Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab penting dalam berkhutbah dan berbicara di hadapan umum. Nabi ﷺ menegur seorang khatib yang menggunakan lafaz "wa man ya'shihima" (dan siapa yang mendurhakai mereka berdua) karena lafaz ini mengandung makna yang keliru, seolah-olah ada dua Tuhan yang ditaati dan dua rasul yang ditaati. Padahal ketaatan kepada Rasulullah ﷺ adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, bukan ketaatan yang terpisah. Teguran ini menjadi pelajaran tentang ketelitian dalam memilih kata-kata, terutama dalam urusan agama.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
"Barangsiapa menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah."
(QS. An-Nisa' [4]: 80)
Ayat ini menjelaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah ﷺ adalah ketaatan kepada Allah. Tidak ada pemisahan antara keduanya dalam hal ketaatan, karena Rasulullah ﷺ tidak pernah berbicara kecuali dengan wahyu dari Allah.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab "Seorang Pria Berkhutbah di Atas Busur", nomor 1099. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan redaksi yang serupa.
Kaitan dengan ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna teguran Nabi ﷺ adalah karena lafaz "wa man ya'shihima" (dan siapa yang mendurhakai keduanya) mengandung kerancuan, seolah-olah ada dua yang ditaati dan dua yang didurhakai. Padahal yang benar adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah satu kesatuan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Larangan menggunakan lafaz yang rancu dalam masalah agama.
Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya I'lamul Muwaqqi'in menyebutkan bahwa Nabi ﷺ menegur khatib tersebut karena lafaznya bisa disalahpahami. Ungkapan "wa man ya'shihima" (dan siapa yang mendurhakai keduanya) menggunakan kata ganti ganda (dhamir tatsniyah), yang memberi kesan bahwa ada dua entitas yang ditaati secara terpisah. Padahal dalam aqidah Islam, ketaatan kepada Rasulullah ﷺ adalah manifestasi dari ketaatan kepada Allah, bukan ketaatan yang berdiri sendiri.
Kedua: Pentingnya ketelitian dalam memilih kata-kata.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa teguran Nabi ﷺ ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan ketelitian dalam berbahasa, terutama ketika menyampaikan perkara-perkara agama. Kesalahan kecil dalam lafaz bisa membawa kepada pemahaman yang keliru.
Ketiga: Adab berbicara di hadapan ulama dan orang yang lebih alim.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menyebutkan bahwa hadits ini juga mengajarkan bahwa ketika seseorang berbicara di hadapan orang yang lebih berilmu, hendaknya ia berhati-hati dan tidak merasa cukup dengan ilmunya sendiri.
Keempat: Bentuk teguran yang tegas namun tetap dalam koridor syariat.
Nabi ﷺ bersabda: "Berdirilah - atau pergilah - seburuk-buruk khatib engkau." Ini adalah teguran yang sangat keras. Namun perlu dipahami, teguran ini bukan berarti khatib tersebut keluar dari Islam atau menjadi fasik, tetapi sebagai pelajaran agar ia memperbaiki cara bicaranya.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu sendiri yang meriwayatkan hadits ini, dan beliau adalah seorang sahabat yang mulia. Ini menunjukkan bahwa teguran Nabi ﷺ adalah bentuk pendidikan dan bimbingan, bukan penghinaan.
Story Telling
'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu adalah seorang pemimpin suku Thayyi' yang sebelumnya beragama Nasrani. Ketika ia masuk Islam, ia sangat mencintai Nabi ﷺ dan banyak meriwayatkan hadits-hadits beliau.
Dalam riwayat lain, ketika 'Adi bin Hatim datang menemui Nabi ﷺ untuk pertama kalinya, ia masih ragu. Nabi ﷺ berkata kepadanya: "Wahai 'Adi bin Hatim, masuklah Islam, niscaya engkau selamat." Namun 'Adi masih ragu dan bertanya tentang tanda-tanda kenabian. Maka Nabi ﷺ berkata: "Apakah engkau mengenal tanda-tanda kenabian?" 'Adi menjawab: "Aku mengenalnya." Maka Nabi ﷺ menyebutkan beberapa tanda, di antaranya: "Sesungguhnya engkau akan melihat seorang wanita yang bepergian sendirian dari Hirah hingga thawaf di Ka'bah tanpa takut kepada siapapun kecuali Allah." Akhirnya 'Adi bin Hatim masuk Islam dan menjadi salah satu sahabat yang setia.
Dari kisah ini kita belajar bahwa para sahabat adalah orang-orang yang sangat mencintai Nabi ﷺ, dan mereka menerima teguran beliau dengan lapang dada karena mereka tahu bahwa teguran tersebut adalah kasih sayang dan bimbingan.
Kesimpulan Praktis
- Hati-hati dalam memilih lafaz ketika berbicara tentang Allah dan Rasul-Nya. Gunakan lafaz yang jelas dan tidak rancu.
- Pahami bahwa ketaatan kepada Rasulullah ﷺ adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, bukan ketaatan yang terpisah.
- Jika berbicara di hadapan orang yang lebih alim, hendaknya bersikap tawadhu' dan menerima koreksi dengan lapang dada.
- Teguran dalam Islam adalah bentuk kasih sayang, bukan permusuhan. Maka terimalah nasihat dengan baik.
- Pelajari adab-adab khutbah dan berbicara di depan umum agar tidak keliru dalam menyampaikan perkara agama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.