Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1323 tentang Memulai shalat malam dengan dua rakaat ringan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab ketika seseorang bangun tidur di malam hari untuk shalat: mulailah dengan dua raka'at yang ringan dan singkat, baru kemudian melanjutkan shalat malam yang lebih panjang. Tujuannya agar badan "terbuka" dari kantuk, hati terkumpul, dan syaitan yang mengikat tengkuk saat tidur terlepas. Ini sunnah yang dianjurkan, bukan kewajiban.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat Sunnah, Bab Memulai Shalat Malam dengan Dua Raka'at, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Muhammad bin Sirin (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar ulama rujukan).

Lafazhnya:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

"Apabila salah seorang dari kalian bangun di malam hari, hendaklah ia shalat dua raka'at yang ringan."

Dalil pendukung dari Al-Qur'an tentang perintah mendirikan shalat malam dan membaca dengan tartil:

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

"Dan bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an."

Makna ringkas: Allah memerintahkan membaca apa yang mudah dari Al-Qur'an dalam shalat malam, menunjukkan bahwa syariat memberi kelonggaran dan tidak memberatkan, sejalan dengan makna "dua raka'at yang ringan" sebagai pembuka.

Hadits lain yang semakna dan sangat terkait, dari Abu Hurairah juga, diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ

"Syaitan mengikat tiga ikatan pada tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika ia tidur..." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Jika ia bangun lalu berdzikir, terlepas satu ikatan; jika berwudhu, terlepas satu ikatan; jika shalat, terlepas satu ikatan, sehingga ia bangun dalam keadaan bersemangat dan berhati baik.

Penjelasan Rinci

Muhammad bin Sirin (Tabi'in, wafat 110 H) meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah, dan beliau dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan serta terkenal dengan kezuhudannya. Para ulama hadits seperti Abu Dawud memasukkan hadits ini dalam bab khusus, menunjukkan perhatian mereka bahwa dua raka'at ringan ini memiliki kedudukan tersendiri sebagai pembuka shalat malam.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits-hadits serupa menjelaskan bahwa hikmah memulai dengan dua raka'at ringan adalah:

  1. Agar tubuh yang baru bangun tidur "dihangatkan" secara bertahap, tidak langsung dibebani bacaan panjang.
  2. Agar hati terkumpul dan khusyu', karena biasanya orang yang baru bangun masih mengantuk dan pikirannya belum fokus.
  3. Mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara langsung, karena beliau sendiri mempraktikkannya.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa "ringan" (خفيفتين) di sini maksudnya adalah ringan dalam bacaan dan gerakan, bukan asal-asalan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membaca surat-surat pendek atau ayat-ayat singkat pada dua raka'at ini, dan tidak memanjangkan berdiri. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud "ringan" adalah tidak memberatkan diri di awal, bukan mengurangi kekhusyu'an.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa memulai shalat malam dengan dua raka'at ringan adalah bentuk kasih sayang syariat kepada hamba, karena Allah mengetahui kelemahan manusia yang baru bangun dari tidur. Beliau juga mengaitkan hal ini dengan hadits ikatan syaitan, bahwa dua raka'at ringan itu berfungsi melepaskan ikatan syaitan dan mengembalikan kesadaran hati.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitab tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan ayat-ayat shalat malam menegaskan bahwa syariat selalu membuka pintu kemudahan, dan bahwa amalan yang sedikit namun konsisten lebih dicintai Allah daripada amalan banyak yang memberatkan lalu ditinggalkan. Ini sejalan dengan makna dua raka'at ringan sebagai pembuka.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah dan Shahih Sunan Abi Dawud menilai hadits ini shahih, sehingga dapat diamalkan.

Adapun perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar: sebagian memahami "dua raka'at ringan" sebagai sunnah yang dianjurkan (mustahab), bukan wajib. Tidak ada yang menyatakan wajib. Yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa ini sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) bagi siapa saja yang bangun malam untuk shalat, berdasarkan perintah langsung Nabi ﷺ dengan lafazh "فَلْيُصَلِّ" (hendaklah ia shalat) yang menunjukkan anjuran kuat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak (wafat 181 H), seorang ulama besar Tabi'ut Tabi'in yang terkenal zuhud dan wara', ketika ditanya tentang bagaimana beliau memulai shalat malamnya, beliau menyebutkan bahwa beliau mengikuti sunnah ini: memulai dengan dua raka'at ringan sebelum masuk ke shalat yang panjang. Beliau dikenal sebagai orang yang sangat menghidupkan malam, dan beliau menekankan bahwa mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara detail, termasuk hal-hal kecil seperti ini, adalah tanda kecintaan yang benar kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hikmahnya: sunnah-sunnah kecil seperti dua raka'at ringan ini sering dilupakan, padahal ia adalah pintu masuk menuju shalat malam yang berkualitas. Salafus shalih sangat memperhatikan detail-detail seperti ini karena mereka memahami bahwa keberkahan ada pada ittiba' (mengikuti) sunnah secara menyeluruh.

Kesimpulan Praktis

  1. Ketika bangun di malam hari untuk shalat, mulailah dengan dua raka'at ringan (bacaan pendek, tidak memanjangkan berdiri) sebagai pembuka.
  2. Setelah itu, barulah melanjutkan dengan shalat malam yang lebih panjang sesuai kemampuan.
  3. Jangan memberatkan diri di awal, karena syariat mengajarkan bertahap dan konsisten.
  4. Amalkan sunnah ini sebagai bentuk ittiba' kepada Nabi ﷺ, karena amalan kecil yang mengikuti sunnah lebih baik daripada amalan besar yang tidak ada tuntunannya.
  5. Jika bangun dalam keadaan sangat mengantuk atau berat, tetap usahakan dua raka'at ringan ini, karena ia membantu melepaskan ikatan syaitan dan mengembalikan kesadaran hati.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?