Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan kebiasaan Nabi ﷺ yang selalu bangun malam untuk beribadah, dan beliau sudah menyelesaikan bacaan wirid/qiyamul-lail-nya sebelum masuk waktu sahur. Ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam menjaga shalat malam dan tilawah Al-Qur'an, serta menjadi dorongan bagi kita untuk menghidupkan malam dengan ibadah sesuai kemampuan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud, Kitab Sunnah, Bab Waktu Berdirinya Nabi ﷺ di Malam Hari, dari jalur Aisyah radhiyallahu 'anha.
Teks hadits:
إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيُوقِظُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِاللَّيْلِ فَمَا يَجِيءُ السَّحَرُ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ حِزْبِهِ
Terjemahan: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla membangunkan Rasulullah ﷺ di malam hari, maka tidaklah datang waktu sahur hingga beliau selesai dari hizb-nya (bacaan wiridnya)."
Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar kebiasaan ini antara lain:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
(QS. Al-Isra' [17]: 79)
Terjemahan: "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
Juga firman Allah:
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
(QS. Al-Muzzammil [73]: 1-4)
Terjemahan: "Wahai orang yang berselimut, bangunlah pada malam hari, kecuali sedikit saja, yaitu setengahnya atau kurang sedikit, atau lebih sedikit, dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:
Pertama, kata "يُوقِظُهُ اللَّهُ" (Allah membangunkannya) menunjukkan bahwa bangunnya Nabi ﷺ di malam hari bukan semata kebiasaan pribadi, tetapi merupakan taufik dan pertolongan dari Allah. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif bahwa bangun malam adalah karunia Allah yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.
Kedua, kata "حِزْبِهِ" (hizb-nya) menurut penjelasan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim bermakna wirid atau bagian bacaan Al-Qur'an yang rutin beliau baca. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki jadwal tilawah harian yang teratur, bukan sekadar membaca tanpa target.
Ketiga, "فَمَا يَجِيءُ السَّحَرُ حَتَّى يَفْرُغَ" (tidak datang sahur hingga beliau selesai) menunjukkan panjangnya waktu ibadah beliau. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memulai qiyamul-lail sejak awal malam dan terus beribadah hingga menjelang sahur, sehingga beliau menyelesaikan wiridnya tepat sebelum waktu sahur tiba.
Keempat, Ibn Katsir dalam tafsirnya ketika menjelaskan QS. Al-Muzzammil menegaskan bahwa Nabi ﷺ dan para sahabat benar-benar mengamalkan perintah qiyamul-lail ini dengan sungguh-sungguh, hingga Allah meringankannya dalam ayat-ayat berikutnya karena kasih sayang-Nya.
Kelima, Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa qiyamul-lail adalah sebab utama kemuliaan seorang hamba dan pengangkat derajatnya di sisi Allah.
Adapun tentang kadar bacaan Nabi ﷺ, Aisyah radhiyallahu 'anha dalam riwayat lain (Shahih Muslim) menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah membaca surah Al-Baqarah, An-Nisa, dan Ali Imran dalam satu rakaat — menunjukkan panjangnya bacaan beliau. Namun hadits Abu Dawud ini menegaskan bahwa beliau memiliki wirid rutin yang konsisten diselesaikan setiap malam.
Story Telling
Diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha — sebagaimana disebutkan dalam hadits ini dan riwayat-riwayat lain — bahwa beliau memperhatikan betapa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan shalat malam, bahkan ketika sakit atau dalam perjalanan. Aisyah pernah berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit" (HR. Bukhari & Muslim).
Al-Hasan al-Bashri — seorang tabi'in yang dikenal zuhud — pernah menyampaikan bahwa beliau mencari ibadah yang paling berat, dan beliau temukan bahwa tidak ada yang lebih berat daripada shalat malam dan berinfak dari harta yang dicintai. Ini menggambarkan bagaimana salafus shalih memandang qiyamul-lail sebagai ibadah yang paling utama namun paling berat untuk dilakukan secara istiqamah.
Kesimpulan Praktis
- Hidupkan malam dengan shalat tahajud dan tilawah Al-Qur'an, meskipun hanya beberapa rakaat atau beberapa ayat.
- Buat wirid harian — target bacaan Al-Qur'an yang konsisten, sebagaimana Nabi ﷺ memiliki hizb yang beliau selesaikan setiap malam.
- Istiqamah lebih baik daripada banyak tapi terputus — mulailah dari yang ringan namun terus-menerus.
- Berdoalah kepada Allah agar diberi taufik untuk bangun malam, karena bangun malam adalah karunia dari Allah.
- Teladani Nabi ﷺ yang meskipun sudah dijamin surga, tetap bersungguh-sungguh dalam ibadah malam.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.