Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan salah satu adab ketika berdoa memohon hujan (istisqa'), yaitu membalikkan jubah (ridā'). Sisi kanan jubah diletakkan di bahu kiri, dan sisi kiri diletakkan di bahu kanan, lalu berdoa kepada Allah. Ini adalah isyarat perubahan keadaan, dari kesulitan menuju kelapangan, dan bentuk tawadhu' serta pengharapan kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Istisqa', dari jalur Muhammad bin Muslim (yakni Az-Zuhri, salah satu tabi'in dalam daftar rujukan). Redaksi ini tidak menyebutkan shalat, hanya menyebutkan pembalikan jubah lalu berdoa.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan doa dan kembali kepada Allah:
QS. Al-Baqarah [2]: 186
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk."
Hadits terkait dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ ketika berdoa istisqa' membalikkan jubahnya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pembalikan jubah ini mengandung makna optimisme (tafa'ul) akan perubahan keadaan dari kekeringan menuju hujan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan bagian dari rangkaian riwayat tentang istisqa' (memohon hujan). Dalam riwayat Abu Dawud ini, Az-Zuhri (Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri) menyampaikan hadits melalui jalur yang tidak menyebutkan shalat, tetapi menegaskan adanya pembalikan jubah sebelum berdoa.
Makna pembalikan jubah:
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan beberapa hikmah:
- Tafa'ul (optimisme) — sebagaimana keadaan yang berubah dari kering menjadi subur, jubah pun dibalik sebagai simbol perubahan.
- Tawadhu' dan pengharapan — menunjukkan kerendahan diri di hadapan Allah.
- Mengikuti sunnah Nabi ﷺ — ini adalah adab yang diajarkan langsung oleh beliau.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat apakah pembalikan jubah dilakukan hanya saat istisqa' atau juga dalam doa lain. Pendapat yang lebih kuat: ini khusus untuk istisqa', karena ada nash yang jelas.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa pembalikan jubah adalah bagian dari sunnah istisqa' yang dilakukan Nabi ﷺ, dan ini bukan sekadar simbol, tetapi ibadah yang memiliki makna spiritual.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:
- Sebagian memahami pembalikan jubah sebagai isyarat perubahan keadaan (Ibnu Hajar).
- Sebagian menekankan aspek tawadhu' dan doa (an-Nawawi).
- Pendapat yang paling kuat: keduanya benar, karena isyarat dan ibadah bisa bersatu.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ berdoa istisqa', beliau mengangkat tangan, membalikkan jubah, dan berdoa dengan penuh harap. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa setelah itu hujan turun deras, hingga orang-orang berlindung di bawah pohon dan atap rumah. (Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim)
Hikmahnya: pembalikan jubah bukan sekadar gerakan fisik, tetapi ekspresi hati yang berbalik kepada Allah, dari keluhan menuju harapan, dari kekeringan menuju rahmat.
Kesimpulan Praktis
- Saat berdoa istisqa', disunnahkan membalikkan jubah sebagai bentuk tafa'ul dan tawadhu'.
- Doa harus disertai pengharapan dan kerendahan hati kepada Allah.
- Ikuti sunnah Nabi ﷺ dalam adab berdoa, termasuk dalam istisqa'.
- Jangan menganggap pembalikan jubah sebagai jimat atau simbol magis, tetapi sebagai ibadah dan isyarat spiritual.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.