Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1151 tentang Jumlah takbir dalam shalat Idul Fitri

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat Idul Fitri (dan Idul Adha) dikerjakan dua rakaat, dengan tujuh takbir pada rakaat pertama dan lima takbir pada rakaat kedua, dan bacaan Al-Fatihah serta surah dilakukan setelah takbir-takbir tersebut. Ini adalah tuntunan Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin al-Ash, dan menjadi pegangan dalam fiqih shalat Id menurut para ulama Ahlus Sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Takbir pada Dua Hari Raya, dari jalur Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya (Abdullah bin Amr bin al-Ash).

Teks hadits:

> التَّكْبِيرُ فِي الْفِطْرِ سَبْعٌ فِي الأُولَى وَخَمْسٌ فِي الآخِرَةِ وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا

Terjemahan: "Takbir pada shalat Idul Fitri adalah tujuh pada rakaat pertama dan lima pada rakaat kedua, dan bacaan (Al-Fatihah dan surah) dilakukan setelah keduanya (yakni setelah takbir-takbir tersebut)."

Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan umum shalat Id dan takbir:

QS. Al-Kautsar [108]: 2

وَصَلِّ

Maaf, saya perlu berhati-hati di sini. Ayat yang paling relevan secara umum tentang perintah shalat dan berkurban adalah:

QS. Al-Kautsar [108]: 2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Terjemahan: "Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan berkurbanlah."

Ayat ini dipahami oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya sebagai isyarat kepada shalat Id dan penyembelihan kurban, meskipun tidak secara eksplisit menyebut jumlah takbir.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Hadits ini menerangkan tata cara shalat Id (baik Idul Fitri maupun Idul Adha) dalam hal jumlah takbir. Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram, dilakukan tujuh takbir tambahan (takbir zawa'id). Pada rakaat kedua, setelah berdiri dari sujud, dilakukan lima takbir tambahan. Setelah takbir-takbir itu selesai, barulah membaca Al-Fatihah dan surah.

Pemahaman para ulama dalam daftar:

Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dalam bab khusus tentang takbir pada dua hari raya, menunjukkan bahwa beliau memandangnya sebagai dalil utama dalam bab ini.

Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits serupa dan menilainya sebagai hadits yang menjadi pegangan sebagian besar ulama Ahlus Sunnah dalam masalah ini.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ ketika shalat Id, beliau bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, dan ini dilakukan sebelum bacaan. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dasar amalan yang dipilih oleh banyak ulama.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits Amr bin Syu'aib ini termasuk riwayat yang dipakai untuk menetapkan jumlah takbir shalat Id, meskipun ada perbedaan riwayat dalam hal ini.

Imam asy-Syafi'i dalam Al-Umm berpendapat bahwa takbir shalat Id adalah tujuh pada rakaat pertama dan lima pada rakaat kedua, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna.

Imam Ahmad bin Hanbal juga berpegang pada jumlah ini, sebagaimana dinukil dalam Masail dan kitab-kitab fiqih Hanabilah.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa takbir tambahan pada rakaat pertama adalah tiga (selain takbiratul ihram) dan pada rakaat kedua tiga (selain takbir intiqal), berdasarkan hadits lain. Namun jumhur ulama dari kalangan Syafi'iyah dan Hanabilah menguatkan pendapat tujuh dan lima sesuai hadits Amr bin Syu'aib ini.

Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menilai hadits ini sebagai hasan dan menjadikannya dalil untuk jumlah takbir tujuh dan lima.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Asy-Syarh al-Mumti' menjelaskan bahwa pendapat yang paling kuat adalah tujuh takbir pada rakaat pertama dan lima pada rakaat kedua, dan bacaan dilakukan setelah takbir-takbir tersebut, sesuai zhahir hadits.

Catatan penting: Hadits ini dinilai hasan oleh sebagian ulama seperti al-Albani, karena jalur Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya memiliki kelemahan ringan, namun para ulama menerimanya sebagai dasar amal karena didukung oleh riwayat-riwayat lain dan amalan kaum muslimin.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin al-Ash — seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan dikenal kedalaman ilmunya — menyampaikan hadits ini kepada para tabi'in. Di antara yang meriwayatkan darinya adalah Amr bin Syu'aib, cucunya sendiri, yang kemudian menyampaikannya kepada ayahnya Syu'aib, dan seterusnya.

Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah bin Di'amah as-Sadusi termasuk di antara ulama tabi'in yang membahas tata cara shalat Id dan mengamalkan jumlah takbir ini dalam pengajaran mereka kepada masyarakat Bashrah. Mereka menekankan bahwa shalat Id adalah syi'ar Islam yang agung, dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ dalam jumlah takbir adalah bentuk ketaatan yang penuh berkah.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat Id dikerjakan dua rakaat, dengan takbir tambahan: tujuh pada rakaat pertama dan lima pada rakaat kedua.
  2. Takbir dilakukan setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama, dan setelah bangkit dari sujud pada rakaat kedua, sebelum membaca Al-Fatihah.
  3. Bacaan Al-Fatihah dan surah dilakukan setelah takbir-takbir tersebut, sesuai zhahir hadits.
  4. Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat jumhur ulama (Syafi'iyah dan Hanabilah) yang berpegang pada hadits Amr bin Syu'aib ini, sebagaimana dikuatkan oleh Ibnu Qayyim, Ibnu Hajar, asy-Syafi'i, Ahmad, al-Albani, dan al-Utsaimin.
  5. Hendaknya kita mengikuti tuntunan Nabi ﷺ dalam shalat Id tanpa menambah atau mengurangi, karena ibadah bersifat tauqifiyah (terikat pada dalil).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?