Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah berdoa meminta hujan (istisqa') sambil berdiri, mengangkat kedua tangan di depan wajah, dan tidak melebihi kepalanya. Ini menjadi dalil bahwa mengangkat tangan saat berdoa istisqa' adalah sunnah, dengan adab tertentu yang dicontohkan Nabi ﷺ. Para ulama menjelaskan bahwa mengangkat tangan adalah sebab terkabulnya doa, dan tata caranya bisa berbeda sesuai keadaan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Meminta Hujan, Bab Mengangkat Tangan dalam Meminta Hujan, dari jalur Umayr, pelayan Bani Abi Lahm — seorang tabi'in yang melihat langsung perbuatan Nabi ﷺ.
Teks hadits:
<p>أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ يَسْتَسْقِي عِنْدَ أَحْجَارِ الزَّيْتِ قَرِيبًا مِنَ الزَّوْرَاءِ قَائِمًا يَدْعُو يَسْتَسْقِي رَافِعًا يَدَيْهِ قِبَلَ وَجْهِهِ لَا يُجَاوِزُ بِهِمَا رَأْسَهُ</p>
Terjemahan: "Bahwa ia melihat Nabi ﷺ meminta hujan di Ahjar az-Zayt dekat az-Zawra', dalam keadaan berdiri berdoa meminta hujan, mengangkat kedua tangannya ke arah wajahnya, tidak melebihi kepalanya."
Dalil Al-Qur'an tentang mengangkat tangan dan berdoa dengan tawadhu' dan khusyu':
<p>ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ</p>
QS. Al-A'raf [7]: 55 — "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan berdoa dengan penuh kerendahan hati dan tidak berlebihan, termasuk dalam cara mengangkat tangan dan bersuara.
Hadits lain yang menjadi dasar mengangkat tangan saat istisqa' adalah hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ mengangkat tangannya saat istisqa' hingga terlihat putih ketiaknya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mengangkat tangan saat istisqa' lebih ditekankan dibandingkan doa-doa lain, karena ini termasuk doa yang sangat diharapkan pengabulannya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan gambaran rinci tentang adab Nabi ﷺ dalam berdoa istisqa':
Pertama, Nabi ﷺ berdoa dalam keadaan berdiri. Ini menunjukkan bolehnya berdoa istisqa' sambil berdiri, dan tidak harus duduk atau di atas mimbar.
Kedua, beliau mengangkat kedua tangan di depan wajah, tidak melebihi kepala. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mengangkat tangan adalah adab doa yang sangat dianjurkan, dan bentuknya bisa berbeda-beda: ada yang sejajar dada, ada yang di depan wajah, dan ada yang hingga terlihat ketiaknya — semuanya sah dan tergantung keadaan.
Ketiga, Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dalam bab khusus tentang mengangkat tangan dalam istisqa', menunjukkan perhatian beliau terhadap fikih amal ini.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memiliki beberapa cara dalam istisqa': kadang di dalam masjid, kadang di lapangan, kadang di atas mimbar, kadang berdiri, kadang mengangkat tangan tinggi, kadang sebatas wajah. Semua ini menunjukkan keluasan dan kemudahan dalam berdoa.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa mengangkat tangan saat doa adalah sebab pengabulan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Pemberi, Dia malu jika hamba-Nya mengangkat tangan lalu menolaknya dengan tangan kosong." (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi — hasan).
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa mengangkat tangan saat istisqa' dilakukan hingga terlihat ketiak, berdasarkan hadits Anas. Sedangkan Imam Malik dan sebagian ulama lain berpendapat cukup sebatas wajah, berdasarkan hadits Umayr ini. Ibnu Hajar mengompromikan: keduanya sah, dan perbedaan hanya pada keadaan dan cara, bukan pada pokok amal. Yang paling kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melakukan keduanya pada waktu yang berbeda, sehingga keduanya sunnah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Umayr, pelayan Bani Abi Lahm, adalah seorang yang hidup di masa Nabi ﷺ dan menyaksikan langsung peristiwa istisqa' di Ahjar az-Zayt, dekat az-Zawra' — sebuah tempat di Madinah. Ia memperhatikan dengan seksama bagaimana Nabi ﷺ berdiri, mengangkat tangan di depan wajah, dan berdoa dengan penuh kekhusyukan. Umayr tidak menyaksikan ini dari cerita orang, tetapi dengan mata kepalanya sendiri, sehingga riwayatnya menjadi saksi hidup tentang adab Nabi ﷺ dalam berdoa.
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Tidaklah seorang hamba mengangkat tangannya kepada Allah dalam doa, melainkan Allah akan mengabulkannya, selama ia tidak tergesa-gesa." (diriwayatkan dalam kitab-kitab zuhud). Ini menunjukkan betapa besar harapan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang berdoa dengan penuh adab.
Kesimpulan Praktis
- Mengangkat tangan saat istisqa' adalah sunnah yang dicontohkan Nabi ﷺ, dan menjadi sebab pengabulan doa.
- Boleh mengangkat tangan sebatas wajah atau hingga terlihat ketiak — keduanya sah dan memiliki dalil.
- Berdoa istisqa' boleh dilakukan sambil berdiri, tidak harus duduk atau di mimbar.
- Adab berdoa: khusyu', tawadhu', tidak berlebihan, dan penuh harap kepada Allah.
- Jangan meninggalkan doa istisqa' ketika musim kemarau, karena ini adalah sunnah Nabi ﷺ dan bentuk tawakal kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.