Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa ketika terjadi kekeringan dan kesulitan, Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk berdoa kepada Allah dengan merendahkan diri dan memohon hujan yang bermanfaat, tidak membahayakan, dan segera turun. Doa ini juga mengajarkan adab dalam memohon, yaitu dengan menyebutkan sifat-sifat kebaikan yang kita harapkan dari Allah. Hadits ini juga menunjukkan bahwa doa Nabi ﷺ mustajab, dan langit pun segera mendung sebagai tanda ijabah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Doa Memohon Hujan, Bab Mengangkat Tangan dalam Memohon Hujan, nomor 1169, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu. Teks haditsnya adalah sebagai berikut:
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي خَلَفٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ، عَنْ يَزِيدَ الْفَقِيرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ أَتَتِ النَّبِيَّ ﷺ بَوَاكِي فَقَالَ " اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعاً نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ " . قَالَ فَأَطْبَقَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ .
Terjemahan: "Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Khalaf, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ubaid, telah menceritakan kepada kami Mis'ar, dari Yazid Al-Faqir, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: "Orang-orang datang kepada Nabi ﷺ dengan menangis (karena kekeringan). Beliau berdoa: 'Ya Allah! Berikanlah kami hujan yang menyuburkan, melimpah, menguntungkan dan tidak membahayakan, segera tanpa menunggu.'" Dia (perawi) berkata: "Maka langit pun menjadi mendung."
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١)
"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.'" (QS. Nuh [71]: 10-11)
Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu sebab turunnya hujan adalah istighfar dan doa kepada Allah.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Asy-Syafi'i dalam kitabnya Al-Umm dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad, membahas tentang doa istisqa' (memohon hujan) dan lafazh-lafazh doa yang diajarkan Nabi ﷺ. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa juga menjelaskan tentang adab dan doa dalam shalat istisqa', serta pentingnya merendahkan diri di hadapan Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
- Sebab dan Konteks Doa: Hadits ini menggambarkan situasi sulit yang dialami kaum muslimin, yaitu kekeringan yang berkepanjangan. Mereka datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan "bawaki" (menangis atau dalam keadaan sangat membutuhkan). Ini menunjukkan bahwa ketika tertimpa musibah, kita dianjurkan untuk kembali kepada Allah dan meminta doa kepada orang-orang shalih.
- Lafazh Doa yang Diajarkan Nabi ﷺ: Doa ini sangat kaya makna dan mengandung permohonan yang komprehensif:
- "Allahumma asqina ghaitsan" (Ya Allah, berilah kami hujan). Ini adalah permohonan pokok.
- "Mughitsan" (yang menyelamatkan/menolong). Hujan yang diminta adalah hujan yang menjadi penolong dari kesulitan, bukan hujan yang menjadi bencana.
- "Mari'an" (yang menyuburkan). Hujan yang membuat tanah subur dan tanaman tumbuh dengan baik.
- "Mari'an" (yang melimpah). Hujan yang banyak dan merata, tidak hanya di satu tempat.
- "Nafi'an ghairu dhar" (yang bermanfaat dan tidak membahayakan). Ini adalah permohonan agar hujan tersebut membawa manfaat, tidak merusak, tidak menyebabkan banjir, atau kebinasaan.
- "'Ajilan ghairu ajil" (segera, tidak ditunda). Ini menunjukkan harapan agar pertolongan Allah segera datang, tidak ditunda-tunda.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa sifat nafi'an ghairu dhar ini adalah sifat yang sempurna, karena manusia seringkali meminta sesuatu yang tampak baik tetapi justru membawa mudarat. Maka Nabi ﷺ mengajarkan untuk meminta kebaikan yang disertai dengan keamanan dari segala keburukan.
- Adab Berdoa: Hadits ini mengajarkan adab berdoa yang baik, yaitu:
- Menyebutkan sifat-sifat yang kita harapkan dari Allah.
- Merendahkan diri dan menampakkan kebutuhan di hadapan Allah.
- Berdoa dengan penuh harap dan tidak tergesa-gesa.
- Mustajabnya Doa: Bagian akhir hadits menunjukkan bahwa doa Nabi ﷺ langsung diijabah oleh Allah. Langit yang tadinya cerah menjadi mendung, sebagai tanda akan turunnya hujan. Ini adalah mukjizat dan keutamaan Nabi ﷺ.
Pandangan Ulama tentang Mengangkat Tangan:
Meskipun judul bab dalam Sunan Abu Dawud adalah "Bab Mengangkat Tangan dalam Memohon Hujan", perlu dijelaskan bahwa dalam hadits ini tidak secara eksplisit disebutkan bahwa Nabi ﷺ mengangkat tangan. Namun, dalam hadits-hadits lain yang shahih, seperti dalam riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dijelaskan bahwa Nabi ﷺ mengangkat tangannya dalam shalat istisqa' hingga terlihat putih ketiaknya.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama sepakat (ijma') tentang disunnahkannya mengangkat tangan dalam doa istisqa', karena ini adalah doa untuk meminta sesuatu yang besar dan penting. Namun, dalam doa-doa lainnya, tidak semua ulama sepakat tentang mengangkat tangan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa mengangkat tangan dalam doa adalah salah satu adab yang dianjurkan, terutama dalam doa-doa yang bersifat permohonan dan ibadah. Beliau juga menjelaskan bahwa dalam istisqa', disunnahkan untuk mengangkat tangan dengan lebih tinggi, karena ini adalah bentuk merendahkan diri dan menampakkan kebutuhan yang sangat mendesak.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz (salah seorang ulama dan khalifah dari kalangan Tabi'in), terjadi kekeringan yang sangat parah. Orang-orang datang kepadanya meminta untuk mengadakan shalat istisqa'. Namun, Umar bin Abdul Aziz tidak langsung mengajak mereka keluar ke lapangan. Beliau berkata kepada mereka, "Kalian tidak akan mendapatkan hujan dengan keluar ke lapangan dalam keadaan hati yang penuh dosa. Kembalilah, perbaikilah hubungan kalian dengan Allah, perbaikilah muamalah kalian, dan perbanyaklah istighfar."
Maka orang-orang pun kembali, memperbaiki diri, dan memperbanyak istighfar. Tidak lama kemudian, Allah menurunkan hujan yang lebat. Kisah ini menunjukkan bahwa kunci turunnya pertolongan Allah adalah dengan taubat dan istighfar, sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Nuh [71]: 10-11. Ini juga sejalan dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits di atas, yang intinya adalah kembali kepada Allah dengan penuh harap dan merendahkan diri.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak Doa dan Istighfar: Ketika tertimpa musibah seperti kekeringan, kita dianjurkan untuk banyak berdoa dan beristighfar, karena itu adalah sebab turunnya rahmat Allah.
- Berdoa dengan Lafazh yang Diajarkan Nabi ﷺ: Kita bisa menggunakan lafazh doa dalam hadits ini sebagai bagian dari doa kita, karena lafazh ini sangat sempurna dan mengandung permohonan yang komprehensif.
- Meminta yang Bermanfaat dan Tidak Membahayakan: Dalam setiap doa, kita dianjurkan untuk meminta kebaikan yang disertai dengan keamanan dari segala keburukan.
- Merendahkan Diri di Hadapan Allah: Doa adalah ibadah, dan inti dari ibadah adalah merendahkan diri di hadapan Allah. Maka, berdoalah dengan penuh harap dan rasa butuh kepada-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.