Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan tata cara shalat istisqa (memohon hujan) yang diajarkan Nabi ﷺ: beliau keluar bersama manusia ke tanah lapang, shalat dua rakaat dengan bacaan jahr (keras), membalikkan rida' (selendang/jubah)nya, mengangkat kedua tangan, berdoa memohon hujan, dan menghadap kiblat. Hadits ini menjadi dalil utama bagi jumhur ulama bahwa shalat istisqa dilakukan berjamaah dengan dua rakaat dan khutbah, serta disunnahkan membalik selendang dan mengangkat tangan saat berdoa.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Istisqa, dari jalur Ma'mar bin Rasyid dari Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) dari Abbad bin Tamim dari pamannya (Abdullah bin Zaid bin 'Ashim al-Muzini radhiyallahu 'anhu).
Hadits senada juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari jalur yang sama, sehingga kedudukannya shahih dan disepakati.
Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar disyariatkannya memohon hujan dan kembali kepada Allah, di antaranya firman Allah:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً ۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
"Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau, dan Kami jadikan bagi mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada seorang rasul pun yang dapat mendatangkan suatu mukjizat melainkan dengan izin Allah. Bagi setiap masa ada Kitab (ketentuan)-nya." (QS. Ar-Ra'd [13]: 38)
Dan firman Allah:
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
"Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa, dan Dia menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah pelindung yang Maha Terpuji." (QS. Asy-Syura [42]: 28)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa hanya Allah yang menurunkan hujan, dan manusia diperintahkan untuk bergantung kepada-Nya serta memohon dengan tawadhu.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa hukum dan adab penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Shalat istisqa dilakukan berjamaah dan keluar ke tanah lapang.
Nabi ﷺ "keluar bersama manusia" menunjukkan bahwa shalat istisqa bukan shalat yang dilakukan sendirian di rumah, melainkan berjamaah di tempat terbuka. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa keluarnya Nabi ﷺ ke tanah lapang mengandung hikmah menampakkan ketundukan, kerendahan diri, dan kebutuhan yang besar kepada Allah, sekaligus menampakkan kesatuan umat dalam berdoa.
Kedua: Shalat dua rakaat dengan bacaan jahr (keras).
Nabi ﷺ shalat dua rakaat dan mengeraskan bacaan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa jumhur ulama (termasuk Imam asy-Syafi'i, Imam Malik, dan Imam Ahmad) berpendapat shalat istisqa dua rakaat dengan bacaan jahr, sebagaimana shalat 'Id. Imam Abu Hanifah juga berpendapat dua rakaat, meskipun dalam sebagian riwayat beliau tidak mengeraskan bacaan. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah jahr (mengeraskan bacaan), karena hadits ini shahih dan tegas.
Ketiga: Membalikkan rida' (selendang/jubah).
Nabi ﷺ membalikkan selendangnya. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah simbol perubahan keadaan — dari kekeringan menuju kesuburan, dari kesempitan menuju kelaparan. Sebagian ulama seperti Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa membalikkan selendang dilakukan saat berdoa, sebagai bentuk tafa'ul (mengharap perubahan keadaan menjadi lebih baik). Imam an-Nawawi menambahkan bahwa disunnahkan bagi imam dan makmum untuk membalik selendang mereka.
Keempat: Mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat saat berdoa.
Nabi ﷺ mengangkat tangannya dan menghadap kiblat. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa mengangkat tangan adalah adab doa yang paling utama, terlebih dalam memohon hujan karena kebutuhan yang sangat mendesak. Menghadap kiblat saat berdoa juga merupakan sunnah yang dianjurkan, sebagaimana dijelaskan Ibnu Qayyim dan Ibnu Hajar.
Kelima: Perbedaan pendapat tentang khutbah.
Sebagian ulama seperti Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa setelah shalat istisqa ada khutbah, berdasarkan hadits-hadits lain yang menyebutkan khutbah Nabi ﷺ. Imam Malik juga berpendapat adanya khutbah. Imam Abu Hanifah berpendapat tidak ada khutbah, cukup doa. Pendapat yang paling kuat adalah adanya khutbah, karena terdapat riwayat shahih dari Al-Bukhari dan Muslim yang menyebutkan khutbah Nabi ﷺ dalam shalat istisqa.
Story Telling
Dikisahkan oleh Abbad bin Tamim dari pamannya Abdullah bin Zaid al-Muzini radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat Anshar yang juga meriwayatkan hadits wudhu — bahwa suatu ketika manusia dilanda kekeringan yang panjang. Tanah menjadi tandus, ternak mati, dan manusia mulai berputus asa. Maka Rasulullah ﷺ keluar bersama mereka menuju tanah lapang. Beliau tidak mengenakan pakaian yang mewah, tetapi menampakkan kerendahan diri di hadapan Allah.
Beliau shalat dua rakaat, mengeraskan bacaan, lalu membalikkan selendangnya — seolah mengisyaratkan, "Ya Allah, ubahlah keadaan kami dari kering menjadi subur, dari susah menjadi senang." Beliau mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi, menghadap kiblat, dan berdoa dengan penuh harap. Tidak lama kemudian, Allah menurunkan hujan yang membasahi bumi, menghidupkan kembali tanah yang mati, dan menyelamatkan hamba-hamba-Nya.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa peristiwa ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-Nya yang kembali kepada-Nya dengan tawadhu dan taat.
Kesimpulan Praktis
- Shalat istisqa disyariatkan ketika terjadi kekeringan atau kebutuhan air yang mendesak, dilakukan berjamaah di tanah lapang.
- Tata caranya: dua rakaat, bacaan jahr (keras), kemudian khutbah dan doa.
- Disunnahkan membalikkan selendang sebagai simbol harapan perubahan keadaan.
- Disunnahkan mengangkat tangan dan menghadap kiblat saat berdoa memohon hujan.
- Hendaknya kita kembali kepada Allah dengan taubat, sedekah, dan memperbanyak istighfar, karena kekeringan sering kali merupakan akibat dari dosa-dosa hamba.
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah, karena Dia-lah yang menurunkan hujan setelah manusia berputus asa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.