Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1165 tentang Shalat istisqa dengan doa dan takbir tanpa khutbah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tata cara shalat Istisqa' (shalat meminta hujan) yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau keluar ke tanah lapang (musalla) dalam keadaan rendah hati, tidak menyampaikan khutbah seperti khutbah biasa, melainkan terus berdoa, merendahkan diri, dan bertakbir. Setelah itu, beliau shalat dua rakaat sebagaimana shalat hari raya. Ini menunjukkan bahwa shalat Istisqa' disyariatkan dan dilakukan di tanah lapang, dengan penuh kekhusyukan dan kerendahan diri di hadapan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat Istisqa' (Buku Doa Meminta Hujan), no. 1165. Juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari jalur yang serupa.

Teks Arab Hadits (sebagaimana yang Anda sertakan):

حَدَّثَنَا النُّفَيْلِيُّ، وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، نَحْوَهُ قَالاَ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كِنَانَةَ، قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي قَالَ، أَرْسَلَنِي الْوَلِيدُ بْنُ عُتْبَةَ - قَالَ عُثْمَانُ ابْنُ عُقْبَةَ وَكَانَ أَمِيرَ الْمَدِينَةِ - إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَسْأَلُهُ عَنْ صَلاَةِ، رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي الاِسْتِسْقَاءِ فَقَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُتَبَذِّلاً مُتَوَاضِعًا مُتَضَرِّعًا حَتَّى أَتَى الْمُصَلَّى - زَادَ عُثْمَانُ فَرَقِيَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ اتَّفَقَا - وَلَمْ يَخْطُبْ خُطَبَكُمْ هَذِهِ وَلَكِنْ لَمْ يَزَلْ فِي الدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّكْبِيرِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدِ

Terjemahan:

"Rasulullah ﷺ keluar (untuk shalat Istisqa') dalam keadaan berpakaian sederhana, rendah hati, dan merendahkan diri (kepada Allah), hingga beliau tiba di tempat shalat. Beliau naik ke mimbar, tetapi tidak berkhutbah seperti khutbah kalian ini. Akan tetapi, beliau terus-menerus berdoa, merendahkan diri, dan bertakbir. Kemudian beliau shalat dua rakaat sebagaimana shalat hari raya."

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.'"

(QS. Nuh [71]: 10-11)

Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar dan merendahkan diri di hadapan Allah adalah sebab turunnya hujan, sebagaimana dipahami oleh para ulama.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zaad al-Ma'aad menjelaskan bahwa shalat Istisqa' disyariatkan seperti shalat 'Id, dilakukan di tanah lapang, dan Nabi ﷺ keluar dengan penuh kerendahan diri. Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa juga membahas tata cara ini dan menegaskan bahwa shalat Istisqa' adalah sunnah yang dilakukan berjamaah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang tata cara shalat Istisqa' (meminta hujan). Mari kita bedah poin-poin pentingnya:

1. Keluar ke Tanah Lapang (Musalla)

Nabi ﷺ keluar menuju tanah lapang, bukan di masjid. Ini menunjukkan bahwa shalat Istisqa' disunnahkan dilakukan di tempat yang luas agar lebih banyak orang yang hadir dan lebih menggambarkan kerendahan diri. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa shalat Istisqa' dilakukan di tanah lapang, sebagaimana shalat 'Id.

2. Keadaan Nabi ﷺ: Mutabaddzil (berpakaian sederhana), Mutawadhi' (rendah hati), Mutadharri' (merendahkan diri)

Ini adalah inti dari shalat Istisqa'. Tujuannya adalah menunjukkan kelemahan dan kebutuhan hamba di hadapan Allah. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa keluar dengan pakaian sederhana dan merendahkan diri adalah bentuk penghambaan yang paling agung ketika memohon kepada Allah.

3. Tidak Berkhutbah Seperti Khutbah Biasa

Nabi ﷺ tidak berkhutbah dengan khutbah yang panjang seperti khutbah Jumat atau 'Id. Beliau lebih banyak berdoa, bertakbir, dan merendahkan diri. Ini menunjukkan bahwa inti dari Istisqa' adalah doa dan penghambaan, bukan ceramah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tetap memberikan nasihat singkat setelah shalat, sebagaimana dalam riwayat lain.

4. Shalat Dua Rakaat Seperti Shalat 'Id

Nabi ﷺ shalat dua rakaat dengan takbir-takbir tambahan seperti shalat 'Id. Ini menunjukkan bahwa shalat Istisqa' memiliki tata cara yang mirip dengan shalat 'Id, yaitu dilakukan dua rakaat dengan takbir tambahan di rakaat pertama dan kedua.

Catatan penting:

Imam Abu Dawud memberikan catatan bahwa dalam sanad hadits ini ada perbedaan nama: "Al-Walid bin 'Utbah" atau "Al-Walid bin 'Uqbah". Yang benar menurut Abu Dawud adalah "Ibnu 'Utbah". Ini adalah catatan penting dalam ilmu hadits, bahwa ketelitian sanad adalah bagian dari keilmuan para ulama.

Pendapat ulama tentang shalat Istisqa':

  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad: Shalat Istisqa' disunnahkan dua rakaat dengan takbir seperti shalat 'Id, dilakukan di tanah lapang, dan khutbah setelah shalat.
  • Imam Abu Hanifah: Shalat Istisqa' dilakukan dua rakaat tanpa takbir tambahan, dan khutbahnya sebelum shalat.
  • Imam Malik: Shalat Istisqa' dua rakaat, tetapi tanpa takbir tambahan.

Namun, pendapat yang paling kuat berdasarkan hadits-hadits shahih adalah pendapat Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad, yaitu shalat dua rakaat dengan takbir tambahan, dilakukan di tanah lapang, dan khutbah setelah shalat. Ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, terjadi kekeringan yang parah di Madinah. Umar keluar bersama kaum muslimin untuk shalat Istisqa'. Di antara mereka ada Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi ﷺ. Umar berdoa dengan merendahkan diri, lalu berkata: "Ya Allah, kami dahulu bertawassul kepada-Mu dengan Nabi kami, maka Engkau turunkan hujan. Dan sekarang kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami." Maka Abbas berdiri dan berdoa, dan tidak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya).

Kisah ini menunjukkan bahwa shalat Istisqa' dan doa dengan penuh kerendahan hati adalah sebab turunnya rahmat Allah. Para sahabat memahami bahwa kunci terkabulnya doa adalah keikhlasan, kerendahan hati, dan bertawassul dengan amal shalih.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat Istisqa' disunnahkan ketika terjadi kekeringan atau keterlambatan hujan.
  2. Dilakukan di tanah lapang secara berjamaah, sebagaimana shalat 'Id.
  3. Nabi ﷺ keluar dengan pakaian sederhana dan penuh kerendahan hati — ini adalah pelajaran bahwa ketika memohon kepada Allah, kita harus menunjukkan kelemahan dan kebutuhan kita.
  4. Perbanyak doa, istighfar, dan takbir — inti dari Istisqa' adalah doa dan merendahkan diri, bukan sekadar ritual.
  5. Shalat dua rakaat dengan tata cara seperti shalat 'Id, dan khutbah setelahnya berisi nasihat serta doa.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?