Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1022 tentang Hukum sujud sahwi karena lupa jumlah rakaat shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah lupa dalam shalat dan beliau shalat lima raka'at pada shalat yang empat raka'at. Ketika para sahabat mengingatkan, beliau tidak marah, melainkan mengakui bahwa beliau manusia yang bisa lupa, lalu beliau menambal kekeliruan itu dengan dua sujud (sujud sahwi) sebelum salam. Ini menunjukkan bahwa lupa dalam shalat adalah hal yang mungkin terjadi, dan syariat telah memberikan jalan keluar berupa sujud sahwi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab "Jika Shalat Lima Raka'at", dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz yang semakna, sehingga termasuk hadits yang shahih dan disepakati keabsahannya.

Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan bahwa manusia itu tempatnya lupa dan salah:

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ

"Dan Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Kahfi [18]: 58)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang keliru, termasuk kekeliruan dalam ibadah yang tidak disengaja.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya sujud sahwi ketika terjadi kelupaan dalam shalat, baik karena kelebihan raka'at maupun kekurangan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pun bisa lupa, namun Allah tidak membiarkan beliau tetap dalam kelupaan, melainkan para sahabat diarahkan untuk mengingatkan beliau.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Lupa adalah sifat manusia. Nabi ﷺ bersabda: "إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ" — "Sesungguhnya aku hanyalah manusia, aku lupa sebagaimana kalian lupa." Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ucapan ini menetapkan bahwa lupa bukanlah cela bagi seorang hamba, karena itu bagian dari tabiat manusia. Yang tercela adalah terus-menerus lalai tanpa memperbaiki.

Kedua: Kelebihan raka'at karena lupa ditambal dengan sujud sahwi. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ shalat lima raka'at pada shalat yang seharusnya empat raka'at. Ketika para sahabat memberitahu, beliau tidak mengulangi shalat dari awal, melainkan cukup melakukan dua sujud sahwi lalu salam. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa sujud sahwi dilakukan untuk menambal kekurangan atau kelebihan yang terjadi karena lupa, dan ini berlaku baik sebelum maupun sesudah salam sesuai keadaan.

Ketiga: Adab mengingatkan pemimpin. Para sahabat tidak langsung memotong shalat Nabi ﷺ, tetapi menunggu hingga beliau selesai, lalu berbisik di antara mereka dan menyampaikan dengan cara yang santun. Ini menunjukkan adab dalam mengingatkan, terutama kepada orang yang berilmu dan berkedudukan.

Keempat: Perbedaan pendapat tentang letak sujud sahwi. Sebagian ulama seperti Imam Asy-Syafi'i berpendapat bahwa sujud sahwi dilakukan sebelum salam jika kekurangan, dan setelah salam jika kelebihan. Namun dalam hadits ini, Nabi ﷺ melakukan sujud sahwi sebelum salam meskipun kasusnya kelebihan raka'at. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa sujud sahwi bisa dilakukan sebelum atau sesudah salam, dan keduanya sah. Yang paling kuat menurut dalil adalah mengikuti apa yang dilakukan Nabi ﷺ dalam hadits ini, yaitu sujud sahwi sebelum salam, karena itu yang beliau praktikkan secara langsung.

Kelima: Tidak ada cela bagi yang lupa. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menegaskan bahwa syariat Islam dibangun atas kemudahan dan tidak membebani hamba di luar kemampuannya. Lupa yang tidak disengaja dimaafkan, dan sujud sahwi adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Story Telling

Dikisahkan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, suatu hari Rasulullah ﷺ shalat bersama para sahabat. Beliau shalat lima raka'at, padahal shalat tersebut seharusnya empat raka'at. Setelah beliau salam, para sahabat saling berbisik pelan, saling bertanya satu sama lain. Nabi ﷺ yang melihat kebingungan mereka bertanya: "Ada apa dengan kalian?"

Dengan penuh adab, mereka menjawab: "Wahai Rasulullah, apakah shalat ini ditambah raka'atnya?" Beliau menjawab: "Tidak." Mereka pun berkata: "Sesungguhnya engkau telah shalat lima raka'at."

Mendengar itu, Nabi ﷺ tidak marah, tidak malu berlebihan, dan tidak menyalahkan siapa pun. Beliau dengan tenang menghadap kiblat, melakukan dua sujud, lalu salam. Setelah itu beliau bersabda dengan lembut: "Sesungguhnya aku hanyalah manusia, aku lupa sebagaimana kalian lupa."

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa seorang pemimpin sekalipun bisa keliru, dan yang terpenting adalah bagaimana ia memperbaiki kekeliruan itu dengan cara yang diajarkan syariat. Para sahabat pun mengajarkan kita adab dalam mengingatkan: tidak dengan hardikan, tetapi dengan pertanyaan yang lembut dan penuh hormat.

Kesimpulan Praktis

  1. Jika kita lupa dalam shalat — baik kelebihan atau kekurangan raka'at — hendaknya melakukan sujud sahwi sesuai tuntunan Nabi ﷺ.
  2. Sujud sahwi dilakukan dua kali, dan menurut hadits ini dilakukan sebelum salam.
  3. Lupa bukanlah aib, tetapi yang penting adalah segera memperbaiki dan tidak mengulangi dengan sengaja.
  4. Ketika mengingatkan orang lain yang keliru, gunakan cara yang santun dan penuh adab, terutama kepada orang yang lebih tua atau berilmu.
  5. Hendaknya kita selalu berdoa agar Allah menjaga shalat kita dari kekeliruan dan menerima amal ibadah kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?