Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1149 tentang Takbir tujuh dan lima kali dalam shalat Id

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tata cara takbir tambahan dalam shalat Idul Fitri dan Idul Adha, yaitu 7 kali takbir pada rakaat pertama (selain takbiratul ihram) dan 5 kali takbir pada rakaat kedua (selain takbir bangun dari sujud). Ini adalah salah satu pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi'i dan merupakan amalan yang masyhur. Namun, perlu diketahui bahwa terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai jumlah takbir ini, dan semuanya memiliki dalil yang shahih.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks hadits yang Anda berikan adalah riwayat dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi. Para ulama berbeda pendapat mengenai keshahihan sanadnya karena terdapat perawi bernama Ibnu Lahi'ah yang dikenal lemah hafalannya jika tidak didukung riwayat lain. Namun, makna hadits ini dikuatkan oleh hadits-hadits lain yang shahih.

Hadits Shahih Pendukung:

Hadits shahih yang semakna diriwayatkan dari sahabat Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi ﷺ bertakbir dalam shalat Id 12 kali; 7 kali di rakaat pertama dan 5 kali di rakaat kedua. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan: "Ini adalah pendapat yang dipegang oleh para ulama dari kalangan sahabat Nabi ﷺ dan tabi'in."

Pendapat Ulama Madzhab:

  1. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat: berpendapat 7 takbir di rakaat pertama dan 5 di rakaat kedua (inilah yang sesuai dengan hadits Aisyah).
  2. Imam Abu Hanifah: berpendapat 3 takbir di rakaat pertama dan 3 di rakaat kedua.
  3. Imam Malik: berpendapat 6 takbir di rakaat pertama dan 5 di rakaat kedua.

Dalil Al-Qur'an yang Relevan:

Firman Allah Ta'ala:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Ayat ini menunjukkan perintah untuk bertakbir (mengagungkan Allah) pada hari raya, dan tata cara pelaksanaannya dijelaskan oleh sunnah Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa shalat Id memiliki kekhususan berupa takbir-takbir tambahan yang dibaca sebelum membaca Al-Fatihah. Ini adalah bentuk pengagungan kepada Allah di hari raya sebagai wujud syukur atas nikmat-Nya.

Pendapat yang Kuat:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menyebutkan bahwa pendapat yang lebih hati-hati adalah mengikuti hadits yang shahih, yaitu 7 takbir di rakaat pertama dan 5 di rakaat kedua. Beliau menjelaskan bahwa hadits Amr bin Syu'aib shahih dan diamalkan oleh mayoritas ulama hadits.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti' menjelaskan bahwa masalah ini adalah masalah ijtihadiyah (masalah yang ada kelapangan di dalamnya). Beliau cenderung memilih pendapat 7 dan 5 karena dalilnya lebih kuat, namun beliau menekankan bahwa jika seseorang mengikuti pendapat 3 takbir (madzhab Hanafi), shalatnya tetap sah karena ini bukan rukun.

Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menjelaskan bahwa beliau memilih 7 dan 5 berdasarkan hadits Aisyah dan hadits Amr bin Syu'aib. Beliau juga menyebutkan bahwa di antara takbir-takbir tersebut tidak ada bacaan tertentu yang tetap dari Nabi ﷺ, namun dianjurkan untuk memuji Allah, bershalawat kepada Nabi, dan berdoa.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menegaskan bahwa masalah ini luas, dan kaum muslimin tidak perlu saling menyalahkan karena perbedaan ini adalah perbedaan yang sudah dikenal sejak zaman sahabat dan tabi'in.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang jumlah takbir dalam shalat Id. Beliau menjawab dengan sangat hati-hati: "Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan 7 dan 5, ada yang mengatakan 6 dan 4, ada yang mengatakan 3 dan 3. Semua itu diriwayatkan dari para ulama salaf. Maka seorang muslim hendaknya mengikuti apa yang ia yakini lebih dekat kepada sunnah, dan janganlah ia mencela saudaranya yang berbeda pendapat."

Ini menunjukkan keindahan Islam: dalam masalah furu'iyyah (cabang), terdapat kelapangan. Yang penting adalah shalat Id tetap dilaksanakan dengan khusyuk dan penuh kebersamaan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jumlah takbir tambahan dalam shalat Id yang paling kuat adalah 7 di rakaat pertama dan 5 di rakaat kedua (di luar takbiratul ihram dan takbir bangun dari ruku').
  2. Cara pelaksanaannya: Setelah takbiratul ihram, bertakbir 7 kali. Di antara takbir-takbir tersebut dianjurkan membaca hamdalah, shalawat, dan doa. Kemudian membaca ta'awudz, Al-Fatihah, dan surat. Pada rakaat kedua: setelah takbir bangun dari sujud, bertakbir 5 kali, kemudian membaca Al-Fatihah dan surat.
  3. Jika berbeda pendapat, jangan saling menyalahkan. Semua pendapat ulama dalam masalah ini memiliki dasar, dan shalat tetap sah.
  4. Yang terpenting adalah menghadirkan hati, memperbanyak takbir di hari raya, dan menjaga silaturahmi serta kebersamaan umat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?