Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1315 tentang Keutamaan berdoa pada sepertiga malam terakhir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan sepertiga malam terakhir, yaitu waktu Allah turun ke langit dunia dengan cara yang sesuai keagungan-Nya, lalu menyeru hamba-Nya untuk berdoa, meminta, dan beristighfar. Ini adalah waktu paling utama untuk qiyamul lail, doa, dan istighfar. Umat Islam dianjurkan menghidupkan waktu ini dengan ibadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa', Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»

Terjemahan: "Tuhan kita yang Maha Suci dan Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, dan berkata: Siapa yang berdoa kepada-Ku agar Aku mengabulkannya? Siapa yang meminta kepada-Ku agar Aku memberinya? Siapa yang meminta ampun kepada-Ku agar Aku mengampuninya?"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Isra' [17]: 79

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Terjemahan: "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

QS. Al-Muzzammil [73]: 6

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

Terjemahan: "Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan."

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk hadits tentang sifat-sifat Allah (shifatullah) yang wajib diimani tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk, tanpa menolak maknanya, dan tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya. Imam Malik bin Anas ketika ditanya tentang turunnya Allah, beliau menjawab: "Turunnya Allah itu diketahui maknanya, caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." (disebutkan oleh para ulama seperti Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim dalam kitab-kitab mereka).

Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan sepertiga malam terakhir dan anjuran berdoa pada waktu itu. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya memperbanyak doa, istighfar, dan permintaan hajat pada waktu tersebut.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa Allah menyeru hamba-Nya pada waktu itu dengan tiga seruan: berdoa, meminta, dan beristighfar. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dan dekatnya Dia kepada hamba yang bangun di malam hari.

Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa turunnya Allah ke langit dunia adalah turun yang hakiki sesuai keagungan-Nya, bukan berarti Allah berpindah tempat atau berada di langit dunia secara fisik seperti makhluk. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat Allah harus diimani apa adanya tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Aqidah Wasithiyah menjelaskan bahwa turunnya Allah terjadi setiap malam, dan waktu sepertiga malam terakhir berbeda-beda sesuai daerah. Yang penting adalah menghidupkan waktu tersebut dengan ibadah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama besar tabi'ut tabi'in, pernah ditanya tentang hadits turunnya Allah. Beliau menjawab dengan tegas bahwa hadits ini shahih dan wajib diimani, dan beliau mencela orang yang menolaknya. Beliau berkata: "Barangsiapa menolak hadits ini, maka dia telah menuduh Rasulullah ﷺ berdusta." (disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala').

Kisah lain, Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang hadits turunnya Allah, beliau berkata: "Kami mengimani dan membenarkannya, tanpa menanyakan bagaimana." Ini menunjukkan sikap salafus shalih dalam menerima hadits-hadits sifat Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Hidupkan sepertiga malam terakhir dengan shalat tahajud, doa, dan istighfar.
  2. Yakinlah bahwa Allah mendengar dan mengabulkan doa pada waktu itu.
  3. Imani hadits ini tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.
  4. Perbanyak istighfar di waktu sahur, karena Allah menjanjikan ampunan.
  5. Jangan tinggalkan waktu mulia ini, karena ia adalah kesempatan emas untuk mendekat kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?