Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1179 tentang Shalat gerhana dengan empat ruku dan empat sujud

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tata cara shalat gerhana (khusuf) yang dilakukan Nabi ﷺ. Dalam riwayat Jabir bin Abdillah ini, beliau menggambarkan bahwa Nabi ﷺ melakukan empat ruku' dan empat sujud dalam dua rakaat. Ini menunjukkan bahwa shalat gerhana boleh dilakukan dengan dua ruku' dalam setiap rakaatnya (dua kali ruku' per rakaat), dan ini adalah salah satu bentuk yang sah menurut sebagian ulama. Namun, pendapat yang lebih kuat dan masyhur di kalangan ulama Ahlus Sunnah adalah shalat gerhana dilakukan dengan dua ruku' dalam setiap rakaat (total empat ruku' dalam dua rakaat), sebagaimana yang dipahami dari hadits ini dan hadits-hadits lainnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat al-Khusuf, Bab "Man Qala Arba' Raka'at" (Bab Siapa yang Mengatakan Empat Rakaat), no. 1179, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: كُسِفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي يَوْمٍ شَدِيدِ الْحَرِّ، فَصَلَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ بِأَصْحَابِهِ، فَأَطَالَ الْقِيَامَ حَتَّى جَعَلُوا يَخِرُّونَ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ، ثُمَّ رَفَعَ فَأَطَالَ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ، ثُمَّ رَفَعَ فَأَطَالَ، ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ قَامَ فَصَنَعَ نَحْوًا مِنْ ذَلِكَ، فَكَانَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ.

Terjemahan ringkas:

"Telah menceritakan kepada kami Muammal bin Hisyam, telah menceritakan kepada kami Isma'il, dari Hisyam, telah menceritakan kepada kami Abu az-Zubair, dari Jabir, ia berkata: 'Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah ﷺ di hari yang sangat panas. Rasulullah ﷺ shalat bersama para sahabatnya, lalu beliau memperpanjang berdiri hingga mereka hampir terjatuh. Kemudian beliau ruku' dan memperpanjangnya, lalu mengangkat kepala dan memperpanjang (berdiri), kemudian ruku' lagi dan memperpanjangnya, lalu mengangkat kepala dan memperpanjang (berdiri), kemudian sujud dua kali. Lalu beliau berdiri dan melakukan seperti itu lagi. Maka jadilah empat ruku' dan empat sujud.'"

Ayat Al-Qur'an yang relevan (tentang perintah shalat dan khusyuk):

QS. Al-Baqarah [2]: 45

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat adalah sarana memohon pertolongan kepada Allah, termasuk dalam keadaan sulit seperti gerhana, dan shalat gerhana dilakukan dengan penuh kekhusyukan dan pengharapan.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Abu Dawud (w. 275 H) memuat hadits ini dalam Sunan-nya dan menempatkannya dalam bab yang menunjukkan adanya perbedaan riwayat tentang jumlah ruku' dalam shalat gerhana.
  • Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa shalat gerhana yang paling sempurna adalah dengan dua ruku' di setiap rakaat, berdasarkan hadits-hadits shahih, termasuk riwayat Jabir ini.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari mensyarah hadits-hadits shalat gerhana dan menjelaskan bahwa riwayat Jabir ini menunjukkan bolehnya empat ruku' dalam dua rakaat, dan ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Ahmad dan lainnya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu riwayat yang menjelaskan tata cara shalat gerhana. Dalam riwayat Jabir bin Abdillah ini, disebutkan bahwa Nabi ﷺ melakukan dua ruku' dalam rakaat pertama, kemudian sujud dua kali, lalu berdiri untuk rakaat kedua dan melakukan hal yang sama. Totalnya menjadi empat ruku' dan empat sujud dalam dua rakaat.

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah ruku' dalam setiap rakaat shalat gerhana:

  1. Pendapat pertama: Shalat gerhana dilakukan dengan satu ruku' di setiap rakaat, seperti shalat biasa. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Malik. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang menyebutkan secara umum bahwa Nabi ﷺ shalat gerhana seperti shalat biasa, dan hadits-hadits yang menyebutkan dua ruku' dianggap sebagai tambahan yang perlu diteliti.
  2. Pendapat kedua: Shalat gerhana dilakukan dengan dua ruku' di setiap rakaat (total empat ruku' dalam dua rakaat). Ini adalah pendapat Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan mayoritas ulama hadits. Mereka berdalil dengan hadits Jabir ini dan hadits-hadits shahih lainnya, seperti hadits Aisyah dan Ibnu Abbas yang juga menyebutkan dua ruku' dalam setiap rakaat.
  3. Pendapat ketiga: Boleh melakukan lebih dari dua ruku' dalam setiap rakaat, hingga tiga atau empat ruku'. Ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari sebagian ulama salaf, namun pendapat ini dianggap lemah oleh jumhur ulama karena tidak didukung dalil yang kuat.

Pendapat yang paling kuat adalah pendapat kedua, yaitu dua ruku' dalam setiap rakaat. Hal ini berdasarkan hadits-hadits shahih yang banyak, di antaranya hadits Jabir ini. Imam Ibn Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa riwayat-riwayat shahih tentang shalat gerhana semuanya menunjukkan dua ruku' dalam setiap rakaat, dan tidak ada satu pun riwayat shahih yang menyebutkan satu ruku' saja dalam setiap rakaat.

Adapun tentang memperpanjang bacaan dan ruku', hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memperpanjang shalat gerhana hingga para sahabat hampir terjatuh karena lamanya berdiri. Ini menunjukkan bahwa shalat gerhana disyariatkan dengan penuh kekhusyukan, karena gerhana adalah tanda kekuasaan Allah yang mengingatkan hamba akan kebesaran-Nya dan dekatnya hari kiamat.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, bahwa pada masa Rasulullah ﷺ terjadi gerhana matahari di hari yang sangat panas. Rasulullah ﷺ segera keluar menuju masjid dan memimpin shalat gerhana. Beliau memperpanjang berdiri hingga para sahabat yang mengikuti shalat di belakangnya hampir terjatuh karena kelelahan. Namun mereka tetap bertahan karena melihat kekhusyukan Nabi ﷺ.

Di tengah shalat, Nabi ﷺ hampir saja meraih sesuatu, lalu setelah selesai shalat beliau bersabda bahwa surga diperlihatkan kepadanya dan beliau hampir memetik buahnya, dan neraka juga diperlihatkan kepadanya. Beliau pun memperingatkan umatnya tentang fitnah kubur dan azabnya.

Kisah ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Nabi ﷺ terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, dan bagaimana beliau mengajarkan umatnya untuk segera kembali kepada Allah dengan shalat, doa, dan istighfar ketika terjadi gerhana, bukan dengan takhayul atau ramalan-ramalan.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat gerhana adalah sunnah mu'akkadah yang dilakukan ketika terjadi gerhana matahari atau bulan.
  2. Tata caranya adalah dua rakaat, dan di setiap rakaat dilakukan dua kali ruku' (total empat ruku' dalam dua rakaat), berdasarkan hadits-hadits shahih termasuk hadits Jabir ini.
  3. Bacaan dan ruku' diperpanjang dengan penuh kekhusyukan, karena gerhana adalah tanda kekuasaan Allah.
  4. Setelah shalat, disunnahkan berkhutbah dan mengingatkan umat tentang kebesaran Allah, serta menganjurkan doa, istighfar, dan sedekah.
  5. Hindari keyakinan keliru bahwa gerhana disebabkan oleh kematian atau kelahiran seseorang; semua itu adalah tanda kekuasaan Allah semata.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi