Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1187 tentang Tata cara shalat gerhana dengan bacaan panjang

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ ketika shalat gerhana matahari membaca bacaan yang sangat panjang. Dalam riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha ini, beliau mengira bacaan beliau pada rakaat pertama adalah Surah Al-Baqarah, dan pada rakaat kedua (setelah sujud dua kali) beliau mengira bacaan beliau adalah Surah Ali 'Imran. Ini menunjukkan bahwa shalat gerhana disyariatkan dengan bacaan yang panjang, dan ini adalah salah satu bentuk pengagungan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab al-Istisqa', Bab "Bacaan dalam Shalat Gerhana", no. 1187. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Kusuf, no. 904, dari jalur Hisyam bin 'Urwah dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

"Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya (matahari)."

(QS. Qaf [50]: 39)

Ayat ini menunjukkan perintah untuk bertasbih dan mengingat Allah pada waktu-waktu yang berkaitan dengan matahari, yang juga mengandung isyarat tentang keagungan ciptaan Allah termasuk matahari dan bulan yang bisa mengalami gerhana.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad (1/449) menjelaskan bahwa shalat gerhana termasuk shalat yang disyariatkan dengan bacaan yang panjang, dan beliau menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membaca secara sirr (pelan) dalam shalat gerhana, namun memanjangkan bacaan, ruku', dan sujudnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa shalat gerhana adalah salah satu shalat sunnah yang sangat ditekankan. Dalam hadits ini, 'Aisyah radhiyallahu 'anha yang merupakan istri Nabi ﷺ dan seorang perawi yang sangat teliti, mencoba mengukur lamanya bacaan Nabi ﷺ. Beliau memperkirakan bahwa pada berdiri pertama (rakaat pertama), Nabi ﷺ membaca kira-kira sepanjang Surah Al-Baqarah. Kemudian setelah ruku' dan sujud dua kali, beliau berdiri lagi untuk rakaat kedua dan membaca kira-kira sepanjang Surah Ali 'Imran.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (6/190) menjelaskan bahwa dalam shalat gerhana, disunnahkan untuk memanjangkan bacaan, ruku', dan sujud. Beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat (ijma') tentang disunnahkannya memanjangkan bacaan dalam shalat gerhana, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Mumti' (5/181) menjelaskan bahwa bacaan dalam shalat gerhana dilakukan dengan sirr (pelan), berdasarkan hadits Aisyah yang mengatakan bahwa beliau menduga bacaan Nabi ﷺ, yang berarti beliau tidak mendengar langsung bacaan tersebut. Namun beliau juga menyebutkan bahwa jika ada kebutuhan (seperti untuk mengajarkan jamaah), maka boleh mengeraskan bacaan.

Adapun tentang jumlah rakaat dan sujud dalam shalat gerhana, hadits ini menunjukkan bahwa setiap rakaat memiliki dua kali ruku' dan dua kali sujud. Ini adalah pendapat jumhur ulama, termasuk Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Adapun Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan seperti shalat sunnah biasa dengan satu ruku' setiap rakaat, namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur karena sesuai dengan zhahir hadits-hadits shahih.

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (2/535) menjelaskan bahwa bacaan yang panjang dalam shalat gerhana adalah bentuk pengagungan terhadap peristiwa gerhana, karena gerhana adalah tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan kebesaran-Nya. Semakin besar peristiwa tersebut, semakin panjang pula ibadah yang disyariatkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah ﷺ, beliau keluar ke masjid dengan perasaan khawatir dan takut. Beliau memimpin shalat dengan keadaan yang sangat khusyuk, memperpanjang bacaan, ruku', dan sujudnya. Para sahabat yang berada di belakang beliau merasakan kekhusyukan yang luar biasa. Bahkan disebutkan bahwa dalam shalat tersebut, sebagian sahabat hampir pingsan karena lamanya berdiri.

Setelah selesai shalat, beliau berkhutbah dan bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau kelahirannya. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan betapa Rasulullah ﷺ sangat serius dalam menghadapi fenomena alam ini. Beliau tidak menganggapnya sebagai peristiwa biasa, tetapi sebagai momen untuk kembali kepada Allah dengan ibadah, doa, dan sedekah. Para sahabat pun meneladani beliau dengan penuh kekhusyukan.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat gerhana disyariatkan dengan bacaan yang panjang - Ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang dicontohkan langsung oleh beliau.
  2. Setiap rakaat dalam shalat gerhana memiliki dua ruku' dan dua sujud - Ini adalah pendapat jumhur ulama berdasarkan hadits-hadits shahih.
  3. Bacaan dalam shalat gerhana dilakukan dengan sirr (pelan) - Kecuali jika ada kebutuhan untuk mengeraskan.
  4. Shalat gerhana adalah bentuk pengagungan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah - Kita dianjurkan untuk khusyuk dan merenungi kebesaran Allah dalam setiap ibadah.
  5. Setelah shalat gerhana, disunnahkan untuk berkhutbah - Sebagaimana dilakukan oleh Nabi ﷺ, yang berisi nasihat, peringatan, dan anjuran untuk berdoa serta bersedekah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.