Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan bentuk fisik Masjid Nabawi pada zaman Nabi ﷺ, yaitu jarak antara mimbar dan dinding (kiblat) masjid yang sangat dekat, hanya sekadar muat untuk seekor kambing lewat. Ini menunjukkan kesederhanaan masjid dan mimbar pertama dalam Islam, serta memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga kelapangan dan keteraturan dalam shaf, serta tidak berlebih-lebihan dalam membangun masjid.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Tempat Mimbar, no. 1082, dari sahabat Salamah bin al-Akwa' radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq (no. 497) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1092) dengan redaksi yang lebih panjang.
Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara khusus membahas tentang ukuran mimbar atau jaraknya dengan dinding. Namun, ada ayat yang berbicara tentang kesederhanaan dan tidak berlebih-lebihan dalam membangun masjid, yang merupakan salah satu pelajaran dari hadits ini. Allah Ta'ala berfirman:
QS. At-Taubah [9]: 18
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk."
Para ulama menafsirkan "memakmurkan masjid" tidak hanya dengan membangunnya, tetapi juga dengan menghidupkannya melalui ibadah dan menjaga adab-adabnya, termasuk tidak berlebih-lebihan dalam menghias dan memperluasnya tanpa kebutuhan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu bukti sejarah yang menggambarkan keadaan Masjid Nabawi di masa Nabi ﷺ. Mimbar Nabi ﷺ terletak sangat dekat dengan dinding kiblat (arah menghadap shalat), hanya berjarak sekitar ukuran lebar seekor kambing yang sedang lewat. Ini menunjukkan bahwa:
1. Kesederhanaan Masjid dan Mimbar Pertama dalam Islam
Mimbar pertama dalam Islam dibuat dari kayu ghaba (pohon hutan) atas perintah Nabi ﷺ kepada seorang sahabat. Bentuknya sederhana, hanya memiliki tiga anak tangga. Jaraknya yang dekat dengan dinding menunjukkan bahwa masjid tidak dibangun dengan berlebihan, tetapi sesuai kebutuhan.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan kesederhanaan dalam membangun masjid. Mereka tidak berlebihan dalam menghias atau memperluasnya, karena yang terpenting adalah memakmurkannya dengan ibadah.
2. Pelajaran tentang Kelapangan Shaf
Jarak yang hanya sekadar muat kambing lewat ini juga menunjukkan bahwa shaf pertama (paling depan) sangat dekat dengan dinding kiblat. Para ulama menjelaskan bahwa shaf yang paling utama adalah yang paling dekat dengan imam, dan semakin jauh semakin kurang keutamaannya. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi ﷺ:
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang berada di shaf-shaf pertama." (HR. Abu Dawud no. 678, dari sahabat al-Bara' bin 'Azib)
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa keutamaan shaf pertama ini adalah karena dekatnya dengan imam dan lebih fokusnya hati dalam shalat.
3. Tidak Berlebih-lebihan dalam Membangun Masjid
Hadits ini juga menjadi dalil bahwa membangun masjid tidak perlu berlebihan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa masjid yang dibangun sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan adalah lebih utama, karena tujuan utama masjid adalah untuk shalat dan dzikir, bukan untuk pamer kemegahan.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 449) bahwa Nabi ﷺ bersabda:
"Barangsiapa membangun masjid karena Allah, meskipun hanya seperti sarang burung, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga."
Hadits ini menunjukkan bahwa nilai sebuah masjid di sisi Allah bukan terletak pada kemegahannya, tetapi pada keikhlasan dan manfaatnya bagi kaum muslimin.
4. Adab Menghadap Kiblat dan Posisi Mimbar
Para ulama juga membahas tentang posisi mimbar yang berada di sisi kanan mihrab. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa mimbar Nabi ﷺ berada di sisi kanan mihrab, dan jaraknya yang dekat dengan dinding menunjukkan bahwa mimbar tersebut tidak menghalangi shaf atau mengganggu jamaah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ mulai sering menyampaikan khutbah, beliau biasa berdiri di dekat batang pohon kurma. Ketika mimbar kayu pertama dibuat, beliau pindah ke mimbar tersebut. Batang kurma itu menangis karena ditinggalkan, hingga Nabi ﷺ turun dan mengusapnya.
Kisah ini menunjukkan betapa sederhananya sarana ibadah pada masa itu, namun penuh keberkahan. Para sahabat tidak pernah mengeluh tentang kesederhanaan ini. Bahkan ketika Masjid Nabawi diperluas di masa Khalifah Utsman bin Affan, beliau tetap menjaga kesederhanaan dan tidak berlebihan dalam pembangunannya.
Imam al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan masjid-masjid mereka sederhana, tetapi hati mereka penuh dengan iman. Dan kalian menjadikan masjid-masjid kalian megah, tetapi hati kalian kosong dari iman." (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf)
Kesimpulan Praktis
- Menjaga kesederhanaan dalam membangun masjid dan sarana ibadah lainnya, tidak berlebihan dalam hiasan dan kemegahan.
- Menjaga kelapangan shaf dan tidak mengganggu jamaah dengan meletakkan barang atau menghalangi jalan.
- Bersegera ke shaf pertama karena keutamaannya yang besar di sisi Allah.
- Memakmurkan masjid dengan ibadah, dzikir, dan menuntut ilmu, bukan hanya dengan bangunan yang megah.
- Meneladani Nabi ﷺ dalam kesederhanaan dan keikhlasan dalam beribadah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.