Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1167 tentang Mengganti jubah saat istisqa menghadap kiblat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa ketika Nabi ﷺ keluar untuk shalat Istisqa' (memohon hujan), beliau menghadap kiblat dan membalik jubahnya (selendangnya). Membalik jubah ini adalah salah satu sunnah dalam shalat Istisqa' yang memiliki makna simbolis, yaitu sebagai harapan agar keadaan berubah dari kesusahan (kekeringan) menjadi kemudahan (hujan). Ini adalah perbuatan yang dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ dan diriwayatkan oleh para sahabat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks hadits yang Anda berikan adalah riwayat dari jalur Al-Qa'nabi, dari Malik, dari Abdullah bin Abi Bakr, dari Abbad bin Tamim, dari Abdullah bin Zaid al-Mazini. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka.

Dalil dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.'"

(QS. Nuh [71]: 10-11)

Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar dan doa adalah sebab turunnya hujan, sebagaimana yang dipahami oleh para ulama.

Penjelasan Ulama:

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan hikmah membalik jubah, yaitu sebagai tanda harapan agar keadaan berubah dari sulit menjadi mudah. Beliau menukil perkataan Imam al-Khaththabi bahwa membalik jubah adalah isyarat agar Allah mengubah keadaan mereka dari kekeringan menjadi kesuburan.

Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' juga menjelaskan bahwa membalik jubah dilakukan dengan cara memindahkan bagian yang di kanan ke kiri, dan yang di kiri ke kanan, atau membalik bagian atas ke bawah. Ini adalah sunnah yang disepakati oleh para ulama.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa hal penting dari hadits ini:

1. Disyariatkannya Shalat Istisqa'

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat Istisqa' (memohon hujan) adalah sunnah yang dicontohkan Nabi ﷺ. Beliau keluar ke tanah lapang (musalla), bukan di masjid, untuk melaksanakan shalat ini. Ini sebagaimana dipahami oleh Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal.

2. Tata Cara Membalik Jubah

Para ulama berbeda pendapat tentang cara membalik jubah:

  • Pendapat pertama (Imam Malik dan Imam asy-Syafi'i): Membalik jubah dengan memindahkan bagian kanan ke kiri dan kiri ke kanan, serta bagian atas ke bawah. Ini berdasarkan riwayat bahwa Nabi ﷺ membalik jubahnya secara menyeluruh.
  • Pendapat kedua (sebagian ulama Hanabilah): Cukup membalik bagian atas ke bawah tanpa memindahkan kanan ke kiri.

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, karena riwayat-riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membalik jubahnya secara total. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membalik jubahnya, menjadikan bagian yang di kanan di kiri dan yang di kiri di kanan.

3. Waktu Membalik Jubah

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membalik jubahnya setelah menghadap kiblat, yaitu setelah selesai shalat atau di tengah khutbah. Imam Ibn Hajar menjelaskan bahwa yang lebih utama adalah membalik jubah ketika menghadap kiblat untuk berdoa, baik sebelum maupun sesudah khutbah.

4. Hikmah Membalik Jubah

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa membalik jubah adalah simbolis agar Allah mengubah keadaan mereka. Ini juga mengandung makna bahwa seorang hamba yang memohon kepada Allah hendaknya disertai dengan perubahan sikap batin, dari lalai menjadi sadar, dari maksiat menjadi taat.

Imam Ibn Taymiyyah juga menjelaskan bahwa membalik jubah adalah perbuatan yang dicontohkan Nabi ﷺ, dan kita mengikutinya sebagai bentuk ibadah, meskipun kita tidak mengetahui secara pasti hikmahnya secara terperinci.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada masa Nabi ﷺ, penduduk Madinah mengalami kekeringan yang panjang. Mereka mengadu kepada Nabi ﷺ. Maka Nabi ﷺ keluar bersama mereka ke tanah lapang. Beliau berkhutbah, kemudian menghadap kiblat, mengangkat tangan, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Beliau membalik jubahnya sebagai tanda harapan agar Allah mengubah keadaan mereka.

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa doa Nabi ﷺ belum selesai, awan sudah datang dari berbagai arah, dan hujan turun dengan derasnya. Bahkan disebutkan bahwa hujan turun begitu lebatnya hingga orang-orang khawatir banjir. Ini menunjukkan betapa mustajabnya doa Nabi ﷺ dan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang berdoa dengan sungguh-sungguh.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa doa dan istighfar adalah kunci turunnya rahmat Allah. Ketika manusia kembali kepada Allah dengan tulus, Allah akan membuka pintu rahmat-Nya.

Kesimpulan Praktis

Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Menghidupkan sunnah shalat Istisqa' ketika terjadi kekeringan atau musim paceklik, dengan keluar ke tanah lapang bersama kaum muslimin.
  2. Membalik jubah atau pakaian luar ketika berdoa memohon hujan, sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ dan harapan agar Allah mengubah keadaan.
  3. Memperbanyak istighfar dan doa ketika menghadapi kesulitan, karena istighfar adalah sebab turunnya hujan dan rahmat Allah.
  4. Menghadap kiblat ketika berdoa dalam shalat Istisqa', sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
  5. Meyakini bahwa perubahan nasib ada di tangan Allah, dan kita sebagai hamba hanya bisa berdoa dan berusaha, sementara hasilnya kita serahkan kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.