Terjemahan: "Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan untuk dirimu, maka kamu akan mendapatinya di sisi Allah, itu lebih baik dan lebih besar pahalanya."
Ayat ini menunjukkan bahwa amal kebaikan—termasuk memperpanjang berdiri dalam shalat—akan mendatangkan pahala besar di sisi Allah.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 1325), dari sahabat Abdullah bin Hubsyiy al-Khats'ami رضي الله عنه. Sanadnya: Ahmad bin Hanbal → Hajjaj → Ibnu Juraij → Utsman bin Abi Sulaiman → Ali al-Azdi → Ubaid bin Umair → Abdullah bin Hubsyiy.
Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Imam an-Nasa'i dengan lafaz yang berdekatan, dan Imam at-Tirmidzi menyebutnya hasan shahih. Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud menilai hadits ini shahih.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa panjangnya berdiri dalam shalat malam adalah tanda keutamaan karena ia adalah rukun yang paling berat dan paling lama.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa memperpanjang berdiri mencakup memperpanjang bacaan, dan itu adalah amal yang paling utama karena mengandung dzikir, tilawah, dan munajat.
- Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa Nabi ﷺ memperpanjang berdiri dalam shalat malamnya melebihi ruku' dan sujud, menunjukkan keutamaan berdiri.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang amal yang paling utama, beliau menjawab: "طُولُ الْقِيَامِ" (memperpanjang berdiri). Ini menunjukkan bahwa di antara amal yang paling afdhal adalah memperlama berdiri dalam shalat—terutama shalat malam—karena pada saat itu seorang hamba sedang bermunajat kepada Rabb-nya, membaca kalam-Nya, dan merenungi maknanya.
Bagaimana para ulama memahami hadits ini:
- Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa keutamaan "panjang berdiri" bukan sekadar berdiri fisik, tetapi mencakup:
- Memperpanjang bacaan Al-Qur'an dengan tartil dan tadabbur.
- Khusyuk dan hadirnya hati.
- Tidak tergesa-gesa dalam ruku' dan sujud.
- Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa memperpanjang bacaan (qira'ah) lebih utama daripada memperpanjang ruku' dan sujud, karena bacaan hanya bisa dilakukan dalam keadaan berdiri.
- Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menceritakan bahwa Nabi ﷺ biasa berdiri sangat lama dalam shalat malam hingga kakinya bengkak, dan beliau membaca surat-surat panjang seperti Al-Baqarah, An-Nisa', dan Ali Imran dalam satu raka'at.
- Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa memperpanjang berdiri termasuk bentuk ibadah yang paling utama karena menggabungkan antara dzikir, tilawah, dan doa.
Kaitan dengan bab "Memulai Shalat Malam dengan Dua Raka'at":
Imam Abu Dawud meletakkan hadits ini dalam bab tentang memulai shalat malam dengan dua raka'at ringan, sebagaimana hadits lain dari Aisyah رضي الله عنها yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ jika bangun malam, beliau memulai dengan dua raka'at ringan. Ini menunjukkan bahwa meskipun beliau memperpanjang berdiri, beliau juga mengajarkan untuk memulai dengan yang ringan agar tubuh siap dan semangat terjaga.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama memahami "panjang berdiri" secara umum dalam semua shalat, sebagian lain mengkhususkannya pada shalat malam. Namun yang paling kuat—sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi—adalah bahwa keutamaan ini berlaku umum, namun lebih ditekankan pada shalat malam karena itulah konteks hadits-hadits tentang panjangnya berdiri Nabi ﷺ.
Story Telling
Diceritakan dari Aisyah رضي الله عنها (sebagaimana dalam Shahih Muslim) bahwa Nabi ﷺ suatu malam shalat dan berdiri sangat lama hingga kakinya bengkak. Aisyah bertanya: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?" Beliau menjawab: "أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا" — "Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?"
Hikmahnya: panjangnya berdiri dalam shalat adalah tanda syukur dan cinta kepada Allah. Semakin seseorang mencintai Allah, semakin ia ingin berlama-lama bermunajat kepada-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Perpanjanglah berdiri dalam shalat, terutama shalat malam, dengan bacaan Al-Qur'an yang tartil dan tadabbur.
- Mulailah shalat malam dengan dua raka'at ringan sebagaimana sunnah Nabi ﷺ, lalu lanjutkan dengan shalat yang lebih panjang.
- Jaga khusyuk — kualitas berdiri bukan hanya soal durasi, tetapi juga kehadiran hati.
- Jangan berlebihan hingga memberatkan diri — Islam mengajarkan keseimbangan; perpanjanglah sesuai kemampuan.
- Jadikan shalat malam sebagai kebiasaan meskipun hanya beberapa raka'at, karena yang paling dicintai Allah adalah amal yang konsisten meskipun sedikit.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.